Saturday, September 30, 2006

Tato

Dari dulu saya pingin sekali punya tato. Saya bayangkan akan 'gaya' sekali dengan punya tato di kaki dengan satu motif etnis. Tapi dulu saya pernah diancam oleh ibu tidak boleh pulang kalau menato (atau men-tato) tubuh saya (waktu itu saya menelepon beliau dari Singapura). Setelah menikah, sebetulnya saya bebas saja kalau mau bikin tato karena suami tidak pernah mengancam untuk mengunci pintu rumah kalau saya pulang dengan tubuh bertato. Tapi sekarang halangannya, saya terlalu takut pada proses pembuatan tato itu. Saya bayangkan pasti akan sakit sekali. Saya selalu ngiri melihat teman cewek saya dari Australi yang punya beberapa tato di tubuhnya. Yang paling atraktif adalah yang di belakang lehernya. Apa tidak sakit ya waktu membuatnya? Untuk mengobati keinginan terpendam saya, suami memberikan tato stiker ini. Akhirnya saya punya juga tato di kaki.

Tapi kenapa ibu saya dulu melarang saya punya tato? Kata beliau tato identik dengan 'gali' (Jawa: preman). Dulu saya punya tetangga seorang 'gali', tatonya banyak. Di tahun 80'an, dia ditemukan mati, katanya korban 'petrus' (penembakan misterius). Cerita-cerita heroik tentang keampuhan tetangga saya yang gali ini (yang katanya tubuhnya tidak tembus peluru anggota 'petrus') bertumpang tindih dengan cerita-cerita propaganda pemerintah yang ingin 'menghapuskan' kriminal. Sebagian orang memuji pemerintah dan para 'petrus'nya, sebagian lagi memuji para 'gali' yang dianggap simbol 'perlawanan' kekuasaan pemerintah. Cerita tidak tembusnya tubuh para gali dengan peluru 'petrus' seolah melambangkan 'loyonya' kekuasaan pemerintah untuk penetrasi pada kehidupan orang-orang kampung.

Tapi bagaimanapun ceritanya, orang-orang bertato mulai gelisah karena mayat para 'gali' korban 'petrus' ini dipamerkan kepada publik dengan fokus utamanya adalah tubuhnya yang bertato. Efeknya: sementara orang takut membuat tato di tubuhnya, yang sudah bertato berusaha keras membersihkanya.

James T. Siegel dalam bukunya “A New Criminal Type in Jakarta: Counter-Revolution Today (1998) menuliskan ulasan yang menarik mengenai ‘petrus’ yang dikatakan Suharto sebagai ‘shock therapy’ terhadap para gali. Penumpasan gali merupakan salah satu agenda Suharto untuk menjaga ‘stabilitas’ nasional. Sementara pemerintah menuding para gali ini ‘sadis’ apa yang mereka lakukan pun tidak kalah sadisnya: beberapa mayat gali ditemukan dengan puluhan tusukan atau lima atau enam peluru di tubuhnya. Ditanyakan Siegel: kalau dengan satu tusukan atau satu peluru saja sudah bisa mematikan, apa perlunya tusukan bertubi-tubi dan berondongan peluru? Untuk menjawab ini bisa juga dikaitkan dengan pertanyaan: apa perlunya mayat-mayat para gali itu ‘dipertontonkan’ kepada khalayak?

Ciri-ciri utama dari mayat-mayat ini adalah tato di tubuh mereka.Tapi makna tato bagi para gali ini tidak lagi sama ketika mereka masih hidup dan ketika sudah menjadi mayat. Tato—yang salah satunya dituliskan Siegel bergambar perempuan telanjang itu—semasa hidup pemakainya mungkin melambangkan virilitasnya atau kelelakiannya. Tapi di mata para ‘Petrus’ tato ini selayaknya sebuah sasaran tembak. Dan ketika pemakai tato ini ditemukan sudah menjadi mayat—dengan puluhan tusukan atau beberapa peluru—maka mayat bertato ini menjadi 'alat peringatan' bahwa kekuasaan pemerintah tidak terkalahkan; jadi masyarakat jangan main-main.

Tato di tubuh mayat-mayat ini tidak lagi punya makna sejarah yang sifatnya pribadi bagi si pemakainya. Tidak lagi berarti apapun apakah orang bertato perempuan telanjang, ular naga, atau bunga mawar. Tato-tato di mayat-mayat inilah yang akhirnya menorehkan sejarah dan identitas kolektif para pemakainya sebagai ‘kriminal’ yang harus dibasmi negara.

Ah, untung saja tato di kaki saya ini hanyalah bersifat sementara dan mudah dihapus. Jika nanti saya pulang ke Indonesia masih ada rasia orang bertato, saya sudah menyiapkan baby-oil untuk menghapusnya.

Tuesday, September 26, 2006

Oleh-oleh

Minggu lalu kami jalan ke Paris dan Berlin. Di Paris tentu kami sempat mengunjungi Eiffel Tower. Tetapi menara ini lebih indah dan romantis di dalam film-film daripada kenyataannya. Kami juga mengunjungi Musee d'Orsay dan Musee du Louvre. Sayang, di museum kedua pengunjung tidak boleh bikin foto, padahal maunya punya juga foto disamping lukisan Nona Monalisa itu (sebetulnya sempat nyuri-nyuri juga tapi saya tidak berani menunjukkan kepada anda semua disini, ntar ketahuan nyurinya dong). Saya ada tips untuk anda yang ingin berkunjung ke Paris (untuk yang pertama kalinya dan sebagai turis): pertama, dan jika anda tidak bisa berbahasa Perancis, setidaknya hapalkan cara membaca nama tempat dan jalan. Contoh kasus adalah untuk membaca Champs-Elysees (boulevard paling terkenal yang berujung Arc de Triomphe) yaitu [shazelize]. Jika tidak, anda akan terpaksa menuliskannya di secarik kertas dan menunjukkannya kepada penjual tiket metro atau bis kota.

Kedua, beli tiket bus tour "Hop-0n-hop-off" (L'open Tour), ini sangat membantu anda untuk mengunjungi tempat-tempat terkenal di Paris (saya juga melakukannya di Brussel tahun lalu). Tapi bisa juga anda berkelana dengan Metro dan menemukan beberapa kejutan manis, misalnya, sekelompok mahasiswa seni musik yang "ngamen" di lorong subway memainkan repertoire klasik! Ketiga, beli juga Paris museum card, karena dengan ini anda tidak perlu antri dan kalau memang anda pecinta museum, anda akan mendapatkan keuntungan berlipat karena dengan 30Euro untuk dua hari anda bisa mengunjungi puluhan museum dan monumen.

Di Berlin, saya juga punya tips jika anda senang 'jalan' dan belajar sedikit tentang kota-kota yang anda kunjungi, yaitu: ikutlah Insider Tour (www.insidertour.com). Anda bisa memilih beberapa paket tour programmes, misalnya The Famous Walk (durasinya empat jam). Dengan dipandu seorang tour guide dalam bahasa Inggris, anda akan diajak mengelilingi Berlin (Timur), diantaranya mengunjungi Berliner Dom, Checkpoint Charlie, Holocaust Memorial, area dimana bunkernya Hitler pernah dibangun, dan tentu saja Brandenburger Tor. Tips yang kedua, beli Berlin Welcome Card, karena dengan ini anda punya akses ke semua public transport untuk tiga hari plus discount untuk beberapa tourist objects. Sempatkan juga naik ke Teletower (di Alexanderplatz) dan duduk di rotating restaurant di (hampir) puncak menara ini barang untuk mencicipi Capuccino dan kue sambil menikmati pemandangan kota dari atas. Dan satu lagi, saya juga merekomendasikan Hotel Korfu karena disamping hotelnya asyik (plafonnya tinggi, ruang dan jendela besar, tenang, dan breakfast buffet-nya memuaskan), hotel ini terletak di pusat kota; di seberang Memorial Church, hanya lima menit jalan ke stasiun Zoologische Garten, dan berada sekitar jalan Kurfurstendamm (atau Ku'dam) yang sangat terkenal.

Oleh-oleh untuk anda, foto-foto ini...

Menara Eiffel dan Vespa (Paris)




Akhirnya bertemu (posternya) Zizou dan musti rela dikaburkan demi dapat gambar wajahnya dengan jelas, hehe... (Champs-Elysees boulevard)

Streetdancers di Champs-Elysees



"Olympia" (Lukisan Edouard Manet, 1863), Musee d'Orsay Paris


Book Burning Monument di halaman Humboldt University, Berlin



(Dekat) Checkpoint Charlie, Friedrichstrasse, Berlin


Berfoto bersama seorang "tentara bayaran" di Checkpoint Charlie; bayarnya: per orang 1Euro untuk satu kali foto, hehe...
(mereka ini mahasiswa yang berpakaian a la tentara Amerika saat perang dingin)


Semua sedang mendengarkan Scott (tour guide dari Insider Tour, yang juga seorang Doctor di bidang German Arts) yang menjelaskan tentang Holocaust Memorial.


East Side Gallery, Berlin



Berlin Hbf (Haupbahnhof), Central Station yang baru di Berlin


Friday, September 08, 2006

The People (of NU) Vs Infotainment

Bulan lalu NU mengeluarkan fatwa (walaupun kemudian Hasyim Muzadi mengatakan itu bukan fatwa melainkan jawaban hukum) haram untuk infotainment. Lalu diperjelas lagi bukan infotainmentnya yang haram tapi isinya yang lebih banyak tentang pergunjingan. Prof Said Aqil Siradj dalam Topik Minggu Ini SCTV (2 Agustus 2006) menggunakan kata gibah untuk merujuk pergunjingan ini. Di pihak NU, tv diidealisasikan tidak saja sebagai madia hiburan tapi juga selayaknya media edukasi. Disamping itu, moralitas agama pun dipakai sebagai batasan untuk menilai halal-haramnya sebuah acara tv.

Walaupun niatnya baik, yaitu memperbaiki mutu siaran tv (dengan catatan: sesuai selera NU), tapi tentu tidak bisa begitu saja menggunakan batasan haram dan halal di ruang publik yang sebelumnya tidak mempunyai konsensus apapun tentang halal dan haramnya sebuah tayangan. Lebih jauh NU mengharapkan infotainment hanya menyiarkan yang baik-baik saja, misalnya artis yang pergi umroh, atau beramal. Saya sendiri sebenarnya sering berkernyit dahi kalau melihat tayangan infotainment (saking ngerinya melihat perilaku beberapa (oknum) artis yang membeberkan rahasia rumah tangga dan menggunakan bahasa-bahasa 'vulgar' di depan kamera), namun saya tidak pernah membayangkan jika infotainment hanya boleh menyiarkan berita-berita seperti yang disebutkan NU tersebut. Setidaknya saya percaya bahwa sesungguhnya para wartawan infotainment pun sudah terikat dengan kode etik jurnalisme Indonesia, yang tanpa menggunakan parameter halal-haram pun, jika ditaati maka akan menghasilkan representasi yang layak untuk publik.

Kebetulan saya baru saja menonton film lawas The People vs. Larry Flynt (1996). Film ini (mau) bercerita tentang revolusi majalah porno di AS dan cukup populer serta menerima pujian di kalangan pelaku film. Pada waktu saya menonton film ini saya mengira pengalaman Larry Flynt, bos majalah porno Hustler, cukup revolusioner, walaupun tidak berarti saya menyetujui ekspansi majalah pornografi. Tapi kemudian saya menemukan berita-berita bahwa ada banyak hal yang tidak diungkapkan oleh film ini, hal yang pada akhirnya menguntungkan pihak Flynt sehingga membangun imej dia sebagai pahlawan kebebasan media di AS.

Menurut Diana Russel, bersama dengan kelompok feminis yang bersuara lantang mendemo film ini, kenyataan bahwa Flynt adalah seorang fedofil (bahkan mencambuli anaknya sendiri), misoginis, rasis, dan homofobik tidak diungkapkan, bahkan cuma disiratkan pun tidak. Padahal nilai-nilai ini tidak hanya dipraktekkan dalam kehidupan pribadinya sendiri tapi bahkan dituangkan juga dengan cukup vulgar di foto dan kartun yang ada di majalah tersebut. Disayangkan oleh para feminis ini bahwa visualisasi-visualisasi di majalah yang menggambarkan perilaku-perilaku ini tidak ditampilkan dalam film. Yang terjadi justru di film tersebut Flynt digambarkan sebagai sosok suami yang baik dan pejuang kebebasan media yang gigih. Dengan kata lain, para feminis ini mengkritik film tersebut telah mendistorsi kenyataan demi kepentingan Flynt khususnya dan industri pornografi umumnya. Yang seharusnya dianggap kriminal malah ditampilkan selayaknya pahlawan (untuk membaca protes para feminis ini anda bisa klik disini ).

Bagi para feminis ini, film The People vs. Larry Flynt sudah mendistorsi realitas dengan kebohongan dan penggelapan sejumlah fakta. Kalau kegigihan Flynt menentang pemerintah yang akan membreidel majalahnya digambarkan dalam film tersebut dengan gamblang, maka perilaku dan ide-ide dia tentang fedofilia, misogini, dsb tersebut, juga harus ditampilkan. Karena dengan representasi yang terdistorsi, dengan penggelapan kenyataan bahwa Flynt melakukan tindak kriminalitas seksual, maka penonton yang tidak mengenalnya akan menilainya tidak sesuai kenyataan. Jadi, kalau pada akhirnya banyak penonton suka dengan film ini dan memuji Flynt, itu dikarenakan muslihat pembuat film. Kalau saja representasi tentang Flynt dan majalah Hustler lebih mendekati ke realitas sesungguhnya, pasti tidak banyak orang memuji film ini. Artinya, jika tayangannya seimbang maka penonton akan lebih bisa menilai sendiri apakah Flynt itu bajingan atau pahlawan.

Penonton infotainment pun harusnya jangan dianggap terlalu naif dan bodoh sehingga dikhawatirkan akan terjerumus dengan realitas 'haram' yang disiarkan oleh tayangan infotainment tersebut. Penonton infotainment bukanlah publik yang hanya bisa mencontek habis-habisan apa yang ditampilkan tv. Kalau semua artis ditampilkan pergi umroh dan beramal, maka penontonnya pun akan ikut-ikutan pergi umroh dan beramal. Kalau semuanya ditampilkan kawin cerai dan ribut sama keluarganya, maka semua penontonnya pun akan ikut-ikutan kawin cerai dan ribut dengan sesama keluarga. Justru dengan tayangan yang tidak secara ekstrim disanitasi dari segala yang dianggap berbau 'haram' maka penonton akan lebih bisa melihat realitas lebih seimbang. Lagian, does such a sanitized world ever exist?