Saturday, February 24, 2007

Lika-liku Permalingan Sepeda

Barusan saya kehilangan speedometer sepeda saya. Sebelnya karena sebelum saya parkir dan tinggal jalan-jalan di openmarkt (pasar 'tradisional' yang di Leiden buka pada hari Rabu dan Sabtu), saya sudah punya 'feeling' akan ada yang salah dengan speedometer itu jika tidak saya lepas. Hampir saja saya melepasnya tapi suami bilang 'nggak usah'. Akhirnya, ya saya tinggalkan saja. Selesai belanja, apes banget, sudah lebih dulu dilepas maling. Tambah sebelnya lagi sebetulnya speedometer ini adalah hadiah ulang tahun saya untuk suami. Barusan dipindah di sepeda saya karena sepedanya mau dia jual. Udah susah-susah nyari ide hadiah, keluar masuk toko, ngeluarin duit, eh dicuri orang lagi.

Ada kemungkinan, si maling mau mencuri sepedanya tapi karena saya pasang dua gembok di ban depan dan belakang, makanya speedometernya yang jadi sasaran berikutnya. Kemungkinan yang lain, si maling adalah juga korban maling speedometer sebelumnya karena speedometer ini tidak bisa dipakai lagi jika tidak ada dudukannya (apa sih namanya?) yang di-sekrup di sepeda.

Sepeda saya dinaikin Lani dan Santi (kalau suatu hari dimaling orang dan anda melihatnya di jalan dinaikin seseorang, anda bisa melaporkannya ke saya, hehe...)

Maling sepeda di Leiden sudah menjadi bagian dari denyut nadi kota ini. Anekdot yang beredar adalah jika kita kehilangan sepeda dan melapor pada polisi, maka kita akan dianjurkan untuk gantian mencuri sepeda orang lain :D. Untuk sepeda-sepeda mahal (yang harganya ratusan bahkan ribuan euro) biasanya ada nomer seri dan diasuransikan.

Beberapa tahun lalu saya juga kehilangan sepeda yang baru saya beli (walaupun sepeda bekas). Waktu itu saya barusaja membayar 100euro pada teman yang menjualnya dan belum sempat saya pakai. Saya simpan di garasi (sepeda) yang ada di kantor dan saya kunci. Meski begitu masih saja ada yang mencurinya padahal akses ke garasi itu hanya orang-orang yang bekerja di gedung kantor kami. Waktu saya lapor pada huismeester (kepala security) gedung kami, katanya "there's nothing we can do".


Teman saya yang seorang dokter dan bekerja di LUMC (Leids Universitair Medisch Centrum) bahkan sudah berkali-kali kehilangan sepedanya yang dia parkir di halaman rumah sakit (foto di atas). Beberapa waktu lalu dia menunjukkan segepok kunci gembok sepeda yang masih dia simpan. Maling sepeda di sini, jangan diremehkan ya, ada yang keliling-keliling membawa gunting besar untuk memotong gembok sepeda. Jadi sebaiknya sepeda dikunci dengan gembok rantai yang guedhe banget atau, seperti saya, dengan dua gembok. Ada teman saya bahkan membeli gemboknya seharga dengan sepedanya :D.

Satu hal yang lain, maling sepeda di Leiden (mungkin kota-kota lain di Belanda) seringnya adalah para junkies. Kalau anda lagi jalan-jalan, jangan terkejut kalau tiba-tiba ada seseorang naik sepeda sambil menjajakan sepedanya "fietsen...fietsen". Kalau mau beli dari mereka harganya sangat murah, bisa cuma 10 atau 20 euro saja (pokoknya asal cukup untuk nyimeng sekali). Tapi ya itu, biasanya tidak akan tahan lama pasti hilang lagi. Seorang teman saya pernah sampai dua kali mengalaminya. Suatu hari dengan bangga dia memamerkan sepedanya, "sepedaku nih, murah", tahunya paginya sudah balik jalan kaki lagi karena sepeda sudah dimaling :D.

Pernah suatu hari saya melihat ada seorang perempuan sedang naik sepeda dengan santainya. Tiba-tiba di belakangnya ada satu perempuan dan satu laki-laki lari-lari mengejar sambil teriak-teriak. Si perempuan yang mengejar berhasil meraih ujung goncengan dan si laki-laki memegang tangan perempuan yang naik sepeda. Mereka beradu mulut sebentar, tapi kemudian terjadi pengambilalihan sepeda. Rupanya perempuan yang naik sepeda itu mencuri sepeda milik perempuan yang ngejar-ngejar. Tapi semua berakhir dengan damai. Si maling pun berlalu sambil ngoceh. Sebenarnya saya agak kecewa juga kok ngga ada drama-dramanya, hehehe......





Sunday, February 18, 2007

(Laki-laki) Feminiskah Anda?

Apa atau siapakah feminis itu? Tidak ada definisi tunggal mengenai apa atau siapa feminis itu karena ada banyak latar belakang seseorang menjadi feminis, misalnya: latar belakang opresi ekonomi, pilihan seksual, kolonialisme, diskriminasi rasial, dsb. Tetapi latar belakang "ketidakadilan"-lah yang menjadi payung besar kategorisasi feminis maupun feminisme. The Dictionary of Feminist Theory (Maggie Humm) menuliskan bahwa seorang feminis adalah:

"a feminist is a woman who recognises herself, and is recognised by others, as a feminist. That awareness depends on a woman having experienced consciousness-raising, a knowledge of women's oppression, and a recognition of women's differences and communalities. ..... all feminists share a commitment to, and enjoyment of, a woman-centred perspective" (1995: 95).

Dengan kata lain, setiap perempuan bisa menjadi feminis jika dia mengenali bahwa ada ketidakadilan terhadap perempuan dan bahwa tiap-tiap perempuan itu berbeda tapi juga mungkin berbagi pengalaman yang sama dengan perempuan lain. Yang lebih penting, seorang feminis mempunyai komitmen untuk 'memikirkan perempuan'.

Jika anda ingin menguji tingkat kefeminisan anda (jangan keliru dengan kefemininan, ya) mungkin anda bisa membaca dan memberikan persetujuan/pertidaksetujuan terhadap pernyataan-pernyataan di bawah ini (sumber: Jurnal Perempuan edisi 12/1999, hal. 21).


Menjadi feminis tidak perlu dibayangkan harus menjadi 'seperti laki-laki' atau sebaliknya 'membenci laki-laki', tetapi tahu bahwa sebagai seorang perempuan, kita lebih dulu adalah seorang manusia. Pada praktek sehari-hari, jika anda sudah menikah, mempertahankan hak anda menjadi isteri satu-satunya (jika ini adalah bagian dari komitmen pernikahan anda) adalah sah-sah saja. Menuntut suami anda untuk setia pada anda (jika ini juga menjadi bagian dari komitmen pernikahan anda) juga sah-sah saja. Jika anda sadar bahwa anda adalah manusia, yang walaupun berjenis kelamin perempuan, tetap mempunyai hak untuk dihormati oleh suami anda (tidak hanya berkewajiban menghormatinya), maka anda sudah menjadi seorang feminis.

Mudah kan jadi feminis? Jadi, menurut saya adalah wajar kalau kita mengharapkan setiap perempuan menjadi feminis, setidaknya untuk diri sendiri. Tapi kalau mengharapkan laki-laki menjadi feminis apa mungkin? Tidakkah jika dua kata 'male' dan 'feminis' digabung hanya akan menghasilkan oxymoron 'male-feminis'? Namun demikian ada sebagian orang yang percaya pro-feminist men memang benar-benar ada.

Ada banyak contoh di Indonesia beberapa laki-laki yang 'memikirkan perempuan'. Tiga tahun lalu, ketika Polygamy Award sedang akan diadakan oleh self-proclaimed presiden poligami Puspowardoyo, seorang laki-laki menuliskan ketidaksetujuannya di harian Republika. Penolakannya ini pun masih dia pertegas lagi sebulan berikutnya di harian yang sama. Waktu-waktu berikutnya laki-laki ini dikenal sebagai "Dosen FISIP UI, salah satu anggota Komisi Penyiaran Indonesia, penulis Jurnal Perempuan, narasumber dalam sosialisasi YJP tentang “Remaja Perempuan Melek Media” dan narasumber kampanye 16 hari “Anti Kekerasan terhadap Perempuan”".

Tetapi sayang sekali, pada akhirnya, laki-laki ini tidak mampu untuk tidak berpoligami, walaupun, ironisnya, tiga tahun yang lalu dengan sangat meyakinkan menyatakan penolakannya untuk kawin lagi dengan alasan "Ya maaf sajalah, saya terlalu mencintai istri dan anak-anak saya".

Male feminist: maybe it's just a too-good-dream-to-be-true (sigh).

Saturday, February 17, 2007

Referendum Lagi?


Beberapa waktu lalu saya memposting mengenai referendum berbelanja di hari Minggu di Leiden. Hasilnya, untuk yang di luar singel, toko-toko hanya boleh buka 12 kali hari Minggu setahunnya atau satu kali hari Minggu setiap bulannya. Sedangkan toko-toko di dalam wilayah singel boleh buka setiap hari Minggu sepanjang tahun. Sebetulnya memang lumayan menyenangkan kalau hari Minggu suasana kota menjadi sangat-amat tenang dan sunyi, tapi apa ya memakai alasan religius masih relevan?

Tiga hari lalu kami menerima lagi krant (koran) dari pemerintah kota Leiden mengenai referendum untuk membuat jalur RGL (RijnGouwelijn), semacam trem yang akan beroperasi menembus jantung kota Leiden. RGL direncanakan akan menggantikan jalur bis yang menembus pusat kota atau disebut centrum yang melintas antara batas tenggara dan barat laut Leiden, dengan panjang rel sekitar 6 KM. Proyek ini diperkirakan akan menghabiskan dana 170 juta euro.

Referendum akan dilaksanakan pada tanggal 7 Maret. Yang boleh ikut memilih adalah warga negara Belanda dan warga negara Uni Eropa yang bermukim di Leiden. Orang asing juga boleh ikut memilih jika sudah tinggal selama lebih dari lima tahun di Belanda dan terdaftar sebagai warga Leiden.

Beberapa orang pun ditanyai mengenai pendapat mereka. Koran RGL memberi "top ten" argumen untuk pro dan kontra RGL, yaitu:

Pro RGL:
1. Untuk membuat Leiden lebih mudah diakses
2. Trem bisa menjadi alat transportasi publik yang cepat dan nyaman
3. Merangsang perekonomian
4. Tidak akan mempengaruhi frekuensi jalur bis yang melewati Leiden
5. Breestraat (ini Malioboronya Leiden--dengan lebar badan jalan yang tidak jauh beda) akan menjadi lebih atraktif
6. Mengurangi kemacetan di pusat kota
7. Akan membuat kota lebih aman (dengan pertimbangan bis akan saling berpapasan sedangkan trem hanya satu rel bolak-balik)
8. Kualitas udara yang lebih bersih
9. Agar Groene Hart (ini adalah wilayah dalam dari area yang disebut Randstad-- atau ring kota-kota padat/sibuk di Belanda: Rotterdam, Den Haag, Leiden, Haarlem, Amsterdam dan Utrecht --yang daerahnya lebih sedikit populasinya) tetap terbuka karena perumahan, pertokoan dan perkantoan bisa dipusatkan di sekitar halte-halte RGL
10. Trem lebih murah daripada bis.

Sementara yang kontra RGL berargumen:
1. Tidak ada yang minta RGL!
2. RGL lebih mahal dan hanya menjadi proyek politisi saja
3. RGL mengganggu jalur bis dan kita jadi tidak bisa lagi naik bis di dalam kota
4. RGL mengganggu jalur sepeda
5. RGL bisa merugikan toko-toko di Breestraat karena pengunjung akan berkurang (dengan asumsi akan lebih sedikit orang yang datang dengan trem daripada dengan bis digabung dengan yang naik sepeda)
6. RGL juga akan mengacaukan daerah-daerah lain di Leiden di luar pusat kota
7. RGL tidak cukup aman
8. Rel RGL terlalu besar untuk ukuran badan jalan di kota
9. RGL tidak memecahkan masalah malah menambah masalah yang baru (salah satunya mengenai kacaunya lalu lintas)
10. Lebih baik memperbaiki transportasi yang sudah ada seperti bis, atau memperbaiki sistem parkir bis dan sepeda. Geen trein door de stad! (Kereta dilarang masuk kota!)

Bagus, ya? Dengan diadakan referendum bagi hal-hal yang menyangkut urusan publik warga kota akan bisa merasa memiliki kotanya dengan lebih baik lagi. Cara demokratis begini mungkin juga akan bisa meminimalisasi keributan di masa yang akan datang.

Mungkin kalau sebelum disahkan PP no 37/2006 direferendumkan dulu, kejadiannya tidak akan seperti ini, ya? Di satu sisi rakyat teriak-teriak supaya PP ini direvisi atau bahkan dibatalkan, di sisi lain para anggota DPRD yang terlanjur menerima juga berteriak-teriak menolak untuk mengembalikan uang rapelan yang sudah terlanjur diterima. Bagaimana harus mengembalikan kalau, misalnya, uang sudah terlanjur dipakai untuk kawin lagi :D.

Friday, February 16, 2007

Anti-VD



Dua hari lalu saya berencana menulis posting yang romantis, mungkin malah picisan, untuk ikut-ikutan memeriahkan Valentine’s Day (di bawah nanti saya singkat saja VD, biar nggak kepanjangan--dan VD disini bukan singkatan dari yang lain-lain :D). Tapi kemudian saya merasa malu sendiri; sudah bukan remaja lagi kok mau ikut-ikutan yang masih muda-muda dan lagi asyik-asyiknya berpacaran. Apalagi suami saya seorang yang ‘anti-romantisme’ :D. Jadilah VD tidak ada bedanya dengan hari-hari yang lain.

Ditambah lagi, hari itu saya mendapatkan informasi mengenai situs Anti-VD. yang menyediakan kartu-kartu elektronik bagi mereka yang tidak suka—baik sengaja maupun tidak sengaja—dengan perayaan, yang katanya, hari kasih sayang itu. Saya katakan "sengaja atau tidak sengaja tidak suka dengan VD" karena ada beberapa kemungkinan seseorang menjadi penggiat “anti-VD”: pertama, mungkin dia sangat concerned dengan kapitalisasi VD ini yang, tak ubahnya Natal, perayaannya tidak bisa lagi dipisahkan dengan pengkonsumsian benda-benda yang menurut saya perlu dipertanyakan lagi apa analoginya dengan cinta (emang cinta itu semanis coklat, eh, emang coklat itu manis? Siapa yang mengatakan bahwa pink itu warna cinta? Kalau cinta dilambangkan dengan long stem roses, bunga mawar ini cuma tahan seminggu aja, loh).

Seperti halnya Natal, kalau ini untuk merayakan kelahiran Yesus, lha wong Yesus dulu konon lahir di kandang domba, lha kok sekarang Natal diidentikkan dengan pohon cemara dengan hiasan kristal dan lampu kerlap-kerlip serta kapas-kapas yang ditata seolah-olah salju (bayangkan cemara-cemara ini dipasang di Mall-mall di Singapore, Indonesia, dan negara-negara yang tidak bersalju).

Kedua, mungkin dia 'tidak sengaja tidak suka' pada VD karena sirik saja tidak punya pacar yang bisa dikiriminya kata-kata cinta (atau punya suami yang ‘anti-romantisme’, hehe).

Ketiga, kalau satu hal jadi laris manis, dan mungkin akan segera merajai dunia, selalu saja ada orang yang merasa perlu meniupkan backlash. Misalnya seperti apa yang terjadi pada aktivis feminis di Amerika yang sudah sejak akhir abad lalu disibukkan dengan backlash para kaum ‘anti-feminisme’. Mereka yang mulai ‘kuatir’ jangan-jangan gerakan perempuan benar-benar akan bisa mewujudkan gagasannya tentang dunia yang adil jender mulai mengkampanyekan bahwa feminisme membawa dampak buruk bagi keluarga karena anak-anak jadi terlantar, perempuan-perempuan yang tidak mau menikah dikatakan akan berakhir pada kondisi depresif, dsb.

Kampanye-kampanye ini seolah-olah benar, padahal harus diingat bahwa jika dikatakan perempuan sudah ‘kebablasan’ itu tidak selalu benar. Karenanya, daripada menuduh anak-anak jadi terlantar karena ibu bekerja, kenapa tidak justru memberi solusi dengan menyediakan child care di kantor-kantor yang mempekerjakan perempuan yang mempunyai anak balita? Kalau dikatakan prempuan sudah ‘kebablasan’, kenapa masih saja ada diskriminasi dalam sistem penggajian antara laki-laki dan perempuan? Kenapa korban kekerasan domestik masih saja lebih banyak perempuan?

Itulah backlash, selalu reaksionari. Bisa jadi gerakan anti-VD ini membantu, atau diharapkan membantu, mengerem kegilaan konsumerisasi satu hari dalam bulan Februari ini (walau nggak yakin :)). Tapi bisa jadi juga, karena VD bisa menambah pundi-pundi kekayaan bagi para pemilik modal raksasa, berarti mungkin juga bisa mencipratkan rejeki bagi mereka yang memasarkan ‘anti-VD’.

Maaf, saya tidak bermaksud menggoyahkan iman anda tentang VD. Sebaliknya juga saya tidak bermaksud mengkampanyekan gerakan anti-VD. Tapi ada baiknya juga anda tengok situs anti-VD di atas, setidaknya, mungkin bisa membuat anda tersenyum atau menyindir diri sendiri dengan ungkapan-ungkapan sinis yang ada di sana :D.

Selamat hari Jumat!!


*kartu di atas bersumber dari: http://www2.blogger.com/post-create.g?blogID=24608819

Sunday, February 04, 2007

Ketahuilah....

Seorang kawan lama datang berkunjung, dan gosip pun mulai berseliweran. Di antara begitu banyak cerita mengalir dari masing-masing mulut kami, ada satu cerita datang darinya yang sangat menyentuh. Tentang seorang laki-laki istimewa, kenalan kami berdua.

Laki-laki ini berusia separuh baya, charming, baik hati, dan pintar. Menikah dengan seorang perempuan cantik dan lembut. Mereka dikaruniai beberapa orang anak. Terakhir kali saya ketemu mereka, tujuh tahun lalu, saya masih saja iri dengan isterinya yang selalu nampak apik dan langsing. Tetapi kawan saya yang baru saja mengunjungi pasangan ini bercerita bahwa telah ada begitu banyak perubahan.

Beberapa waktu sebelum hari yang ditentukan untuk kawan saya mengunjungi mereka, dia menerima sebuah pesan pendek melalui sms dari laki-laki kenalan kami ini. Katanya begini: “kau mungkin akan terkejut melihat sebuah perubahan besar nanti, tapi aku akan menghargai jika kau, setidaknya berpura-pura, untuk tidak melihatnya”. Kawan saya sangat penasaran tapi tidak bertanya apa-apa lagi.

Begitu dia sampai di rumah kenalan kami ini, seorang perempuan gemuk dan nampak murung membukakan pintu. Sejenak kawan saya agak ragu-ragu untuk mengenali apakah perempuan ini adalah isteri dari kenalan kami. Tetapi begitu perempuan itu tersenyum, membuka tangan, dan menawarkan pelukan, barulah kawan saya yakin bahwa dialah isteri kenalan kami. Kunjungan berlangsung hangat, hampir tidak ada yang berubah sedikitpun, pasangan ini tetap mesra.

Dua hari setelah kunjungan tersebut, sebuah email datang untuk kawan saya dari kenalan kami ini. Dia hanya menuliskan dua kalimat: “Terimakasih karena engkau begitu peduli untuk tidak menyinggung hati isteriku lagi. Begitu banyak yang telah membuatnya menangis hanya karena perubahan fisiknya.” Banyak cerita didapat kawan saya justru dari orang lain. Isteri kenalan kami ini menjadi gemuk dan kurang merawat penampilannya setelah anak-anak mereka dewasa dan tidak lagi membutuhkan bantuannya. Disamping itu, dia barusaja terpaksa berhenti bekerja untuk merawat kenalan kami yang jatuh sakit.

Ya, seringkali kita tidak sadar telah semena-mena menilai orang lain padahal kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Jika anda adalah laki-laki kenalan kami itu, ketahuilah, apa yang telah anda lakukan tidak saja sangat berarti untuk isteri anda (walaupun dia tidak mengetahuinya), tetapi juga bagi isteri-isteri lain. Apa yang telah anda lakukan, setidaknya bagi saya, telah mengembalikan kepercayaan (walaupun masih agak was-was juga :D) bahwa: “Tidak semua laki-laki.....”

*terinspirasi dari sebuah kisah nyata, walaupun ada sedikit adaptasi pada alur dan pelaku cerita.

Thursday, February 01, 2007

Solidaritas

Anda pernah mendengar anekdot yang mengatakan bahwa persaudaraan antar laki-laki itu sangat kuat sehingga para lelaki bisa rela berbohong kepada perempuan (bahkan pacar atau isterinya) untuk melindungi kepentingan sesama lelaki?

Saya pernah menerima ‘edaran’ lewat email tentang cerita seorang lelaki yang sering berbohong pada isterinya dan teman-temannya yang selalu melindunginya. Ceritanya kira-kira seperti ini, suatu hari seorang isteri ingin membuktikan bisik-bisik teman-temannya bahwa suaminya sering berbohong tentang kerja lemburnya. Ketika satu hari suaminya pulang sore, padahal biasanya dia pulang malam, si isteri iseng ingin membuktikan kabar burung yang sering didengarnya tersebut lantas menelepon salah seorang sahabat karib suaminya dan bertanya “kau tahu di mana suamiku?” Si sahabat langsung menjawab: “Oya, dia ada di sini, lagi agak mabuk, nanti biar kuteleponkan taksi untuk mengantarnya pulang”. Lalu si sahabat ini menelepon HP temannya, yaitu suami si perempuan tersebut, dan berteriak: “Kemana saja kau, isterimu mencari-cari tuh”, padahal dia tepat berada di sebelah isterinya =)).

Ada cerita lain. Saya kenal dengan seorang perempuan yang juga mengeluhkan hal yang hampir sama. Suatu saat dia mengeluhkan sesuatu tentang suaminya kepada sahabat laki-lakinya. Ternyata, walaupun si teman ini adalah temannya dan bukan teman suaminya, tetap saja dia lebih memilih untuk membela suaminya yang sama-sama laki-laki dan malahan menuduh teman saya ini “kebanyakan mau” :D.

Kalau dari dua cerita di atas gender dari subyeknya dibalik, kira-kira akan bagaimana ya ceritanya? Misalnya seorang suami mencari isterinya yang tidak pulang-pulang dan menelepon seorang sahabat perempuan isterinya, apa yang kira-kira akan dikatakan si sahabat isterinya ini? Atau jika seorang suami mengeluhkan tentang isterinya kepada karib perempuannya, apa yang akan dinasehatkan si karib padanya?

Apa ada yang disebut sisterhood? Menurut kamus teori feminis yang ditulis Maggie Humm, sisterhood artinya, kurang lebih, berarti ikatan ide dan pengalaman antar perempuan tanpa mempedulikan kelas, ras, atau asal-usul negaranya. Dan karena ada penyamaan pengalaman maupun identitas sejarah perempun maka dalam konteks ini perempuan jadi kehilangan ‘perbedaan-perbedaan’. Padahal dalam kenyataannya, jika pengalaman dan sejarah keterpinggiran perempuan dalam relasi timpang dengan laki-laki yang dijadikan dasar pengkategorian yang tunggal, sejatinya bentuk-bentuk ketimpangannya itu berbeda-beda dan membawa akibat pada pengalaman perempuan yang berbeda-beda juga.

Oleh karena itu dalam perkembangannya, ketika narasi tunggal tentang feminisme—yang didominasi oleh pemikiran-pemikiran feminis ‘barat’—mulai dipertanyakan oleh kalangan feminis di luar entitas ini, istilah sisterhood pun mulai dipertanyakan juga. Belakangan istilah ‘solidaritas’ lebih dirasa tepat karena tidak mengasumsikan satu narasi tunggal mengenai sejarah dan pengalaman perempuan.

Di sisi lain, jika kita setuju bahwa tatanan dunia sekarang ini masih sangat didominasi oleh ‘laki-laki’, maka ada satu hal yang bisa mematahkan ide-ide dan perjuangan solidaritas antar perempuan yaitu ‘kecemburuan’ antar perempuan. Kecemburuan antar perempuan ini, bisa kita lihat, dikampanyekan secara terus menerus, salah satunya, oleh iklan. Dalam tataran ‘budaya media’, keberlangsungan produksi sebuah sabun mandi saja, misalnya, secara kreatif memanfaatkan dan mengelola kecemburuan antar perempuan.

Delapan atau sembilan tahun lalu, ketika Tamara Bleszinsky baru saja menikah (yang sayangnya baru berakhir beberapa minggu lalu) sabun Lux menjadikannya model iklan. Mungkin ada yang masih ingat iklan televisi tersebut: Tamara berjalan ke arah bath up, lalu menikmati mandinya. Pemirsa pun bisa menikmati bahunya yang putih mulus dan wajahnya yang cantik dan segar. Lalu dia bertanya:“Wanginya, akankah tetap menggoda?”. Di bagian kedua iklan berseri ini, digambarkan Tamara berjalan mendekati Rafli, suaminya, dan tentu saja sudah berpakaian, lalu duduk di atas pangkuannya dan berkata: “Wanginya, cobalah”. Dalam sebuah interview dengan sebuah tabloid, Tamara mengakui bahwa sabun itulah rahasia ketertarikan Rafli “Itu lho rahasia ketertarikan Rafly”, katanya.

Perempuan mana yang idak ingin terlihat secantik dia? Sewangi dia? Yang tidak ingin punya partner se-good-looking partner dia? Untuk memenangkan kompetisi merebut perhatian laki-laki (yang nantinya akan dijadikannya suami, bapak dari anak-anaknya, pencari nafkah dalam keluarganya), perempuan, mau tidak mau, harus bersaing. Kelangsungan hidup perempuan dipertaruhkan untuk mendapatkan senjata yang paling tepat untuk memenangkan persaingan. Bahwa ini hanya masalah sabun mandi (Lux lagi), kekuatan budaya populer dan produser budayalah—dengan menggunakan wajah cantik dan ikon-ikon kemewahan dalam iklan sabun ini—yang mengubahnya (seolah-olah) menjadi sebuah senjata untuk memperbesar kecemburuan antar perempuan, pada satu sisi, dan potensi kekuasaan atas laki-laki, pada sisi lain.

Jadi, balik lagi ke pertanyaan yang tadi: apa yang kira-kira akan dikatakan oleh perempuan jika ditanya oleh suami dari teman perempuannya yang mencari-carinya? Atau apa yang akan dikatakan oleh perempuan jika dicurhati oleh suami dari teman perempuannya?