
Dua hari lalu saya berencana menulis posting yang romantis, mungkin malah picisan, untuk ikut-ikutan memeriahkan Valentine’s Day (di bawah nanti saya singkat saja VD, biar nggak kepanjangan--dan VD disini bukan singkatan dari yang lain-lain :D). Tapi kemudian saya merasa malu sendiri; sudah bukan remaja lagi kok mau ikut-ikutan yang masih muda-muda dan lagi asyik-asyiknya berpacaran. Apalagi suami saya seorang yang ‘anti-romantisme’ :D. Jadilah VD tidak ada bedanya dengan hari-hari yang lain.
Ditambah lagi, hari itu saya mendapatkan informasi mengenai situs Anti-VD. yang menyediakan kartu-kartu elektronik bagi mereka yang tidak suka—baik sengaja maupun tidak sengaja—dengan perayaan, yang katanya, hari kasih sayang itu. Saya katakan "sengaja atau tidak sengaja tidak suka dengan VD" karena ada beberapa kemungkinan seseorang menjadi penggiat “anti-VD”: pertama, mungkin dia sangat concerned dengan kapitalisasi VD ini yang, tak ubahnya Natal, perayaannya tidak bisa lagi dipisahkan dengan pengkonsumsian benda-benda yang menurut saya perlu dipertanyakan lagi apa analoginya dengan cinta (emang cinta itu semanis coklat, eh, emang coklat itu manis? Siapa yang mengatakan bahwa pink itu warna cinta? Kalau cinta dilambangkan dengan long stem roses, bunga mawar ini cuma tahan seminggu aja, loh).
Seperti halnya Natal, kalau ini untuk merayakan kelahiran Yesus, lha wong Yesus dulu konon lahir di kandang domba, lha kok sekarang Natal diidentikkan dengan pohon cemara dengan hiasan kristal dan lampu kerlap-kerlip serta kapas-kapas yang ditata seolah-olah salju (bayangkan cemara-cemara ini dipasang di Mall-mall di Singapore, Indonesia, dan negara-negara yang tidak bersalju).
Kedua, mungkin dia 'tidak sengaja tidak suka' pada VD karena sirik saja tidak punya pacar yang bisa dikiriminya kata-kata cinta (atau punya suami yang ‘anti-romantisme’, hehe).
Ketiga, kalau satu hal jadi laris manis, dan mungkin akan segera merajai dunia, selalu saja ada orang yang merasa perlu meniupkan backlash. Misalnya seperti apa yang terjadi pada aktivis feminis di Amerika yang sudah sejak akhir abad lalu disibukkan dengan backlash para kaum ‘anti-feminisme’. Mereka yang mulai ‘kuatir’ jangan-jangan gerakan perempuan benar-benar akan bisa mewujudkan gagasannya tentang dunia yang adil jender mulai mengkampanyekan bahwa feminisme membawa dampak buruk bagi keluarga karena anak-anak jadi terlantar, perempuan-perempuan yang tidak mau menikah dikatakan akan berakhir pada kondisi depresif, dsb.
Kampanye-kampanye ini seolah-olah benar, padahal harus diingat bahwa jika dikatakan perempuan sudah ‘kebablasan’ itu tidak selalu benar. Karenanya, daripada menuduh anak-anak jadi terlantar karena ibu bekerja, kenapa tidak justru memberi solusi dengan menyediakan child care di kantor-kantor yang mempekerjakan perempuan yang mempunyai anak balita? Kalau dikatakan prempuan sudah ‘kebablasan’, kenapa masih saja ada diskriminasi dalam sistem penggajian antara laki-laki dan perempuan? Kenapa korban kekerasan domestik masih saja lebih banyak perempuan?
Itulah backlash, selalu reaksionari. Bisa jadi gerakan anti-VD ini membantu, atau diharapkan membantu, mengerem kegilaan konsumerisasi satu hari dalam bulan Februari ini (walau nggak yakin :)). Tapi bisa jadi juga, karena VD bisa menambah pundi-pundi kekayaan bagi para pemilik modal raksasa, berarti mungkin juga bisa mencipratkan rejeki bagi mereka yang memasarkan ‘anti-VD’.
Maaf, saya tidak bermaksud menggoyahkan iman anda tentang VD. Sebaliknya juga saya tidak bermaksud mengkampanyekan gerakan anti-VD. Tapi ada baiknya juga anda tengok situs anti-VD di atas, setidaknya, mungkin bisa membuat anda tersenyum atau menyindir diri sendiri dengan ungkapan-ungkapan sinis yang ada di sana :D.
Selamat hari Jumat!!
*kartu di atas bersumber dari: http://www2.blogger.com/post-create.g?blogID=24608819


5 comments:
Saya rasa orang-orang yang bilang anak2 terlantar karena ibu bekerja itu terlalu naif. Ada banyak parameter yang menyebabkan anak terlantar. Lagipula saya belum melihat data-data yang menunjang pendapat itu.
Tentu saya tidak menafikan fakta kalau ada banyak anak terlantar, tetapi sebelum menjadi isu empiris, solusi yang dapat kita rumuskan akan lebih tepat kalau berupa solusi yang terfokus dan spesifik. :)
ealah aku omong apa si iki mbakk :))
Man, apa yang kau komentari itu penting lho, apalagi kalau dibaca oleh ibu-ibu yang 'terpaksa' harus bekerja keluar rumah walau berat meninggalkan anak-anaknya.
kesanku dulu di sinetron2, perempuan yg sibuk berkarier selalu digambarkan di posisi bersalah: yg trus si suami jd gak bahagia lah, si anak terlantar lah. Kalau skr gimana ya? apa sdh ada perubahan? atau sdh gak musimnya sinetron lagi, diganti infotainment? :-)
Aku juga udah lama banget ga nonton sinetron. Tapi kapan hari aku baca tulisan pak Bakdi Soemanto (sorry mesti cek lagi??) mengenai gambaran 'perempuan galak' yang marah-marah dan suka mencaci maki orang lain, bahkan suaminya, juga mulai ngetren. Ini akan bisa mendatangkan backlash juga untuk gerakan perempuan di Indonesia.
Post a Comment