Thursday, September 18, 2008

Profesionalisme?

Anda menemukan iklan di koran mengenai program pasang telepon kabel gratis untuk memperingati hari kemerdekaan RI yang ditawarkan oleh perusahaan telekomunikasi milik negara. Anda lalu bergegas mendaftar. Sampai minggu ke-tiga tidak ada kabar berita. Tiba-tiba anda ditelpon oleh seorang “oknum” yang mengaku sebagai surveyor di perusahaan negara tersebut. Pertama tentu senang kan, mengira bahwa ada kabar baik tentang pendaftaran anda. Ternyata sebaliknya. Si “oknum” berpanjang lebar menjelaskan bahwa jalur telepon di sekitar rumah anda sudah habis dan kalau memang masih berminat untuk memasang telepon kabel anda harus menarik kabel sendiri dan biayanya “satu setengah juta, bu”. Sebelnya lagi, sehari setelah menerima telepon dari “oknum” tersebut anda mendengar bahwa dua orang tetangga yang rumahnya persis di belakang anda malah sudah mendapat sambungan tanpa uang “satu setengah juta”.

Bagaimana caranya melampiaskan kedongkolan anda? Saya sih langsung mutung (patah arang), ngapain juga ikut permainan mereka, penyedia jasa telkom yang lain masih banyak. Tapi suami saya lebih strategis dalam mengelola tekanan darahnya yang tinggi. Dia balik “meneror” pihak BUMN tersebut dengan terus menelpon dan sedikit bluffing mau menulis kasus ‘percobaan penipuan’ ini di surat pembaca sebuah koran lokal. Hasilnya: seminggu kemudian telepon sudah terpasang di rumah kami hanya dengan membayar sembilan-puluh-sembilan-ribu-rupiah instead of “satu setengah juta”. Who’s the pro, bro?

3 comments:

kartun united said...

salam kenal ya....

ken said...

salam kenal jg mbak. Lagian ngapain juga repot2 pasang telpon. Kan dah ada HP, flash modem.... hehehehe...

sushartami said...

@kartun united: salam kenal juga...
@ken: kalo gak punya telpon rumah rasanya gimanaa, gitu... hehe. salam kenal juga...