Wednesday, January 17, 2007

Say it with postcard

Saya sangat suka kartu pos. Kadang saya beli sendiri kalau lagi jalan-jalan keluar kota, atau kalau lihat kartu pos menarik di toko buku/majalah di mana saya tinggal. Sering juga saya dapat kartu pos gratisan yang dipajang di student hall atau kafe atau restoran yang saya kunjungi. Kadang juga saya minta dikirimi kartu pos teman yang lagi jalan-jalan di tempat-tempat yang menarik. Terakhir saya dapat kiriman kartu pos dari teman yang lagi jalan-jalan ke Salzburg, Austria. Cantik sekali, seluruh kota diselimuti salju. Tapi ternyata kata teman saya gambar itu menipu karena pada waktu dia mengirimkannya dari Salzburg, di sana belum ada salju. Lalu pernah juga, ini lucu, ada teman orang Belanda yang ketika berlibur ke Indonesia mengirimi saya kartu pos dari Bali (saya sedang ada di Leiden)! Kemarin waktu beres-beres rak buku (karena mau pindahan) saya menemukan koleksi kartu pos saya.

Mengenai kartu pos yang di atas, saya lupa saya beli di mana, mungkin di toko majalah di salah satu stasiun di Belanda. Saya juga tidak ingat kenapa saya membelinya.

Saya mencoba membayangkan skenario pengambilan foto tersebut. Seorang isteri yang juga bekerja seringkali terpaksa harus pulang malam karena lembur. Suatu hari sesampai di rumah suaminya sudah menunggu di ruang tamu. Lalu sang suami marah-marah dan mengancam akan mencari isteri muda:

"Kalau mama sibuk terus seperti ini, siapa yang ngurus papa? Lebih baik papa cari isteri muda supaya kita sama-sama senang: mama bisa tetap sibuk dengan pekerjaan dan papa ada yang ngurus".

Karena saking marahnya si isteri tidak bisa berkata apa-apa lagi kecuali menyorongkan jari tengahnya ke arah suami.

(Jangan salah, meskipun si isteri bule asli, tapi si suami itu orang Indonesia. Dan memang bule perempuan yang ini tidak seperti isteri muda wakil ketua DPR kita yang walaupun keturunan Belanda tetapi mendukung poligami. Mungkin sosok laki-lakinya sengaja dikaburkan supaya tidak menimbulkan polemik yang berbau rasis dan seksis :D).

Tapi mau ngomong apa sebetulnya jika seseorang mengirimkan kartu pos bergambar seperti di atas kepada orang lain?

Di bawah ini ada beberapa kartu pos saya yang lain:

Kudanil Primitif di sungai IJssel, Belanda (dari museum Naturalis, Leiden). Ada yang tahu, arti dari "ciuman" kudanil di atas? Saya sih mengiranya "romantis"... :)


Kartu pos dari De Valk, museum kincir angin di Leiden. Kartu pos ini bisa dipotong, dilipat dan dilem untuk dijadikan satu model kincir angin de Valk.


Kampanye anti prostitusi anak-anak oleh ECPAT-NL


Kartu pos sticker untuk kampanye "Netherlands against Terrorism"



2 comments:

Visit Yogyakarta / Jogja said...

Hmm..., kartu pos-nya keren-keren. Jadi kepikiran untuk bikin kartu pos bernuansa Jogja. Siapa tau bisa jadi souvenir untuk wisatawan yang baru pulang dari Jogja.

sushartami said...

iya, ide bagus tuh. yang lucu-lucu atau yang kontekstual sama yogya sekarang. yang "interaktif" bisa jadi model, tugu, misalnya, atau stiker kecil-kecil juga menarik.