Monday, January 21, 2008

Negeri Perempuan

Kepenatan kadang membuat saya melamun....

Tentang sebuah kisah imajiner: negeri yang dikuasai perempuan. Baru seratus tahun sebelumnya nenek-nenek dari perempuan-perempuan yang sekarang berkuasa ini adalah warga negara yang selalu dipinggirkan dan diberangus hak-hak ekonomi, politis, sosial, budaya, spiritual, dan seksualnya. Hingga muncullah seorang heroine—jangan dibayangkan serupa Xena atau Joan d’Arc yang gagah berani untuk berperang—melainkan seorang perempuan lemah yang sudah berulang kali ditipu dan dipukuli suaminya. Baginya dunia adalah perang tak henti antara dirinya dan suaminya. Sampai akhirnya dia tahu dia tidak sendiri sehingga dunia baginya berubah menjadi perang tak henti antara laki-laki dan perempuan.

Mereka, perempuan-perempuan itu, lantas berkumpul dan berpendapat secara sembunyi-sembunyi—karena seratus tahun sebelumnya hak-hak untuk berkumpul dan berpendapat hanya diberikan kepada para laki-laki. Mereka pun menyusun siasat perang. Perlawanan yang dirundingkan secara gerilya oleh para perempuan pejuang ini pun tidak kalah subtil; di dapur, di kasur dan di sumur—tempat-tempat dimana seratus tahun sebelumnya merupakan dunia yang diciptakan untuk mereka, hanya untuk mereka. Mereka mogok seks, mogok masak, dan mogok mencuci baju. Sehingga para laki-laki yang biasanya bisa tenang bekerja dan bermain menjadi gelisah karena bajunya kotor semua, pusing karena berhari-hari tidak dapat jatah di tempat tidur (jangan lupa: para perempuan pekerja seks komersial juga mogok), dan tentu saja kelaparan. Dalam kelemahan itulah, dan ketidaktahuan akan apa yang terjadi, perempuan muncul merebut kekuasaan.

Lalu apa yang sebaiknya kita lakukan kepada mereka? Tanya sebagian perempuan. Sebagian langsung menjawab: hukum cambuk! Diarak bugil! Denda 100 juta kali 100 (seratus tahun sebelumnya angka seratus juta ini sungguh besar)! Tapi seseorang berpikir hukuman seperti yang disebutkan itu hanya bersifat reaksioner dan tidak akan dapat membuat kekuasaan mereka menjadi lebih kuat. Kita rubah undang-undang dan peraturannya saja! Karena itulah alat kekuasaan kita yang akan berumur panjang! Ya! Ya! Undang-undang Perkawinan saja! Undang-undang anti Pornografi! Undang-undang anti kekerasan domestik direvisi juga: tambahkan hukuman bagi laki-laki pemerkosa! Peraturan daerah anti pelacuran juga!

Penjara dengan segera menjadi penuh karena perempuan-perempuan yang dulunya dipukuli, diperkosa, diperas keringatnya segera mengadukan kasus mereka pada persidangan yang juga dipimpin oleh perempuan.

Jika imajinasi meliar, siapa yang bisa melarang? hehehe.....

11 comments:

peregrin said...

ah... ngeblog lagi akhirnya :D hehehhe ... sudah lama ditunggu2 nih mbak, tulisan2-nya :D

oya mbak, ternyata di swiss itu soal perempuan lebih parah dari dugaanku ... barusan dengar, misalnya, ada peraturan (national law) kalo seorang istri ingin KB vasektomi (eh bener ga tulisannya? yg diikat tuba fallopii-nya), dia harus ada surat persetujuan dari suaminya ... padahal kalo yg suami yg mo KB tubektomi, ga harus ada persetujuan istrinya :P parah nggak ...

Di area Appenzell, sampai awal th 90, perempuan tidak punya hak untuk ikut voting. Secara nasional, perempuan bisa voting sudah (atau baru?) sejak th 71. Tapi, karena tiap kanton bisa bikin aturan sendiri2, th 90 area Appenzell ini terpaksa dipaksa oleh negara untuk memperbolehkan perempuan ikut voting. Parah....

peregrin said...

*kebalik ternyata yah, yg utk cewe itu yg tubektomi, utk cowo vasektomi ... ah tomi... :P

sushartami said...

iya rat, ternyata ngeblog bisa ngangeni juga :D
Ceritamu tentang perempuan di Swiss itu menarik juga ya. Sebetulnya kalo dari segi hukum atau peraturan yang melindungi perempuan, bisa dibilang di Indonesia lumayan maju ...maar in praktijk...hehe...
Tentang si tomi, emang ya kalo make nama-nama tomi itu kok biasanya bikin masalah aja :D.

gogol said...

Kelihatannya keadaan bakal menjadi ga terlalu bagus (utk laki2?) kalao kaum perempuan berkuasa. So, aku harus mulai berpikir utk mencari cara2 yg cerdik (utk tidak menyebut licik) guna mempertahankan hegemoni laki2, et lis dirumah sendiri hehehehe

sushartami said...

you'd better think quick, sebelum para perempuan di rumahmu tergoda untuk bergabung dengan mereka, :D

exike said...

:: just browse n found ur blog... nice material to read... thanks

sushartami said...

thanks for dropping by...

Ngijo said...

shalom,
aq boleh gabung kan? em.. ni saatny kita mikir apa yg bisa dlakukan bwt Indonesia, coz cerita itu bs aja terjadi, laki-laki en perempuan harus saling menghormati en waktuny bangkit en peduli akan keadaan bangsa ini.

sushartami said...

boleh...boleh gabung kok... en thanks atas comment-nya. salam kenal.

Anonymous said...

Is it "Negeri Perempuan" written by Kadek Sonia Piscayanti????
I've played this theater scenario on April 2005 in Art Center Denpasar...

sushartami said...

I'm sorry, I wasn't even aware that there was such a play titled 'Negeri Perempuan'. It was purely my own day-dreaming. Bet it must be thought by many other women (and men, too?). Thanks for the info.