Saturday, December 23, 2006

Natal dan Tahun Baru

Tidak terasa kita sudah sampai di penghujung tahun 2006. Sebelum menutup tahun, saya selalu senang menunggu Natal tiba. Sayang sekali, seperti empat tahun terakhir ini, Natal kali ini pun tidak ada salju di Leiden. Salju biasanya datang sangat telat, mungkin akhir January atau February. Tahun lalu pun saya mendapatkan Natal bersalju di Brussel. When it comes to White Christmas, Leiden sucks! Tapi Natal bersalju mungkin hanya romantisme masa kanak-kanak saya.

Selamat Natal bagi anda yang merayakan. Semoga kasih dan damai menyertai anda. Secara khusus saya juga mendoakan bagi anda yang merayakan Natal jauh dari keluarga, semoga kehangatan Natal tetap anda dapatkan dari kawan di sekitar anda. Dan selamat menyambut Tahun Baru 2007 bagi anda semua, semoga sukses di tahun yang akan datang.

***Beberapa waktu lalu, ada foto kue coklat di awal posting ini. Sekarang terpaksa saya drop karena salah satu rencana yang ingin saya lakukan tahun ini adalah mengurangi indulgence saya terhadap coklat dan makanan manis demi menurunkan berat badan, hahaha.... Jadi untuk menunjang program ini saya terpaksa menutup mata dari semua (pun gambar-gambar) makanan yang manis-manis.


Friday, December 22, 2006

Ibu, Tolong Beri Tahu Saya

Kalau anda punya waktu, tolong ( klik disini ). Disitu nanti anda akan dapat melihat beberapa foto ibu-ibu dari HTI yang berdemo di hari ibu ini. Walaupun tidak jelas bagi saya apa yang didemokan dan kenapa, beberapa poster bertuliskan ini: "KKG, Kesetaraan dan Keadilan Gender: Bullshit...!!" juga yang ini: "UUPKDRT=UU Penghancur Keluarga dan Rumah Tangga".

Saya benar-benar tidak tahu apa yang menjadi keberatannya. Kesetaraan gender kan tidak melawan moral-moral agama apapun? Kesetaraan gender tidak harus dilihat secara ekstrim bahwa perempuan mau menindas laki-laki, tapi bahwa perempuan, dalam kapasitasnya sebagai isteri, atau ibu rumah tangga, atau profesi-profesi yang lain, dihargai kemanusiaannya seperti halnya laki-laki. Misalnya, dalam keluarga, setiap keputusan yang berhubungan dengan keluarga, misalnya, mau beli rumah, mau beli mobil, anak mau sekolah dimana, atau bapak mau kawin lagi, seharusnya melibatkan pendapat si ibu atau isteri. Inipun sudah merupakan wujud relasi yang lebih seimbang yang ingin diperjuangkan dengan dicapainya kesetaraan dan keadilan gender walaupun masih pada level yang paling dasar dan mungkin bersifat privat. Di lingkup publik, kesetaraan gender menjadi syarat yang utama sebelum kita bisa memiliki, misalnya, politisi-politisi atau anggota parlemen perempuan. Tidak ada yang ekstrim dengan ini kan?

Lalu "UUPKDRT=UU penghancur keluarga". Kok bisa? Padahal, kalau dibaca lagi, UU ini sangat peduli pada perempuan. Apakah membela perempuan yang dihajar suaminya atau pacarnya atau saudara laki-lakinya itu sama dengan menghancurkan keluarga? Dan kalau memang sang suami 'sakit' dan rumah tangga tersebut tidak bisa dipertahankan tanpa membahayakan nyawa isterinya, apakah tidak lebih baik kontrak pernikahan itu dibubarkan saja? UUPKDRT tidak perlu menjadi momok bagi mereka yang tidak melakukan kekerasan dalam rumah tangganya. Kalau tidak ada yang salah dalam keluarga tersebut, kenapa takut dihancurkan oleh UUPKDRT? Saya tidak mengerti.

Tapi ya sudahlah, karena kita mau punya negara yang demokratis, semua pendapat boleh disuarakan. Asal tidak ada yang memaksa. Dan supaya tidak ada yang bisa memaksakan kehendak, mungkin campur tangan pemerintah dengan undang-undang, bisa membantu. Tidak untuk melarang orang untuk melakukan suatu hal yang buruk, tetapi mengingatkan akan konsekuensi atas tindakan tersebut. Misalnya UU perkawinan. Jadi, kalau perkawinan harus diatur, bukan untuk melarang orang kawin atau kawin lagi, tapi mengingatkan bahwa perjanjian kawin itu membawa konsekuensi hak dan kewajiban yang adil bagi orang-orang yang terikat di dalamnya, yaitu suami, isteri dan, kalau sudah ada, juga anak-anak. Karena perkawinan dua orang bisa membawa implikasi publik juga bukan hanya implikasi privat dibalik pintu-pintu kamar tidur (walaupun kamar tidur pun bisa menjadi urusan publik jika aktivitasnya ternyata melibatkan tindakan-tindakan pidana yang membahayakan atau merugikan salah satu pihak yang terikat di dalamnya).

Karena kebetulan hari ini hari Ibu, saya ingin mengucapkan Selamat Hari Ibu. Dalam setiap diri perempuan pasti ada sifat "keibuan" oleh karena itu ucapan inipun saya tujukan kepada semua perempuan, baik yang sudah maupun belum jadi ibu.

Ibu, tolong beri tahu saya perempuan mana yang tidak suka dihargai dan dilindungi hak dan kemanusiaannya?

Thursday, December 21, 2006

Hidup, Mati, dan Cinta

Minggu lalu saya menonton sebuah film dokumenter yang diputar dalam acara seminar untuk ulang tahun ke-50 Faculteit der Sociale Wetenchappen (atau fakultas sosial) di Universitas Leiden. Dokumenter ini dibikin oleh seorang dosen visual antropologi di fakultas ini yang juga pembuat film dan sedang menulis disertasinya bernama Steef Meyknecht. Dokumenter ini berjudul A Hospice in Amsterdam (hospice adalah rumah sakit khusus bagi mereka yang sakit parah atau yang sudah divonis tidak berumur panjang lagi). Rumah sakit ini tidak besar mungkin hanya bisa menampung sekitar enam orang dan untuk bisa tinggal disana mengikuti sistem daftar tunggu. Ada beberapa orang yang bekerja untuk merawat dengan sistem shift pagi, siang dan malam. Semua yang digambarkan di dokumenter ini adalah orang-orang yang sudah berusia lanjut. Seperti halnya gambaran umum tentang rumah sakit, gambaran tentang hospice ini pun sangat mengharubiru perasaan. Tapi ada banyak hal saya pelajari dari film ini, terutama bagaimana orang Belanda (yang digambarkan disini) melihat hidup, mati, dan cinta.

Pertama adalah tentang hidup. Hidup adalah pilihan. Seorang laki-laki setengah umur datang diantar oleh pacarnya dengan kursi roda. Saat diwawancara, dengan tenang dia bilang dia senang akhirnya keluar dari daftar tunggu karena seorang pasien barusaja meninggal. Dia berujar: “kehilangan seseorang bisa menjadi berkah untuk orang lain.” Itulah hidup. Dan rupanya dia seorang penggila Internet yang menghabiskan banyak waktunya, ketika sudah sakit, di depan komputer. Dari Internet juga dia menemukan informasi mengenai beberapa hospice dan akhirnya memilih untuk mendaftar di tempat ini. Keesokan harinya dia bernegosiasi dengan seorang petugas untuk memasang Internet di kamarnya tentang siapa yang harus bertanggung jawab terhadap kontraknya (di sini berlangganan Internet biasanya minimum untuk satu tahun). Dia merasa waktunya tidak akan lama lagi dan jika diatasnamakan pihak hospice maka setelah kepergiannya Internet bisa dipakai siapapun di tempat tersebut. Lalu hari berikutnya datanglah seorang kurir yang membawakan satu set komputer dengan layar 17 inch dilengkapi loud speakers dan printer (beberapa penghuni hospice sempat mengeluhkan hiruk-pikuk ini). Laki-laki ini juga memilih-milih sendiri guci yang dia mau untuk menyimpan abunya setelah dikremasi. Tidak berapa lama tinggal di hospice, dia meninggal.Ya, selagi masih hidup, seberapapun batas hidup mungkin sudah dibatasi oleh sakit, kita masih punya pilihan-pilihan.

Lalu tentang mati. Yang dijadikan pilihan. Seorang bapak tua yang digambarkan di awal film ini datang diantar seorang putrinya dengan ambulans dan tempat tidur dorong. Di kamar yang sudah disiapkan untuknya, foto-foto isteri dan anak-anaknya serta sebuah gambar dirinya sudah dipasang dengan rapi. Setelah bapak ini dipindahkan di tempat tidurnya, masih ditunggui oleh puterinya, seorang perawat/petugas datang dan menanyakan beberapa detil mengenai latar belakangnya. Salah satu pertanyaan, yang bagi telinga Indonesia saya masih sangat asing, adalah: “do you consider euthanasia?” Lalu bapak itu menjawab dengan susah payah, “ya, saya pernah memikirkannya tapi belum memutuskannya.” Tidak ada yang berteriak histeris mendengar pertanyaan atau jawaban ini. Pilihan untuk meneruskan hidup atau tidak diperlakukan sama saja seperti halnya pilihan bapak ini untuk memutuskan tinggal di hospice karena tidak ingin membebani keluarganya. Tapi bapak ini hanya sempat tinggal di sana selama satu hari saja. Karena hari berikutnya dia meninggal.

Tentang cinta. Yang membebaskan. Seorang laki-laki penderita kanker stadium akhir (yang sayangnya tidak jelas kanker apa) memutuskan untuk tinggal di hospice dan menghentikan semua obat yang diminumnya. Bapak yang satu ini nampak sangat emosional, selalu menangis ketika diwawancara dan bercerita tentang dirinya. Dia berujar bahwa keputusan untuk tinggal di hospice adalah keputusan yang sangat berat karena dia akan berjauhan dengan isteri yang dicintainya dan tidak bisa lagi tidur di sampingnya. Tetapi pilihan ini adalah yang terbaik karena dia tidak ingin membebani isterinya dan agar isterinya tetap bisa menjalani kehidupannya sendiri dan tetap menjadi bagian dari dunia luar. Dia tidak ingin mengikat isterinya dengan penyakitnya atau keadaan sakitnya.

Masih tentang cinta. Ekspresi cinta. Seorang ibu lanjut usia dan sudah agak pikun tinggal di hospice sudah lebih lama dari ketiga laki-laki yang disebut di atas. Yang sangat menyentuh adalah tiap kali suaminya datang menjenguk, dia akan memanggilnya “lief” (love) atau “meisje” (sweetheart), mencium bibirnya dan menatapnya dengan penuh cinta. Tangan keriput mereka saling mengelus, atau bertautan. Ketika si ibu sudah semakin sakit, anak dan suami menemaninya disekitar tempat tidurnya. Sang suami memandangnya sambil mengusap airmata di pipinya. Si anak mengelus-elus punggung tangannya. Mungkin di bagian ini ibu itu akhirnya meninggal. Cinta adalah ekspresi; ekspresi cinta. Dan ekspresi cinta tidak seharusnya dibatasi oleh umur atau penyakit. Apalagi oleh undang-undang.

Lalu pasien baru akan datang dan pergi lagi. Tapi cerita tentang hidup, mati, dan cinta akan terus bisa disaksikan di tempat seperti ini. Jika di awal film saya merasa dokumenter seperti ini akan cenderung eksploitatif, pada akhir film saya bersyukur sudah pernah melihatnya karena ternyata ada banyak hal indah bisa dipelajari dari sana. Ada hal-hal baru yang selama ini tidak biasa saya lihat di tempat saya dibesarkan, tentang pilihan-pilihan dalam hidup, tentang mati yang menjadi pilihan, dan, ini yang paling saya suka, tentang cinta. Cinta yang membebaskan dan ekspresif.

Wednesday, December 13, 2006

Prasangka Poligami

"Anda mau jadi partner saya untuk 'berbagi suami'?"

Yang di atas bukan pertanyaan saya, tapi seandainya anda seorang perempuan (tanpa melihat status anda) tiba-tiba mendapatkan pertanyaan seperti yang di atas dari seorang perempuan lain, apa yang akan anda jawab? Atau, untuk menjawab mungkin tidak bisa langsung, cepat, dan tangkas. Mungkin pertanyaannya saya ganti, apa yang menjadi pertimbangan pertama anda untuk menjawab atau tidak menjawab pertanyaan di atas?

Yang sering dibicarakan orang adalah apa kira-kira yang menjadi alasan bagi seorang laki-laki untuk berpoligami( lihat disini ). Tapi saya jadi pingin tahu, kalau seandainya benar-benar ada seorang perempuan yang ikhlas dan rela mencarikan suaminya isteri muda, kira-kira bagaimana tanggapan perempuan yang dia "lamar" tersebut. Saya coba bayangkan 10 kemungkinan reaksi dari 10 perempuan yang berbeda:

1. Seorang perempuan monogamis sejati akan langsung berpikir: "Perempuan ini nggak waras, ngapain juga saya pikirin?"

2. Seorang calon artis yang masih lajang mungkin akan berpikir: "Err... mungkin ada baiknya saya tanya dulu latar belakang dan CV suaminya ... siapa tahu bisa membantu proyek album rekaman saya."

3. Seorang aktivis perempuan pembela HAP (hak asasi perempuan) akan mengerutkan dahi dan berpikir: "Ada yang menarik dari perempuan ini, dia sadar betul esensi keperempuanannya, dia bisa mengelola hak-hak seksual dan ekonominya."

4. Seorang janda miskin dengan anak tiga, dengan senyum penuh syukur mengatakan: "Anda sungguh mulia."

5. Seorang psikolog perempuan mungkin akan berpikir: "Jangan-jangan suaminya suka nyiksa isteri?"

6. Seorang isteri muda dari seorang pengusaha obat kuat khusus laki-laki mungkin akan tersenyum sambil bertanya: "Udah kewalahan ya, Jeng?"

7. Seorang isteri tua dari seorang pengusaha ayam potong mungkin akan mencibir: "Yee, telat...."

8. Seorang tetangga perempuan yang suka usil akan mulai menggosip: "Psst....psst, si Tante itu punya PIL, makanya dia nyariin WIL untuk suaminya..."

9. Seorang perempuan muda yang ditemuinya di sebuah nightclub mungkin tersenyum kecut: "Jangan-jangan dia tahu affairku sama suaminya?"

10. Seorang perempuan pengusaha yang tidak punya waktu untuk mengurus suami tapi kadang masih perlu "relasi" dengan laki-laki mungkin akan menjawab: "Kebetulan...."

Poligami memang selalu diliputi prasangka. Mungkin tidak berbeda dengan perkawinan monogami, kalau rutinitasnya dikelola dengan baik, bisa jadi tidak akan menimbulkan masalah. Tapi sebatas mana "pengelolaan rumah tangga poligami" dianggap baik? Sebatas masing-masing isteri dapat rumah, mobil, dan uang belanja yang sama? Bagaimana mengelola perasaan cemburu jika ternyata yang menjadi isteri-isteri itu bukan perempuan-perempuan "kembar identik" yang mana bisa meminimalisir kemungkinan sang suami lebih cinta pada yang satu dan bukan yang lainnya? Sebatas mana seorang isteri bisa dikatakan ikhlas, atau jangan-jangan dikondisikan untuk ikhlas? Sebatas mana isteri dikatakan sudah "terpuaskan" baik dari segi finansial, seksual, maupun emosional sehingga si suami merasa sudah pantas mengembangkan sayapnya untuk mencari perempuan lain untuk "dipuaskan"?

Namanya juga prasangka jadi ya sah-sah saja kan.....

Monday, December 04, 2006

A Picture's Worth a Thousand Words

Last week we got a very pleasant surprise: our photos appeared in the next year's Leiden calendar! Considering that I'm an amateur, this was a huge achievement for me. For 2007 calendar, the committee had set a theme: 'after the disaster". What they meant was actually the explosion of a ship loaded with gun powder in the center of Leiden in 1807 . But it seemed that many of the photographers also included the historical fire at the City Hall in 1929 (including myself). When I accidentally took the picture of a fire-engine-turned-into- a-wedding-car I never thought I would send it to a contest. But then I decided to do so. To my eyes, it shows a combination of a reminiscence of the 1929 fire at the city hall and a present day festivity of a wedding ceremony (I actually titled it as "after the fire, here come the bride and groom"). In itself it becomes a symbol of a hope for the future and a remedy to a painful tragedy. And it worked! The jury found it original and creative. It eventually appeared on the August page of the calendar.
However, as a picture's worth a thousand words, you can have your own words about it (or them).


W. Sushartami, "Een trouwauto die hiervoor een andere dients bewees aan het Stadhuis", appears on 2007 Leiden Calendar (August)



Djoko M. Sunarto, "Een glas-in-lood afbeelding van het Leiden voor de ramp", appears on 2007 Leiden Calendar (November)