Kalau ke gereja hari Minggu pagi, sering saya jadi melamun sendiri begitu pasturnya memberikan khotbah. Disamping kadang nggak ngerti apa yang dia omongin dalam bahasa Belanda, juga kadang khotbah di sini kalah 'up to date' dengan yang di Indonesia, dimana isu-isu real di masyarakat seringkali dikemas dengan menarik untuk membahas cuplikan kitab suci yang dibaca pada hari tersebut. Tapi tadi pagi saya langsung pasang kuping ketika si pastur membuka khotbahnya dengan kalimat "wie vergeeft gelooft in de toekomst" (barang siapa memaafkan berarti dia percaya pada masa depan). Tapi setelah kalimat ini saya kembali melamun sendiri karena kuping saya terlalu capek mengikuti bahasa Belanda yang tidak begitu jelas (untuk saya tentunya) :).
Saya termasuk orang yang percaya kata maaf bisa membantu melupakan masa lalu yang menyakitkan. Tentu jika masa lalu tidak dilihat sebagai sesuatu yang tak terubahkan, melainkan sesuatu yang kita ‘ingat’. Sebesar atau sekecil apa kesalahan orang lain bisa kita maafkan? Ataukah semua kesalahan pada intinya termaafkan? Apa batas memaafkan dengan melupakan? Kadang kita dengar orang bilang: "termaafkan tapi tidak terlupakan". Tapi apa bedanya?
"Politik memaafkan" (the politics of forgiveness) tidak hanya berlaku pada isu-isu besar di wilayah-wilayah paska konflik yang tidak bisa tidak harus lebih mempertimbangkan rekonsiliasi sebagai prasyarakat perbaikan keadaan. Untuk kasus-kasus yang melibatkan figur publik, memaafkan juga bisa jadi sebuah strategi politis yang tidak bisa dipisahkan dari posisi meeka. Jika Hillary Clinton memaafkan suaminya yang selingkuh, hal ini kemungkinan besar sudah melewati sebuah pertimbangan politis. Mungkin demikian juga dengan teh Ninih.
Politik memaafkan juga berlaku pada kehidupan sehari-hari kita. Intinya, memaafkan atau tidak memaafkan bisa jadi sebuah strategi yang pada akhirnya harus dipertimbangkan, kalaupun tidak untuk orang lain, ya untuk diri sendiri agar kita bisa melanjutkan kehidupan.
Seseorang yang saya kenal pernah mengalami masa pahit dikhianati oleh pasangannya. Setelah beberapa hari mengurung diri saja di rumah, dia muncul dengan sebuah resolusi yang luar biasa. Katanya "saya memaafkannya karena sebetulnya dia tidak tahu kehilangannya sendiri". Lalu, suatu hari ibu saya pernah ditipu uang oleh seseorang. Jumlahnya bagi beliau terasa besar sekali nilainya karena itu adalah hasil jerih payah. Setelah berhari-hari merasa sedih, beliau pada akhirnya berucap: "saya memaafkannya karena kasihan bahwa dia harus hidup dengan menipu orang lain".
Jika kita sedang begitu marah, putus asa, dendam ataupun kecewa atas perbuatan orang lain, mungkin memang tidak ada yang bisa kita lakukan supaya kita bisa melanjutkan hidup kecuali kita berhenti sejenak (seperti masa transisi), memaafkan, mengingat masa lalu yang berbeda dan move on .
S/he who forgives believes in the future.


4 comments:
aku suka bnaget ama blog mba wiwik yg ini. aku setuju banget sama resolusi cara memaafkan ibu dan temen mba wiwiek. tdk memaafkan dan menyimpan dendam, seperti yg perna ada di chicken soup, rasanya spt membawa karungan kentang berkilo2 kemana2. berat, gada guna, dan kentangnya pun lama2 membusuk. walopun bukan berarti aku org yg dengan mudah memaafkan, dan msh suka gemes sendiri ama hal2 di masa lalu, tp begitu aku bisa melakukan resolusi memaafkan itu, rasanya benar2 hidup ini indah dan jd lbh mudah untuk menjunjung masa depan. ada satu lg, aku perna belajra meditasi vipassana dari india. disitu juga diajarkan untuk melepaskan semua kenegatifan (mara, dendam, kecewa, sedih, dll). dan diajarkan cara melihat semua emosi negatif itu dr sisi yg lain -> bhw semua itu gada gunanya dan cuma melukai diri sendiri. tidak ada kedamaian di dlm hati org yg penuh dendam dan kekecewaan. juga Dr. Phil acara talkshow di tv, blg, bhw seseorg yg mudah terluka dan menyimpan luka tersebut, sebenarnya sudah mengasumsikan dirinya adalah korban (sekalipun reaksinya adalah marah dan bikin takut org yg dimarain). jd inget ttg istilah yg sering diomongin jaman msh kuliah, klo ga ngerasa ejekan yg diomongin org lain ke diri sendiri itu benar, gakkan tersinggung......hehe. benar jg. klo aku dulu dikatain gendut2 tersinggung dan marah, krn tyt aku emang ngerasa gendut. tp begitu aku uda 'terbebas' dari self image gendut2 itu, dikatain kyk gajah pun tetap bisa tertawa...... hahaha...cos i know it is not true. pd akhirnya, efek ke interaksi org lain pun menjadi better.
Setuju banget Vegee. Jadi tertarik nih dengan meditasi vipassana, sayang waktu di Leiden ga sempat belajar darimu. Emang bener sih, sebelum kita bisa memaafkan orang lain, kita harus lebih dulu berdamai dengan diri sendiri.
look whos talking! hehehe bijaksana sekali ya.
kadang aku berpikir (atau merasa) bahwa dendam itu merupakan sesuatu yg harus dipupuk. Biar tetap hidup. Kalau perlu aku akan membuatkan sarang dan membesarkan seribu kalajengking yg penuh bisa di dasar hatiku. (Masa???)
look who's commenting! hehehe....
bisa puitis juga, gol? tidak tahu ya kalau dendam itu merusak badan, ya sama dengan rokokmu itu. hehehe.....
Post a Comment