Saturday, February 24, 2007

Lika-liku Permalingan Sepeda

Barusan saya kehilangan speedometer sepeda saya. Sebelnya karena sebelum saya parkir dan tinggal jalan-jalan di openmarkt (pasar 'tradisional' yang di Leiden buka pada hari Rabu dan Sabtu), saya sudah punya 'feeling' akan ada yang salah dengan speedometer itu jika tidak saya lepas. Hampir saja saya melepasnya tapi suami bilang 'nggak usah'. Akhirnya, ya saya tinggalkan saja. Selesai belanja, apes banget, sudah lebih dulu dilepas maling. Tambah sebelnya lagi sebetulnya speedometer ini adalah hadiah ulang tahun saya untuk suami. Barusan dipindah di sepeda saya karena sepedanya mau dia jual. Udah susah-susah nyari ide hadiah, keluar masuk toko, ngeluarin duit, eh dicuri orang lagi.

Ada kemungkinan, si maling mau mencuri sepedanya tapi karena saya pasang dua gembok di ban depan dan belakang, makanya speedometernya yang jadi sasaran berikutnya. Kemungkinan yang lain, si maling adalah juga korban maling speedometer sebelumnya karena speedometer ini tidak bisa dipakai lagi jika tidak ada dudukannya (apa sih namanya?) yang di-sekrup di sepeda.

Sepeda saya dinaikin Lani dan Santi (kalau suatu hari dimaling orang dan anda melihatnya di jalan dinaikin seseorang, anda bisa melaporkannya ke saya, hehe...)

Maling sepeda di Leiden sudah menjadi bagian dari denyut nadi kota ini. Anekdot yang beredar adalah jika kita kehilangan sepeda dan melapor pada polisi, maka kita akan dianjurkan untuk gantian mencuri sepeda orang lain :D. Untuk sepeda-sepeda mahal (yang harganya ratusan bahkan ribuan euro) biasanya ada nomer seri dan diasuransikan.

Beberapa tahun lalu saya juga kehilangan sepeda yang baru saya beli (walaupun sepeda bekas). Waktu itu saya barusaja membayar 100euro pada teman yang menjualnya dan belum sempat saya pakai. Saya simpan di garasi (sepeda) yang ada di kantor dan saya kunci. Meski begitu masih saja ada yang mencurinya padahal akses ke garasi itu hanya orang-orang yang bekerja di gedung kantor kami. Waktu saya lapor pada huismeester (kepala security) gedung kami, katanya "there's nothing we can do".


Teman saya yang seorang dokter dan bekerja di LUMC (Leids Universitair Medisch Centrum) bahkan sudah berkali-kali kehilangan sepedanya yang dia parkir di halaman rumah sakit (foto di atas). Beberapa waktu lalu dia menunjukkan segepok kunci gembok sepeda yang masih dia simpan. Maling sepeda di sini, jangan diremehkan ya, ada yang keliling-keliling membawa gunting besar untuk memotong gembok sepeda. Jadi sebaiknya sepeda dikunci dengan gembok rantai yang guedhe banget atau, seperti saya, dengan dua gembok. Ada teman saya bahkan membeli gemboknya seharga dengan sepedanya :D.

Satu hal yang lain, maling sepeda di Leiden (mungkin kota-kota lain di Belanda) seringnya adalah para junkies. Kalau anda lagi jalan-jalan, jangan terkejut kalau tiba-tiba ada seseorang naik sepeda sambil menjajakan sepedanya "fietsen...fietsen". Kalau mau beli dari mereka harganya sangat murah, bisa cuma 10 atau 20 euro saja (pokoknya asal cukup untuk nyimeng sekali). Tapi ya itu, biasanya tidak akan tahan lama pasti hilang lagi. Seorang teman saya pernah sampai dua kali mengalaminya. Suatu hari dengan bangga dia memamerkan sepedanya, "sepedaku nih, murah", tahunya paginya sudah balik jalan kaki lagi karena sepeda sudah dimaling :D.

Pernah suatu hari saya melihat ada seorang perempuan sedang naik sepeda dengan santainya. Tiba-tiba di belakangnya ada satu perempuan dan satu laki-laki lari-lari mengejar sambil teriak-teriak. Si perempuan yang mengejar berhasil meraih ujung goncengan dan si laki-laki memegang tangan perempuan yang naik sepeda. Mereka beradu mulut sebentar, tapi kemudian terjadi pengambilalihan sepeda. Rupanya perempuan yang naik sepeda itu mencuri sepeda milik perempuan yang ngejar-ngejar. Tapi semua berakhir dengan damai. Si maling pun berlalu sambil ngoceh. Sebenarnya saya agak kecewa juga kok ngga ada drama-dramanya, hehehe......





7 comments:

peregrin said...

jadi ingat di stationsplein dulu, kalau habis kehilangan sepeda malah disalami ama teman2: "welcome to the club!" :D

sepeda ama sandal mah nggak ada bedanya, ketinggalan sandal di luar malah lebih aman kali ye ;D

sushartami said...

iya, ato kalo nggak ya dibilangin: "kalo belum kehilangan sepeda belum sah jadi orang Leiden", hehehe.....

m lim said...

selamat, dah sah! :)
tapi ya turut sedih sih atas kemalingan-nya.

dah lama ngga berkunjung, gile deh.. produktip pisan si Mbak teh.
asik2 pula tulisan-nya. pantes dibukuin u/ jadi semacam kumpulan catatan pinggir ala nulzes :)

sushartami said...

aih bu prop, thanks dah mampir.
iya nih, kalo lagi ada saluran yang macet di otak dengan thesis, mesti ada saluran lain yang dibuka :)
eh, mer, ada salam dari Basri (univ Hawaii), aku sempat ngobrol sama dia.

micokelana said...

Wah di luar aja yg ngantri sepeda. Cob aklo liat negeri sendiri parkiran itu penuh dengan motor dan mobil.
Jadi malu sendiri ama negeri kita yang katanya elok ini

sushartami said...

bener mas, disini mau profesor, anggota parlemen, bahkan putra ratu pun juga senang bersepeda. infrastruktur untuk penyepeda juga bagus dan semua yang bermotor harus ngalah.

cahaya hati said...

ada2 aja pun,sepeda aja pun di embat.motor kek di embat,biar di embat ama pak pol.