Sudah hampir tiga tahun tidak pulang, saya hampir yakin jika nanti pulang saya pasti sudah ketinggalan "zaman". Walaupun disini tiap hari baca koran dan majalah online, tetap saja, mengingat begitu dinamisnya situasi di Indonesia, saya pasti tidak bisa merasakan greget konteksnya secara langsung. Salah satu yang saya rasa akan jauh meninggalkan saya adalah perkembangan bahasa gaul di tanah air. Banyak sekali kata-kata baru yang saya tidak mengerti dan membuat saya merasa kok perbendaharaan kata saya sudah 'jadul' sekali :D.
Salah satu kata yang baru sering saya dengar adalah 'banci'. Setahu saya dulu artinya, kira-kira, cowok yang kecewek-cewekan, atau bisa juga untuk menyebut seorang yang penakut. Bisa menjadi kata sifat atau kata benda, tetapi sangat erat hubungannya dengan seksualitas atau jender (a.k.a peranan-peranan yang dibedakan antara laki-laki dan perempuan atas dasar seksualitas). Tapi ternyata sekarang dipakai juga untuk menggantikan kata sifat yang berarti tergila-gila akan sesuatu. Saya baca di salah satu online gosip misalnya, Indi Barends bilang dia itu 'banci donat' yang artinya sangat tergila-gila akan donat. Lalu ada juga si Poltak, pengacara yang juga 'politisi' itu menyebut Adjie Massaid 'banci tampil' setelah kawan separtainya itu mengingatkannya untuk tidak bawa-bawa atribut partai ketika menangani sebuah kasus hukum.
Disini kata banci sudah bergeser tidak lagi secara langsung berkenaan dengan kata sifat seperti pada makna awalnya yang erat berhubungan dengan seksualitas atau jender tetapi pada 'performans' dari kata sifat yang dikenakan pada kata banci tersebut. Kenapa kata banci bisa dianalogkan dengan sifat kegilaan untuk 'mengkonsumsi' sesuatu? Hal ini mungkin tidak bisa dilepaskan dengan budaya media atau budaya visual sekarang yang seringkali menggambarkan sosok banci secara berlebihan (exagerating). Penggambaran sosok banci yang hiper-feminin, hiper-seksi, atau hiper-histeris itu yang menyebabkan dilekatkannya sifat 'kegilaan' yang akhirnya justru menjadikan ciri yang lebih dominan. Ini baru mungkin lho, dan saya tidak bermaksud mendiskriminasikan mereka yang dianggap banci.
Tetapi sebenarnya saya tidak ingin menulis tentang etimologi kata banci, hanya satu hal sepele saja, yaitu tentang 'banci komentar'. Anda pernah punya teman, kenalan atau saudara yang sangat senang mengomentari apapun tentang anda? Misalnya, ketika datang ke rumah atau kamar kost anda, tanpa diminta, bak seorang desainer interior, dia mulai komentar: "kamarnya jangan warna merah, kok spreinya loreng, kok kulkasnya pink", dst. Atau ketika anda pulang dari salon, merasa yakin bahwa potongan rambut anda mengikuti trend paling baru, tiba-tiba dia berubah menjadi seorang penata rambut: "Lho, kok potong model begini? Beyonce udah lewat, yang baru datang nyonya Beckham tuh", dst.
Yang agak mengganggu, kadang komentar yang konteksnya privat ini (misalnya hanya antara anda dan kawan anda, dan di rumah anda) tiba-tiba direlokasi ke konteks publik. Misalnya, dalam sebuah 'arisan politik' (baik di dunia nyata atau maya), seseorang tiba-tiba berkomentar: "Mengenai isu cabut mandat ini, si Odi, yang ngomong-ngomong barusan potong rambut a la Ivan Gunawan itu, mempunyai ide menarik lho...." Apa gunanya sisipan tentang rambut dalam konteks si Odi membincangkan isu publik yang penting tersebut?
Berkomentar, seperti halnya bertanya (yang sudah saya tulis di posting sebelumnya), juga perlu penanganan dan dosis yang tepat. Sebetulnya seseorang mau apa dengan komentarnya itu, mau memberi masukan pada yang dikomentari atau mau sekedar supaya orang lain mendengarkannya sehingga orang lain tahu bahwa dia ada? Bisa jadi, dalam contoh di atas tentang Odi, nggak penting kok isi komentarnya, sang komentator hanya merasa lebih penting orang tahu bahwa dia ada dan sukur-sukur balik dikomentari. Maaf, kalau yang begini kok banci banget ya?
Tuesday, January 23, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


6 comments:
Padahal... diam pun menunjukkan eksistensi. Lebih baik diam, daripada ngomong nggak bermutu.
Kalau komment saya ini bermutu enggak ya :D
Ntar kalo dibilang ga mutu, ga mau komen lagi, aku jadi ga punya kawan rasan-rasan (di ruang publik), hehe...
Sebetulnya seneng aja dikomentari orang walopun tentang hal-hal pribadi, tapi kadang orang lupa kapan harus berhenti.
Iya mbak, setuju :D
Buat "banci"nya: wakakaks...
"Ini Nederland Dunk": tough question sekali memang...
Lama sekali baru mampir lagi. Ibu ini bernas selalu, salut.
-c-
buat wakakaks-nya, wakakaks juga...
re bernas: hasil komunikasi dengan chun nih, hehe...
Bu,
Dikau bisa gantiin kolom reboannya JS tuh. Beneran, aku salut buat kedalaman refleksi di tiap jurnalmu.
Dari "banci" ke si Odi... luar biasa..
-c-
Post a Comment