Wednesday, March 28, 2007
Pulang
Permohonan perpanjangan visa yang saya kirim ke IND (pernah saya posting) delapan bulan lalu baru seminggu ini ditolak. Konsekuensinya: saya harus pulang dalam waktu 'vier weken' (empat minggu) plus '28 dagen' (28 hari) atau saya mengajukan banding. Tapi pilihan kedua bukan favorit saya karena saya harus menyiapkan energi dan waktu yang tidak tahu sampai kapan untuk itu. Even to think about it is already exhausting.
Setidaknya saya belajar banyak bagaimana kantor imigrasi Belanda bekerja: mereka membutuhkan waktu delapan bulan untuk 'mendepak' seseorang dan hanya memberikan empat minggu pada orang tersebut untuk mempersiapkan bahan appeal, atau selanjutnya 28 hari untuk berkemas dan pergi. Berapa banyak hak dan privilege dari seseorang yang hilang karena proses menunggu keputusan itu, sama sekali mereka tidak pikirkan. Bayangkan, hampir separuh waktu yang sebetulnya menjadi hak saya untuk memiliki ijin tinggal hilang begitu saja, berarti juga begitu banyak privilege saya ikut hilang.
Saya sedang menyusun surat keberatan, walaupun sebetulnya saya tidak peduli lagi dengan hasilnya dan mau cepat-cepat pergi saja. Mungkin anda bisa memberikan masukan apa yang harus saya tulis disitu?
Sunday, March 18, 2007
Maaf dan Masa Depan
Kalau ke gereja hari Minggu pagi, sering saya jadi melamun sendiri begitu pasturnya memberikan khotbah. Disamping kadang nggak ngerti apa yang dia omongin dalam bahasa Belanda, juga kadang khotbah di sini kalah 'up to date' dengan yang di Indonesia, dimana isu-isu real di masyarakat seringkali dikemas dengan menarik untuk membahas cuplikan kitab suci yang dibaca pada hari tersebut. Tapi tadi pagi saya langsung pasang kuping ketika si pastur membuka khotbahnya dengan kalimat "wie vergeeft gelooft in de toekomst" (barang siapa memaafkan berarti dia percaya pada masa depan). Tapi setelah kalimat ini saya kembali melamun sendiri karena kuping saya terlalu capek mengikuti bahasa Belanda yang tidak begitu jelas (untuk saya tentunya) :).
Saya termasuk orang yang percaya kata maaf bisa membantu melupakan masa lalu yang menyakitkan. Tentu jika masa lalu tidak dilihat sebagai sesuatu yang tak terubahkan, melainkan sesuatu yang kita ‘ingat’. Sebesar atau sekecil apa kesalahan orang lain bisa kita maafkan? Ataukah semua kesalahan pada intinya termaafkan? Apa batas memaafkan dengan melupakan? Kadang kita dengar orang bilang: "termaafkan tapi tidak terlupakan". Tapi apa bedanya?
"Politik memaafkan" (the politics of forgiveness) tidak hanya berlaku pada isu-isu besar di wilayah-wilayah paska konflik yang tidak bisa tidak harus lebih mempertimbangkan rekonsiliasi sebagai prasyarakat perbaikan keadaan. Untuk kasus-kasus yang melibatkan figur publik, memaafkan juga bisa jadi sebuah strategi politis yang tidak bisa dipisahkan dari posisi meeka. Jika Hillary Clinton memaafkan suaminya yang selingkuh, hal ini kemungkinan besar sudah melewati sebuah pertimbangan politis. Mungkin demikian juga dengan teh Ninih.
Politik memaafkan juga berlaku pada kehidupan sehari-hari kita. Intinya, memaafkan atau tidak memaafkan bisa jadi sebuah strategi yang pada akhirnya harus dipertimbangkan, kalaupun tidak untuk orang lain, ya untuk diri sendiri agar kita bisa melanjutkan kehidupan.
Seseorang yang saya kenal pernah mengalami masa pahit dikhianati oleh pasangannya. Setelah beberapa hari mengurung diri saja di rumah, dia muncul dengan sebuah resolusi yang luar biasa. Katanya "saya memaafkannya karena sebetulnya dia tidak tahu kehilangannya sendiri". Lalu, suatu hari ibu saya pernah ditipu uang oleh seseorang. Jumlahnya bagi beliau terasa besar sekali nilainya karena itu adalah hasil jerih payah. Setelah berhari-hari merasa sedih, beliau pada akhirnya berucap: "saya memaafkannya karena kasihan bahwa dia harus hidup dengan menipu orang lain".
Jika kita sedang begitu marah, putus asa, dendam ataupun kecewa atas perbuatan orang lain, mungkin memang tidak ada yang bisa kita lakukan supaya kita bisa melanjutkan hidup kecuali kita berhenti sejenak (seperti masa transisi), memaafkan, mengingat masa lalu yang berbeda dan move on .
S/he who forgives believes in the future.
Sunday, March 11, 2007
Nggak Mutu
Pertama, jadi nyadar bahwa betatapun besar ruang yang kita miliki, kita pasti akan menemukan cara untuk membuatnya penuh. Giliran harus di'pepet' ke ruang yang lebih kecil dan sebagian besar barang sudah dibuang atau dibungkus, ternyata kita masih tetep juga bisa hidup (dengan sama-sama nyaman) tanpa barang-barang tersebut. Jadi, selama ini barang-barang yang ditumpuk itu gunanya apa ya?
Kedua, ternyata hidup kost dalam satu kamar saja (jadi inget) ada enaknya juga. Dari tempat tidur langsung bisa lompat ke meja dan membuka laptop. Semua buku ada dalam jangkauan tanpa harus keluar kamar. Hanya saja, karena kamar kost baru tidak berlangganan Internet, sekarang hanya bisa update blog kalau pas wireless-nya tersambung dengan baik.
Ketiga, tidak lagi harus membersihkan seluruh rumah. Kalaupun rumah harus dibersihkan, bisa berbagi atau gantian dengan anak kost yang lain. Mmm... itulah kenapa pekerjaan mengurus rumah seharusnya dihargai lebih tinggi lagi dan lebih mahal soalnya menghabiskan waktu.
Keempat, saya jadi tidak harus sering-sering ngundang orang makan malam, alasannya: "ga ada tempat nih", atau "pemilik rumah ga seneng ada pesta-pesta di rumah", hehe.
Tapi ya itu, jangan melongok bawah tempat tidur saya, karena sudah berubah fungsi menjadi lemari serbaguna :D.
Wah, posting kali ini ga mutu banget ya. Tapi saya tetap berharap ada gunanya juga buat anda yang sudah buang-buang waktu melongok blog ini, yaitu belajar dari pengalaman saya: "size doesn't matter", hehe....

