Anda pernah mendengar anekdot yang mengatakan bahwa persaudaraan antar laki-laki itu sangat kuat sehingga para lelaki bisa rela berbohong kepada perempuan (bahkan pacar atau isterinya) untuk melindungi kepentingan sesama lelaki?
Saya pernah menerima ‘edaran’ lewat email tentang cerita seorang lelaki yang sering berbohong pada isterinya dan teman-temannya yang selalu melindunginya. Ceritanya kira-kira seperti ini, suatu hari seorang isteri ingin membuktikan bisik-bisik teman-temannya bahwa suaminya sering berbohong tentang kerja lemburnya. Ketika satu hari suaminya pulang sore, padahal biasanya dia pulang malam, si isteri iseng ingin membuktikan kabar burung yang sering didengarnya tersebut lantas menelepon salah seorang sahabat karib suaminya dan bertanya “kau tahu di mana suamiku?” Si sahabat langsung menjawab: “Oya, dia ada di sini, lagi agak mabuk, nanti biar kuteleponkan taksi untuk mengantarnya pulang”. Lalu si sahabat ini menelepon HP temannya, yaitu suami si perempuan tersebut, dan berteriak: “Kemana saja kau, isterimu mencari-cari tuh”, padahal dia tepat berada di sebelah isterinya =)).
Ada cerita lain. Saya kenal dengan seorang perempuan yang juga mengeluhkan hal yang hampir sama. Suatu saat dia mengeluhkan sesuatu tentang suaminya kepada sahabat laki-lakinya. Ternyata, walaupun si teman ini adalah temannya dan bukan teman suaminya, tetap saja dia lebih memilih untuk membela suaminya yang sama-sama laki-laki dan malahan menuduh teman saya ini “kebanyakan mau” :D.
Kalau dari dua cerita di atas gender dari subyeknya dibalik, kira-kira akan bagaimana ya ceritanya? Misalnya seorang suami mencari isterinya yang tidak pulang-pulang dan menelepon seorang sahabat perempuan isterinya, apa yang kira-kira akan dikatakan si sahabat isterinya ini? Atau jika seorang suami mengeluhkan tentang isterinya kepada karib perempuannya, apa yang akan dinasehatkan si karib padanya?
Apa ada yang disebut sisterhood? Menurut kamus teori feminis yang ditulis Maggie Humm, sisterhood artinya, kurang lebih, berarti ikatan ide dan pengalaman antar perempuan tanpa mempedulikan kelas, ras, atau asal-usul negaranya. Dan karena ada penyamaan pengalaman maupun identitas sejarah perempun maka dalam konteks ini perempuan jadi kehilangan ‘perbedaan-perbedaan’. Padahal dalam kenyataannya, jika pengalaman dan sejarah keterpinggiran perempuan dalam relasi timpang dengan laki-laki yang dijadikan dasar pengkategorian yang tunggal, sejatinya bentuk-bentuk ketimpangannya itu berbeda-beda dan membawa akibat pada pengalaman perempuan yang berbeda-beda juga.
Oleh karena itu dalam perkembangannya, ketika narasi tunggal tentang feminisme—yang didominasi oleh pemikiran-pemikiran feminis ‘barat’—mulai dipertanyakan oleh kalangan feminis di luar entitas ini, istilah sisterhood pun mulai dipertanyakan juga. Belakangan istilah ‘solidaritas’ lebih dirasa tepat karena tidak mengasumsikan satu narasi tunggal mengenai sejarah dan pengalaman perempuan.
Di sisi lain, jika kita setuju bahwa tatanan dunia sekarang ini masih sangat didominasi oleh ‘laki-laki’, maka ada satu hal yang bisa mematahkan ide-ide dan perjuangan solidaritas antar perempuan yaitu ‘kecemburuan’ antar perempuan. Kecemburuan antar perempuan ini, bisa kita lihat, dikampanyekan secara terus menerus, salah satunya, oleh iklan. Dalam tataran ‘budaya media’, keberlangsungan produksi sebuah sabun mandi saja, misalnya, secara kreatif memanfaatkan dan mengelola kecemburuan antar perempuan.
Delapan atau sembilan tahun lalu, ketika Tamara Bleszinsky baru saja menikah (yang sayangnya baru berakhir beberapa minggu lalu) sabun Lux menjadikannya model iklan. Mungkin ada yang masih ingat iklan televisi tersebut: Tamara berjalan ke arah bath up, lalu menikmati mandinya. Pemirsa pun bisa menikmati bahunya yang putih mulus dan wajahnya yang cantik dan segar. Lalu dia bertanya:“Wanginya, akankah tetap menggoda?”. Di bagian kedua iklan berseri ini, digambarkan Tamara berjalan mendekati Rafli, suaminya, dan tentu saja sudah berpakaian, lalu duduk di atas pangkuannya dan berkata: “Wanginya, cobalah”. Dalam sebuah interview dengan sebuah tabloid, Tamara mengakui bahwa sabun itulah rahasia ketertarikan Rafli “Itu lho rahasia ketertarikan Rafly”, katanya.
Perempuan mana yang idak ingin terlihat secantik dia? Sewangi dia? Yang tidak ingin punya partner se-good-looking partner dia? Untuk memenangkan kompetisi merebut perhatian laki-laki (yang nantinya akan dijadikannya suami, bapak dari anak-anaknya, pencari nafkah dalam keluarganya), perempuan, mau tidak mau, harus bersaing. Kelangsungan hidup perempuan dipertaruhkan untuk mendapatkan senjata yang paling tepat untuk memenangkan persaingan. Bahwa ini hanya masalah sabun mandi (Lux lagi), kekuatan budaya populer dan produser budayalah—dengan menggunakan wajah cantik dan ikon-ikon kemewahan dalam iklan sabun ini—yang mengubahnya (seolah-olah) menjadi sebuah senjata untuk memperbesar kecemburuan antar perempuan, pada satu sisi, dan potensi kekuasaan atas laki-laki, pada sisi lain.
Jadi, balik lagi ke pertanyaan yang tadi: apa yang kira-kira akan dikatakan oleh perempuan jika ditanya oleh suami dari teman perempuannya yang mencari-carinya? Atau apa yang akan dikatakan oleh perempuan jika dicurhati oleh suami dari teman perempuannya?
9 comments:
Emang udah naluri dan bakat.
(tanya ke suami deh!)
(";)
Gitu ya? Iya deh, ntar aku nanya suami.
Sebenarnya ada kompetisi jg kan antar laki2 - utk kelihatan macho, kuat, mendptkn perempuan, dst. Kalau persaingan antar perempuan diekspresikan dg bergosip & main "tikam dr belakang"; bgm ya laki2 mengekspresikan persaingan antar mereka? Barangkali cara mengekspresikan ini ada hubungannya dg posisi perempuan yg katanya mesti lemah-lembut, pasif, dikejar, dan bergantung ya.
Emang belum pernah dengar sih anekdot ttg perempuan yg rela berbohong pada suami atau kekasihnya utk melindungi perempuan lain yg berselingkuh. Kayanya ini lbh krn asumsi bhw laki2 memang sdh kodratnya begitu, sedangkan perempuan tidak (=tidak boleh) :-(
Iya, kurasa perbedaan intensitas kompetisi itu juga karena stereotipi yang menempatkan perempuan pada posisi pasif, kalau diibaratkan sebagai komoditas maka persaingan ini ada pada saat barang dagangan dipajang dan akan dipilih oleh pembeli. Tapi kalau kita sedang membicarakan 'iklan', ideologi yang digunakan adalah untuk menjual dan menggunakan stereotipi sebagai the lowest common denominator. Dalam dunia nyata, bisa jadi berbeda, bisa jadi justru lebih ekstrim, hehe....
Sebetulnya laki-laki juga sering dirugikan loh dengan ideologi jender yang menempatkan mereka superior: harus bekerja super keras untuk jaga image, hahaha.....
mbak, coba cek ini:
http://www.physorg.com/news92508891.html
ternyata alasannya bukan brotherhood mbak, tapi:
"every sin is the result of collaboration" :D
hehehehee.....
ya dan sinners memang kebanyakan laki-laki, hehehe...
wah, aku baru pindahan capek banget apalagi di rumah baru ga ada sambungan internet (kadang dapat bocoran wireless) jadi ini blog ga pernah diupdate :D
oh pantesan jd jarang online :D hehe ... iya pasti capek banget *jd inget dulu pas pindahan di leiden dg barang yg bujubunee buanyaak :D hahaha....
kangen mbak ;) ... pingin ke leiden lg
eh ini comment dobel2 gara2 beta :( makanya ada yg aq remove
ya kalo gitu kapan lagi maen ke Leiden? aku juga kangen chat lagi, tapi di kantor ga bisa download softwarenya, emang enak, hehehe....
Post a Comment