Tuesday, January 30, 2007

Daripada Selingkuh …

“A spectre is haunting the nation—the spectre of adultery” (Laura Kipnis, “Adultery”, in Lauren Berlant’s Intimacy, 2000)



Pada suatu sore, saya dan suami pergi mengunjungi boss-nya yang dirawat di rumah sakit setelah operasi ginjal. Ketika melangkah memasuki gedung rumah sakit, kami disambut tiga seri pintu yang terbuka secara otomatis. Jika awalnya saya merasa sangat terhormat (seperti ada yang membukakan pintu, gitu loh), dalam beberapa detik kemudian mata saya mulai mencari-cari dimana sumber signal dari sistem otomatisasi pintu ini. Sebuah kesadaran akan keadaan ‘diawasi’ yang sudah semakin terinternalisasi.

Ya, kita memang sudah dikepung oleh kamera pengawas. Di mana-mana. Bahkan, saya sempat mengikuti perbincangan di milis bekas SMA saya di Yogya yang menjadi ramai menanggapi dipasangnya beberapa kamera pengawas di sekolah. Makin tidak ada batasnya lagi antara kehidupan di dalam dan di luar penjara, kita serasa berada di dalam awasan tatapan kamera, bentuk modernnya ‘panopticon’.

Memang kamera pengawas ada banyak gunanya bagi kepentingan publik. Terbukti misalnya dalam kasus pemboman Kedubes Australia tahun 2004 lalu, sebuah CCTV juga turut menyumbang andil dalam upaya memecahkan kasus. Lalu yang paling mutakhir, dalam kasus kematian Alda dan sibuknya bapak-bapak polisi menelusuri siapa saja ‘dua orang laki-laki dan seorang perempuan’ yang terekam di kamera CCTV hotel.

Di samping itu, adanya semakin banyak kameramen-kameramen privat yang menenteng-menenteng handy-cam atau handphone dengan kamera yang setiap saat bisa jadi dengan sengaja atau tidak sengaja menjadikan kita bagian dari rekaman sejarah kehidupan orang-orang yang tidak kita kenal. Mungkin tanpa sengaja rekaman tersebut ada manfaatnya, seperti yang terjadi dengan rekaman video amatir yang merekam saat-saat sebelum pemboman di Bali tahun 2005 yang lalu. Tapi sering juga rekaman tersebut membawa malapetaka bagi orang lain, seperti pada rekaman video para artis di ruang ganti dan kamar mandi beberapa waktu lalu.

Yang menimbulkan pikiran iseng saya adalah hubungan antara keberadaan kamera pengawas dengan ‘hantu perselingkuhan’ yang sekarang, katanya, marak di Indonesia. Dalam Bahasa Indonesia selingkuh semula tidak selalu berkaitan dengan aktivitas/hubungan seksual, walaupun konotasi buruk, curang, tidak jujur, yang berarti membutuhkan kondisi serba rahasia, tertutup dan tidak kelihatan tetap berlaku. Kini orang tidak bisa lagi menggunakan kata selingkuh dengan melepaskannya dari konotasi 'buruk' mengenai sebuah relasi seksual antara orang-orang yang dianggap tidak pantas melakukannya.

Kipnis, dalam artikel yang saya kutip di atas, yang njlimet tapi menarik—untuk tidak mengatakan ‘provokatif’ karena mungkin terdengar seperti membela perselingkuhan—mengulas selingkuh dengan kacamata Marxist. Dia menarik analogi antara selingkuh dengan demo buruh—dua akibat dari tekanan kondisi sosial pada orang-orang yang mendambakan suatu keadaan yang lebih baik. Menanggapi idiom ‘people will get hurt’ yang biasanya dipakai untuk memperingatkan orang supaya tidak berselingkuh, Kipnis juga mengatakan, sama saja, dalam demo dan protes sosial, para pesertanya pun tidak jarang kena timpuk batu dan get hurt.

Kadang selingkuh juga diurusi oleh negara. Apa urusannya? Masih menurut Kipnis, karena bagi negara perkawinan adalah masalah hukum—kalau anda menghianati pasangan anda yang sah sesuai dengan hukum perkawinan, itu berarti anda juga menghianati negara. Dengan demikian kamar tidur andalah yang sudah menjadi engsel yang menyambung ‘nafsu’ anda dengan kekuasaan negara.

Walaupun Kipnis tidak memfokuskan konsep romantisme dan sentimetalisme dalam telaah perselingkuhan, dia tetap menyebutkan ‘deception rules this land'. Artinya, tetap saja perselingkuhan membutuhkan keadaan ‘rahasia atau tak ketahuan’ sebagai prasyarat. Pertanyaannya, di masa dimana tidak ada lagi ruang yang terbebas dari surveillance camera, masih bisa amankah perselingkuhan?

Mmmm….saya mengerti sekarang kenapa poligami sering dikampanyekan sebagai pilihan yang lebih baik dari selingkuh. Di tengah ketidakberdayaan pasangan peselingkuh untuk lari dan sembunyi dari kamera pengawas, mungkin ajakan ini yang paling bagus:

“Daripada selingkuh [dan tertangkap basah gara-gara sebuah CCTV] lebih baik poligami”

3 comments:

chun said...

Iya nih kita memang sedang dalam era Citizen Journalism. CNN pernah panjang lebar mendiskusikannya pasca hukum gantung Saddam yg direkam dg kamera HP. Nonton ga, Bu?

Kipnis kelihatannya suka pakai bahasa 'populer' tapi bahasannya njelimet memang. Eh, itu baru kesan pertama ding :) belum baca banyak karya dia.
Wah jadi 'terprovokasi' pengen ikut baca ;D

Re: “Daripada selingkuh [dan tertangkap basah gara-gara sebuah CCTV] lebih baik poligami”
Lho katanya 'jalan darurat' :D

sushartami said...

CNN: wah aku ketinggalan acara itu, sayang banget.
Kipnis: buku yang lain belum baca sih, tapi idenya banyak provokatif. setuju ttg ide dan bahasa populer tapi telaah njlimet :D
'jalan darurat': tapi ada tanda 'khusus laki-laki' :D

b0wo said...

bicara selingkuh..barangkali ini ada tulisn dari yang benar2 pernah menjalani selingkuh..http://b0wo.blogspot.com/2006/01/lagi-lagi-tentang-selingkuh.html
semoga bermanfaat