"a feminist is a woman who recognises herself, and is recognised by others, as a feminist. That awareness depends on a woman having experienced consciousness-raising, a knowledge of women's oppression, and a recognition of women's differences and communalities. ..... all feminists share a commitment to, and enjoyment of, a woman-centred perspective" (1995: 95).
Dengan kata lain, setiap perempuan bisa menjadi feminis jika dia mengenali bahwa ada ketidakadilan terhadap perempuan dan bahwa tiap-tiap perempuan itu berbeda tapi juga mungkin berbagi pengalaman yang sama dengan perempuan lain. Yang lebih penting, seorang feminis mempunyai komitmen untuk 'memikirkan perempuan'.
Jika anda ingin menguji tingkat kefeminisan anda (jangan keliru dengan kefemininan, ya) mungkin anda bisa membaca dan memberikan persetujuan/pertidaksetujuan terhadap pernyataan-pernyataan di bawah ini (sumber: Jurnal Perempuan edisi 12/1999, hal. 21).

Menjadi feminis tidak perlu dibayangkan harus menjadi 'seperti laki-laki' atau sebaliknya 'membenci laki-laki', tetapi tahu bahwa sebagai seorang perempuan, kita lebih dulu adalah seorang manusia. Pada praktek sehari-hari, jika anda sudah menikah, mempertahankan hak anda menjadi isteri satu-satunya (jika ini adalah bagian dari komitmen pernikahan anda) adalah sah-sah saja. Menuntut suami anda untuk setia pada anda (jika ini juga menjadi bagian dari komitmen pernikahan anda) juga sah-sah saja. Jika anda sadar bahwa anda adalah manusia, yang walaupun berjenis kelamin perempuan, tetap mempunyai hak untuk dihormati oleh suami anda (tidak hanya berkewajiban menghormatinya), maka anda sudah menjadi seorang feminis.
Mudah kan jadi feminis? Jadi, menurut saya adalah wajar kalau kita mengharapkan setiap perempuan menjadi feminis, setidaknya untuk diri sendiri. Tapi kalau mengharapkan laki-laki menjadi feminis apa mungkin? Tidakkah jika dua kata 'male' dan 'feminis' digabung hanya akan menghasilkan oxymoron 'male-feminis'? Namun demikian ada sebagian orang yang percaya pro-feminist men memang benar-benar ada.
Ada banyak contoh di Indonesia beberapa laki-laki yang 'memikirkan perempuan'. Tiga tahun lalu, ketika Polygamy Award sedang akan diadakan oleh self-proclaimed presiden poligami Puspowardoyo, seorang laki-laki menuliskan ketidaksetujuannya di harian Republika. Penolakannya ini pun masih dia pertegas lagi sebulan berikutnya di harian yang sama. Waktu-waktu berikutnya laki-laki ini dikenal sebagai "Dosen FISIP UI, salah satu anggota Komisi Penyiaran Indonesia, penulis Jurnal Perempuan, narasumber dalam sosialisasi YJP tentang “Remaja Perempuan Melek Media” dan narasumber kampanye 16 hari “Anti Kekerasan terhadap Perempuan”".
Tetapi sayang sekali, pada akhirnya, laki-laki ini tidak mampu untuk tidak berpoligami, walaupun, ironisnya, tiga tahun yang lalu dengan sangat meyakinkan menyatakan penolakannya untuk kawin lagi dengan alasan "Ya maaf sajalah, saya terlalu mencintai istri dan anak-anak saya".
Male feminist: maybe it's just a too-good-dream-to-be-true (sigh).


0 comments:
Post a Comment