Monday, January 22, 2007

Bertanya Atau Tidak Bertanya

Beberapa waktu lalu saya bertemu seorang teman, yang kebetulan sama-sama orang Jawa yang tinggal Belanda. Dia, seorang perempuan, langsung memegang perut saya sambil bilang: "Mbok masnya itu cepet dikasih momongan ta dhik, kasihan udah pingin tuh". Tidak siap dengan sebuah jawaban ditambah dengan rasa agak frustrasi, jengkel, dan sedikit malu, saya cuma bilang: "Ya, nanti malam tak usahain".

Pertanyaan serupa biasanya juga ditanyakan oleh teman-teman lain yang kebetulan sama-sama dari tanah air: "kapan punya anak?" atau "ndak kepingin, ya, punya yang lucu-lucu?"; dst. Terus terang saya belum pernah ditanya hal yang sama oleh teman atau kenalan orang Belanda. Entah karena bagi mereka anak tidak penting, entah karena mereka pikir tidak etis menanyakan hal seperti ini, saya tidak tahu persis tetapi saya mensyukurinya. Setidaknya tidak ditanya terus-menerus mengenai hal ihwal punya anak membuat saya merasa bisa bernafas lebih lega. Tidak ada maksud saya untuk menyangkut pautkan masalah sara dalam hal ini, makanya saya bilang kebetulan saja.

Ada yang bilang "malu bertanya sesat di jalan", tapi kalau pertanyaannya seputaran hal-hal pribadi orang lain, kita akan tersesat di mana? Apalagi jika pertanyaannya sudah disertai tuduhan yang didasarkan pada stereotipikal-stereotipikal yang kebenarannya masih diragukan. Misalnya dalam contoh di atas: dengan dianggap seolah-olah saya yang tidak mau punya anak--padahal suami (diasumsikan) sudah sangat menginginkan-- secara implisit saya ditempatkan sebagai pihak yang salah dan suami pada pihak yang benar atau bahkan korban. Apa karena sebagai perempuan bersuami saya dianggap kebanyakan "polah" dengan sekolah tinggi-tinggi sehingga tidak mau punya anak? Apa saya sudah dianggap menolak "kodrat" saya sebagai perempuan? Jangan-jangan nanti lama-lama suami saya yang disuruh mencari isteri baru karena saya dituduh mandul.

Saya tidak akan merasa frustrasi jika pertanyaan mengenai anak diajukan memang dalam rangka bertanya, tanpa dibumbui tuduhan seperti di atas. Ada banyak cara untuk bertanya, tetapi ada baiknya juga didahului dengan pertanyaan pada diri sendiri dulu: "bertanya atau tidak bertanya--that is the question."

9 comments:

Herman Saksono said...

Budaya guyub indonesia ini memang seperti pisau beramta dua. kadang seneng karena suasana elbih hangant, tetapi kadang risih jgu akarena ditanyai hal-hal pribadi terus.

Semakin tua biasanya pertanyaannya ganti. Urutannya biasanya seperti ini:

1. Mana pacarnya?
2. Kapan lulus?
3. Kapan nikah?
4. Kapan punya anak?

Wekekekeke.

sushartami said...

kalau udah punya anak pertama pertanyaannya akan melar ke "kapan si kakak dikasih adik?" kalau anak udah gedhe2 dan udah lulus kuliah, orang nanya lagi:"kapan mantu?" hehehehe.....

Evy said...

Nibrung ah mbak..Klo abis mantu, pertanyaannya, wis bathi durung...? hihihihi...emang dodolan..

sushartami said...

iya, kok bisa dibilang 'bathi' ya? perhitungan banget, hehe..

Syah said...

bukannya yang sering nanyain gitu tu cuma orang jawa aja mbakyu..?

zam said...

iya..

saya sering sebel juga kalo ada yg nanya,

KAPAN LULUS?
Eh, UDAH WISUDA?
SKRIPSINYA SAMPAI BAB BERAPA?

sushartami said...

@syah: mungkin kosa kata 'mantu' dan 'bathi' emang dari bahasa jawa, tapi saya kira pertanyaan2 seperti ini ditanyakan juga oleh sodara2 yang bukan orang jawa juga

@zam: kok pertanyaannya kedengaran 'familiar' ya :D

Arion said...

Waktu ketemu lagi sama mbak yang kemaren...:
"Gimana dik, jadi malam itu diusaha'in-nya?"

....

sushartami said...

@arion: hahaha....bener, saya malah tidak terpikir, tapi untungnya udah hampir sebulan tidak ketemu sama mbak itu