Sunday, February 04, 2007

Ketahuilah....

Seorang kawan lama datang berkunjung, dan gosip pun mulai berseliweran. Di antara begitu banyak cerita mengalir dari masing-masing mulut kami, ada satu cerita datang darinya yang sangat menyentuh. Tentang seorang laki-laki istimewa, kenalan kami berdua.

Laki-laki ini berusia separuh baya, charming, baik hati, dan pintar. Menikah dengan seorang perempuan cantik dan lembut. Mereka dikaruniai beberapa orang anak. Terakhir kali saya ketemu mereka, tujuh tahun lalu, saya masih saja iri dengan isterinya yang selalu nampak apik dan langsing. Tetapi kawan saya yang baru saja mengunjungi pasangan ini bercerita bahwa telah ada begitu banyak perubahan.

Beberapa waktu sebelum hari yang ditentukan untuk kawan saya mengunjungi mereka, dia menerima sebuah pesan pendek melalui sms dari laki-laki kenalan kami ini. Katanya begini: “kau mungkin akan terkejut melihat sebuah perubahan besar nanti, tapi aku akan menghargai jika kau, setidaknya berpura-pura, untuk tidak melihatnya”. Kawan saya sangat penasaran tapi tidak bertanya apa-apa lagi.

Begitu dia sampai di rumah kenalan kami ini, seorang perempuan gemuk dan nampak murung membukakan pintu. Sejenak kawan saya agak ragu-ragu untuk mengenali apakah perempuan ini adalah isteri dari kenalan kami. Tetapi begitu perempuan itu tersenyum, membuka tangan, dan menawarkan pelukan, barulah kawan saya yakin bahwa dialah isteri kenalan kami. Kunjungan berlangsung hangat, hampir tidak ada yang berubah sedikitpun, pasangan ini tetap mesra.

Dua hari setelah kunjungan tersebut, sebuah email datang untuk kawan saya dari kenalan kami ini. Dia hanya menuliskan dua kalimat: “Terimakasih karena engkau begitu peduli untuk tidak menyinggung hati isteriku lagi. Begitu banyak yang telah membuatnya menangis hanya karena perubahan fisiknya.” Banyak cerita didapat kawan saya justru dari orang lain. Isteri kenalan kami ini menjadi gemuk dan kurang merawat penampilannya setelah anak-anak mereka dewasa dan tidak lagi membutuhkan bantuannya. Disamping itu, dia barusaja terpaksa berhenti bekerja untuk merawat kenalan kami yang jatuh sakit.

Ya, seringkali kita tidak sadar telah semena-mena menilai orang lain padahal kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Jika anda adalah laki-laki kenalan kami itu, ketahuilah, apa yang telah anda lakukan tidak saja sangat berarti untuk isteri anda (walaupun dia tidak mengetahuinya), tetapi juga bagi isteri-isteri lain. Apa yang telah anda lakukan, setidaknya bagi saya, telah mengembalikan kepercayaan (walaupun masih agak was-was juga :D) bahwa: “Tidak semua laki-laki.....”

*terinspirasi dari sebuah kisah nyata, walaupun ada sedikit adaptasi pada alur dan pelaku cerita.

2 comments:

Herman Saksono said...

Sampean itu orang yang baik sekali mbak :)

sushartami said...

Sampeyan juga baik sekali lho dik...hehe