Beberapa waktu lalu saya memposting mengenai referendum berbelanja di hari Minggu di Leiden. Hasilnya, untuk yang di luar singel, toko-toko hanya boleh buka 12 kali hari Minggu setahunnya atau satu kali hari Minggu setiap bulannya. Sedangkan toko-toko di dalam wilayah singel boleh buka setiap hari Minggu sepanjang tahun. Sebetulnya memang lumayan menyenangkan kalau hari Minggu suasana kota menjadi sangat-amat tenang dan sunyi, tapi apa ya memakai alasan religius masih relevan?
Tiga hari lalu kami menerima lagi krant (koran) dari pemerintah kota Leiden mengenai referendum untuk membuat jalur RGL (RijnGouwelijn), semacam trem yang akan beroperasi menembus jantung kota Leiden. RGL direncanakan akan menggantikan jalur bis yang menembus pusat kota atau disebut centrum yang melintas antara batas tenggara dan barat laut Leiden, dengan panjang rel sekitar 6 KM. Proyek ini diperkirakan akan menghabiskan dana 170 juta euro.
Referendum akan dilaksanakan pada tanggal 7 Maret. Yang boleh ikut memilih adalah warga negara Belanda dan warga negara Uni Eropa yang bermukim di Leiden. Orang asing juga boleh ikut memilih jika sudah tinggal selama lebih dari lima tahun di Belanda dan terdaftar sebagai warga Leiden.
Beberapa orang pun ditanyai mengenai pendapat mereka. Koran RGL memberi "top ten" argumen untuk pro dan kontra RGL, yaitu:
Pro RGL:
1. Untuk membuat Leiden lebih mudah diakses
2. Trem bisa menjadi alat transportasi publik yang cepat dan nyaman
3. Merangsang perekonomian
4. Tidak akan mempengaruhi frekuensi jalur bis yang melewati Leiden
5. Breestraat (ini Malioboronya Leiden--dengan lebar badan jalan yang tidak jauh beda) akan menjadi lebih atraktif
6. Mengurangi kemacetan di pusat kota
7. Akan membuat kota lebih aman (dengan pertimbangan bis akan saling berpapasan sedangkan trem hanya satu rel bolak-balik)
8. Kualitas udara yang lebih bersih
9. Agar Groene Hart (ini adalah wilayah dalam dari area yang disebut Randstad-- atau ring kota-kota padat/sibuk di Belanda: Rotterdam, Den Haag, Leiden, Haarlem, Amsterdam dan Utrecht --yang daerahnya lebih sedikit populasinya) tetap terbuka karena perumahan, pertokoan dan perkantoan bisa dipusatkan di sekitar halte-halte RGL
10. Trem lebih murah daripada bis.
Sementara yang kontra RGL berargumen:
1. Tidak ada yang minta RGL!
2. RGL lebih mahal dan hanya menjadi proyek politisi saja
3. RGL mengganggu jalur bis dan kita jadi tidak bisa lagi naik bis di dalam kota
4. RGL mengganggu jalur sepeda
5. RGL bisa merugikan toko-toko di Breestraat karena pengunjung akan berkurang (dengan asumsi akan lebih sedikit orang yang datang dengan trem daripada dengan bis digabung dengan yang naik sepeda)
6. RGL juga akan mengacaukan daerah-daerah lain di Leiden di luar pusat kota
7. RGL tidak cukup aman
8. Rel RGL terlalu besar untuk ukuran badan jalan di kota
9. RGL tidak memecahkan masalah malah menambah masalah yang baru (salah satunya mengenai kacaunya lalu lintas)
10. Lebih baik memperbaiki transportasi yang sudah ada seperti bis, atau memperbaiki sistem parkir bis dan sepeda. Geen trein door de stad! (Kereta dilarang masuk kota!)
Bagus, ya? Dengan diadakan referendum bagi hal-hal yang menyangkut urusan publik warga kota akan bisa merasa memiliki kotanya dengan lebih baik lagi. Cara demokratis begini mungkin juga akan bisa meminimalisasi keributan di masa yang akan datang.
Mungkin kalau sebelum disahkan PP no 37/2006 direferendumkan dulu, kejadiannya tidak akan seperti ini, ya? Di satu sisi rakyat teriak-teriak supaya PP ini direvisi atau bahkan dibatalkan, di sisi lain para anggota DPRD yang terlanjur menerima juga berteriak-teriak menolak untuk mengembalikan uang rapelan yang sudah terlanjur diterima. Bagaimana harus mengembalikan kalau, misalnya, uang sudah terlanjur dipakai untuk kawin lagi :D.


3 comments:
Bagus mbak cara referendum ini, aku jg setuju. Tapi apa mungkin ya di Indo, wong DPR-nya EGP gitu biarpun kita udah teriak2 sampe sakit tenggorokan.
Trus sptnya utk issue2 tertentu, barangkali belum tentu jg masyarakat selalu siap beropini dg bebas ya.
Yah, masalahnya di Belanda keberadaan uang sangat membantu untuk setiap saat mengadakan referendum (bahkan hal-hal yang kalau di Indonesia dianggap sepele). Mungkin kalau di aspek ini tersedia, kita bisa mulai belajar untuk beropini dengan baik.
You write very well.
Post a Comment