Saya ditanya seseorang apa pendapat saya tentang Playboy Indonesia, maksudnya, apa saya setuju majalah laki-laki dewasa asal Amerika ini juga beredar di Indonesia. Jawaban saya tidak, saya tidak setuju. Bukan semata karena kata orang Playboy mengumbar sensualitas perempuan tapi karena saya melihat masih ada banyak kebutuhan media yang lebih “pas” untuk orang Indonesia saat ini. Media yang menurut saya bisa memenuhi kebutuhan publik untuk memahami keberadaan, hak dan kewajiban pembacanya sebagai bagian dari sebuah ‘publik’. Idealnya, saya pikir, lebih baik uang investasi untuk memproduksi Playboy dipakai untuk membuat “edisi murah” koran-koran seperti Kompas, Koran Tempo, atau The Jakarta Post. Tetapi, yang namanya ideal tentu sering jauh dari realitas.
Apa yang akan saya bahas disini tidak lagi hanya masalah Playboy, tapi media pornografi pada umumnya. Karena, kalau tidak malu-malu mengakui, Playboy Indonesia tidak bisa dipisahkan dari kakeknya Playboy USA. Jadi saya kuatir juga dengan praktek peredaran Playboy di Indonesia. Sama seperti halnya VCD/ DVD bajakan, atau komik dan stensilan yang berisi adegan-adegan percintaan yang vulgar serta tubuh perempuan yang telanjang mudah didapat oleh anak-anak di bawah umur, Playboy dan majalah laki-laki lain yang semacam pun pasti akan sangat mudah diakses. Di Belanda, tempat saya tinggal saat ini, majalah khusus laki-laki dewasa dijajakan dengan terbuka di toko-toko buku baik di stasiun, airport, mau pun di pusat perbelanjaan. Biasanya ada di rak agak-atau paling-atas. Tetapi, seperti halnya membeli rokok dan minuman keras, jika calon pembelinya masih kelihatan belum berumur, maka akan ditanya kartu identitasnya. Tetapi di Indonesia apakah anda bisa menjamin?
Kaum feminis mempunyai pandangan yang beragam tentang Playboy, sebagai bagian dari genre produk-produk media untuk laki-laki dewasa. Ada yang mengatakan bahwa asalkan si perempuan model itu memutuskan sendiri dengan bebas untuk difoto—atau bermain di film porno—tidak ada eksploitasi disana. Tetapi apakah sesederhana itu? Apakah batas eksploitasi?
Beberapa waktu lalu saya menonton salah satu acara TV (maaf saya lupa detail nama dan produksinya) yang memberikan liputan investigasi industri film porno di Amerika. Ditayangkan disitu seorang ibu muda, single parent, dari Inggris sengaja datang ke Amerika (surganya industri film porno) untuk menjadi bintang film porno. Alasan utamanya mencari uang. Rupanya dia sudah mempunyai kontak dengan seseorang yang kemudian menjadi manajernya. Akhirnya mereka bertemu dengan seorang produser dan mereka setuju dia membintangi beberapa film. Sebelum menandatangani kontrak ada satu formulir pertanyaan mengenai latar belakang dan preferensi seksualnya—apakah dia keberatan dengan adegan-adegan percintaan tertentu. Di awal-awal shooting perempuan ini nampak senang saja karena dia menganggap adegan-adegan yang harus dijalani masih bisa ‘ditoleransi’ apalagi setiap saat si produser dan crew film itu memujinya sebagai perempuan yang cantik, sexy, dan menggairahkan. Lalu ada eskalasi tingkat kevulgaran adegan yang harus dia jalani. Sampai pada suatu hari si produser memintanya membintangi film dengan adegan ‘gang bang’. Dia ragu, tapi si manajer berhasil meyakinkannya. Shooting belum dimulai dia sudah mulai ketakutan bahkan kemudian lari terbirit-birit meninggalkan setting. Tapi kemudian si produser membujuknya, merayunya, sampai akhirnya mengatakan bahwa si perempuan ini tidak mau peduli dengan orang lain (maksudnya para pemain yang lain dan crew filmnya yang masih menunggunya), melalaikan kewajibannya, dan merugikan produsernya. Akhirnya perempuan ini setuju, mungkin karena merasa bersalah, untuk melanjutkan pengambilan gambar.
Menurut anda ini eksploitasi atau bukan? Tidak ada paksaan fisik dan ancaman verbal, tapi ada usaha-usaha pendistorsian realitas pada modelnya agar sesuai dengan realitas industri film porno ini. Dan tentu saja yang menguntungkan secara ekonomi si produser atau pemilik modal. Konsep dan realitas si perempuan ini tentang tubuh dan preferensi seksualnya tidak lagi ada di tangannya sendiri tapi di tangan si produser—ini bisa disebut ‘kolonialisasi seksual’ menurut Andrea Dworkin. Tidak melalui paksaan fisik tapi ideologi—mungkin hampir sama dengan cara kerja BKKBN zaman Orde Baru yang ‘meneror’ secara ideologi bahwa perempuanlah yang harus ber-KB.
Ada sebagian feminis lagi yang sangat anti dengan produksi-produksi semacam ini. Salah satunya adalah Andrea Dworkin, nama yang sudah saya sebut di atas. Disebutkannya pornography berasal dari bahasa Yunani “pornÄ“” dan “graphos” yang artinya “writing about whore” lebih-lebih adalah tentang “pelacur yang paling murah” (Pornography: Men Possessing Women, 1982: 199). Dan pornografi pada masa kontemporer ini pun, menurut Dworkin, masih mengacu pada konsep awal “pencitraan tentang pelacur murahan” tersebut. Tidak ada yang berubah kecuali bahwa sekarang menggunakan alat dan media perekam yang lebih canggih. Sebagai layaknya seorang penjaja seks dalam kehidupan nyata, dalam bahasa gambar pun juga hanya ada satu tujuan: pencitraan perempuan sebagai “pelayan kebutuhan seksual laki-laki”. Maka, jika anda amati lagi majalah-majalah atau film dalam genre ini--bahkan Playboy Indonesia edisi 1-3 sekalipun—anda akan menemukan bahwa untuk memenuhi tujuan pencintraan perempuan penjaja seks diperlukan kode-kode visual seperti ini: pakaian dalam yang seksi dan indah, setting kamar tidur, kasur dan bantal, dan pose yang “menyerah” atau “mengundang”. Betapapun artistik katanya, atau romantis, bahasa gambar yang dituju adalah bahasa gambar yang sesuai dengan konsep “pencitraan tentang pelacur murahan”.
Saya tidak sedang menghujat profesi PSK secara umum—karena saya percaya sebagian memang terpaksa melakukannya. Yang saya garis bawahi disini adalah bahwa gambar-gambar pornografi tersebut (sesuai dengan konsep Dworkin) telah meletakkan perempuan—khususnya modelnya dan umumnya semua perempuan—dalam posisi (atau berpotensi) sebagai penjaja seksual. Perempuan menjajakan tubuhnya dan laki-laki adalah pembelinya. Pembeli adalah raja. Dan, seiring dengan berkembangnya industri sex dan teknologi yang mendukungnya—maka dibutuhkan semakin banyak “pelacur” untuk memenuhi tuntutan pasar. Dan semakin besarnya persaingan semakin dibutuhkan kreativitas penciptaan citra “pelacur” ini. Yang terjadi akhirnya, kita menormalisasi gambar-gambar ini:
“Real women are tied up, stretched, hanged, fucked, gang-banged, whipped, beaten, and begging for more [...] The technology by its very nature encourages more and more passive acquiescence to the graphic depictions. Passivity makes the already credulous consumer more credulous. He comes to the pornography a believer; he goes away from it a missionary. The technology itself legitimizes the uses of women conveyed by it” (Dworkin, Pornography, 1982: 201-2). Jangan lupa, batas pencitraan dan realitas seringkali menjadi sangat kabur. Menurut saya, inilah the simulacra of porneia.
Jadi sebetulnya apa hubungannya antara pornografi dan kebebasan bersuara? Publik yang semacam apa yang bisa muncul dari sebuah relasi gender yang dicitrakan dalam media-media porno tersebut: dimana perempuan sebagai "pelayan" dan laki-laki "majikan"? Suara siapa yang mendapatkan kebebasan melalui produk-produk ini? Yang pasti bukan suara saya. Mungkin suara anda?
Sunday, July 30, 2006
Wednesday, July 19, 2006
Mana janjimu?
Barusan saya menelepon ke Jogja dan sempat mendapat "sambungan khusus" dengan keponakan cowok yang berumur tiga tahun namanya Rico. Setelah menjanjikan sebuah traktor warna merah akhirnya saya bisa mendengarkan deklamasinya (dengan sedikit cedal tentu saja). Begini bunyinya:
"gempa bumi
rumahku ambruk
rata tanah
mainanku rusak semua
pak Jusuf Kalla
mana janjimu?"
haha....sayangnya ibunya gagal membawanya ikut berdemo bersama tetangga-tetangga menghadap pak JK yang sedang berada di Yogya saat ini (salah satunya karena dilarang oleh ibu saya). Di balik telpon dan cerita lucu-lucu saya dengan ibu dan kakak-kakak barusan sebetulnya banyak tersimpan kepedihan terutama mendengar cerita mereka bagaimana sampai saat ini bantuan dan janji pemerintah pusat untuk para korban gempa masih saja tidak terealisasi. Sedikit saya selipkan komporan di telinga kakak saya: "ayo ikut demo, solidaritas untuk para tetangga desa". Saya tahu ibu saya sudah siap mencubit di belakangnya. Mungkin beliau bersyukur saya tidak di Jogja saat ini.
"Pak Jusuf Kalla, mana janjimu?"

Rico dengan sepupunya (salah satu keponakan saya yang lain lagi) bernama Opie di tempat "pengungsian"
"gempa bumi
rumahku ambruk
rata tanah
mainanku rusak semua
pak Jusuf Kalla
mana janjimu?"
haha....sayangnya ibunya gagal membawanya ikut berdemo bersama tetangga-tetangga menghadap pak JK yang sedang berada di Yogya saat ini (salah satunya karena dilarang oleh ibu saya). Di balik telpon dan cerita lucu-lucu saya dengan ibu dan kakak-kakak barusan sebetulnya banyak tersimpan kepedihan terutama mendengar cerita mereka bagaimana sampai saat ini bantuan dan janji pemerintah pusat untuk para korban gempa masih saja tidak terealisasi. Sedikit saya selipkan komporan di telinga kakak saya: "ayo ikut demo, solidaritas untuk para tetangga desa". Saya tahu ibu saya sudah siap mencubit di belakangnya. Mungkin beliau bersyukur saya tidak di Jogja saat ini.
"Pak Jusuf Kalla, mana janjimu?"

Rico dengan sepupunya (salah satu keponakan saya yang lain lagi) bernama Opie di tempat "pengungsian"
Saturday, July 15, 2006
Man of the Month
Rembrandt van Rijn mungkin tidak pernah membayangkan akan menjadi ikon kejayaan Belanda empat ratus tahun setelah kelahirannya (15 Juli 1606). Tahun 2006, yang berarti juga 337 tahun setelah kematiannya (dia meninggal tahun 1669), ulang tahun Rembrandt dirayakan besar-besaran di Belanda (utamanya di Leiden dan Amsterdam). Perayaannya sendiri sudah dimulai sejak tahun lalu. Salah satunya dengan lomba foto untuk ilustrasi official calendar dari kota Leiden yang bertema Rembrandt.
Menyadari bahwa saya bukanlah seorang kurator lukisan, ada hal lain yang sengat menarik di luar aspek-aspek aestetik lukisan-lukisan Rembrandt. Saya baca bahwa Rembrandt adalah pelukis yang paling terkenal sangat suka melukis wajahnya sendiri. Ada lebih dari 100 self-portraits yang dibikin Rembrandt semasa hidupnya. Konon, para ahli sejarah seni mulai bertanya-tanya apakah dia seorang 'narcissist'.
Tapi biar sajalah para arts historians itu berkerut kening memikirkan jawaban dari pertanyaan di atas. Saya justru lebih tertarik untuk bertanya: megalomaniac-kah orang Belanda sehingga merasa perlu merayakan 400 tahun ulang tahun Rembrandt selama 3 hari berturut-turut (di luar kampanye yang sudah dilakukan sejak tahun lalu), dengan pesta (untuk tidak mengatakan mabuk), bazaar, pemasangan poster wajah dan lukisan Rembrandt berukuran raksasa dimana-mana, dan bentuk pesta pora lainnya, hanya untuk mendapatkan kembali kenangan kejayaan dimasa abad emas dulu? Can the four-hundred year old Rembrandt help boost Dutch's present glory? Adakah hubungannya antara Rembrandt yang narsis dan orang Belanda yang megalomaniak?

DM Sunarto, "Self-Portrait", appears on 2006 Leiden Calendar (July)

Huge wall painting in Leiden

The supposedly fashion style of Rembrandt's time.

A seagull is enjoying Rembrandt's self portraits
Menyadari bahwa saya bukanlah seorang kurator lukisan, ada hal lain yang sengat menarik di luar aspek-aspek aestetik lukisan-lukisan Rembrandt. Saya baca bahwa Rembrandt adalah pelukis yang paling terkenal sangat suka melukis wajahnya sendiri. Ada lebih dari 100 self-portraits yang dibikin Rembrandt semasa hidupnya. Konon, para ahli sejarah seni mulai bertanya-tanya apakah dia seorang 'narcissist'.
Tapi biar sajalah para arts historians itu berkerut kening memikirkan jawaban dari pertanyaan di atas. Saya justru lebih tertarik untuk bertanya: megalomaniac-kah orang Belanda sehingga merasa perlu merayakan 400 tahun ulang tahun Rembrandt selama 3 hari berturut-turut (di luar kampanye yang sudah dilakukan sejak tahun lalu), dengan pesta (untuk tidak mengatakan mabuk), bazaar, pemasangan poster wajah dan lukisan Rembrandt berukuran raksasa dimana-mana, dan bentuk pesta pora lainnya, hanya untuk mendapatkan kembali kenangan kejayaan dimasa abad emas dulu? Can the four-hundred year old Rembrandt help boost Dutch's present glory? Adakah hubungannya antara Rembrandt yang narsis dan orang Belanda yang megalomaniak?

DM Sunarto, "Self-Portrait", appears on 2006 Leiden Calendar (July)

Huge wall painting in Leiden

The supposedly fashion style of Rembrandt's time.

A seagull is enjoying Rembrandt's self portraits
Tuesday, July 11, 2006
B.L.A.C.K.

Pernahkah anda membayangkan terlahir dalam keadaan buta dan tuli? Barusan saya menonton film India berjudul Black (directed by Sanjay Leela Bhansali, 2005). Film ini berkisah tentang seorang perempuan bernama Michelle Mcnally (diperankan Rani Mukherjee), putri seorang pengusaha sukses yang frustrasi ketika mengetahui anak sulungnya ini ternyata terlahir buta dan tuli. Film ini memutar balik kehidupan Michelle sejak saat dia bisa mengingat awal hidupnya. Dia frustrasi dan menjadi seperti 'binatang liar' karena ketidakmampuannya memahami kehidupannya yang sama sekali hitam dan sunyi. Ketika puncak keputusasaan ayahnya hampir saja mengirimnya ke pusat rehabilitasi anak cacat mental, sang ibu, yang terlihat rapuh tapi sebetulnya sangat kuat, menemukan seorang guru untuk anak-anak buta dan tuli. Si guru, Debraj Sahai (diperankan oleh aktor lawas Amitabh Bachchan--yang difilm ini nampak dan kedengaran seperti Al Pacino), seorang yang keras kepala dan tidak mengenal kata 'tidak mungkin' akhirnya bersedia menjadi guru bagi Michelle. Sampai akhirnya pada usia 40 Michelle bisa lulus menjadi seorang sarjana dari sebuah universitas untuk anak-anak normal. Pada saat itu, Sahai menjadi seorang tua dengan penyakit alzheimer dan adalah waktunya Michelle berganti peran sebagai gurunya untuk membantunya mengingat kembali kata demi kata. Sama seperti ketika Michelle mulai memahami hubungan antara kata dan makna, gurunya pun mulai mendapatkan kembali ingatannya tentang kata dan makna melalui kata ini: 'water' yang diucapkan oleh Michelle kecil sebagai 'whoah...' Well, that's the film in a nutshell.
Dari segi sinematografi, gambar yang disajikan sangat indah, terutama penekanan pada permainan cahaya alami seperti matahari dan bulan, juga minimalnya cahaya lampu ataupun lilin, yang dengan sendirinya sangat tepat menggambarkan kesan gelap dan sunyi dari judul film ini sendiri. Dari segi akting pemainnya, Ayesha Kapur yang memainkan Michelle kecil (8 tahun) sungguh luar biasa. Dari segi cerita, film ini memberikan gambaran dunia yang lain, yang tanpa warna dan tanpa bunyi, dan usaha manusia untuk hidup dalam dunia itu. Tiap orang adalah spesial bagaimanapun orang lain mungkin memandang anda tidak berharga. Skenarionya juga sangat kuat memberikan detil detilnya. Dan satu lagi, orginal sound tracknya bagus sekali--gabungan antara musik orkestra dan tabuhan-tabuhan perkusi India, dan juga ada track dalam standard jazz (disajikan dalam audio CD yang terpisah).
Saya merekomendasikan film ini jika anda belum menontonnya--tidak saja untuk memahami bagaimana orang lain berjuang untuk hidup di dunia lain yang gelap dan sunyi--dan menghargainya--tapi juga, semoga, untuk mengubah persepsi kita tentang film Bollywood yang melulu dikonotasikan dengan musik folklore, goyang, pemain masal, dan pusar perempuan. Saya belum pernah menonton film India dan dibuat menangis sebelumnya (mungkin karena saya belum banyak nonton film India yang bagus kali, ya?).
"The alphabets for the world start with A,B,C,D,E. But yours start with B,L,A,C,K, black" (Debraj Sahai, Black, 2005)
sumber foto: http://www.bbc.co.uk/shropshire/films/bollywood/2005/02/
pop_up_black_film_gallery_02.shtml
Monday, July 10, 2006
Zizou, you broke my heart!

Bagi yang sudah bukan remaja lagi, masih ingatkah akan cinta remaja anda? Seingat saya, biasanya melibatkan lirik-lirikan, pilih-pilih mana yang paling asik untuk diajak jalan-jalan di malam minggu, hingga akhirnya menemukan seseorang yang paling keren untuk digandeng-gandeng ke pesta ulang tahunan. Lalu tiap hari jadi susah makan dan ga enak tidur. Sampai akhirnya, beberapa minggu atau bulan kemudian, bosan dan bubaran.
Beberapa minggu lalu saya mendapati diri saya mungkin lagi jatuh cinta pada sepak bola. Pilihan hati pertama pada Argentina. Lalu pindah ke Brasil. Yang terakhir menjagokan Perancis. Alasan memilih yang terakhir karena sosok Zinedine Zidane. Bukan hanya karena mainnya jago, tapi juga karena selama nonton tim Perancis bermain saya menilai dia dan timnya sangat santun, decent. Dan senyum "malu-malu" Zizou yang sering ketangkap di kamera itu juga membuat saya semakin jatuh cinta.
Tapi, tiba-tiba saya melihat dia menanduk dada Materazzi. Alamak, nafsu menonton saya langsung hilang. Pujaan saya berubah menjadi "seekor" banteng. Saya langsung patah hati.
Sebelumnya saya selalu melihat sepak bola terlalu "laki-laki". Melalui event semacam World Cup ini dunia kelihatan semakin tidak adil karena memfokuskan begitu banyak energi, uang dan waktu hanya untuk segerombolan laki-laki yang berebut bola (mana ada pertandingan khusus perempuan yang bisa menyedot perhatian seperti ini?). Mungkin saya tidak fair, karena sebelumnya tidak pernah duduk dan menonton satu pertandingan pun. Makanya saya putuskan mengikuti World Cup ini. Dan, setelah menonton, saya agak malu juga mengakui bahwa sepak bola memang mengasikkan untuk ditonton. Tapi sayang sekali insiden Zizou membuat saya berpikir lagi jangan-jangan tuduhan saya yang dulu benar adanya: sepak bola hanyalah permainan segerombolan laki-laki emosional dan egois yang suka cari perhatian dan merajuk jika mainannya diserobot orang lain. Hehehe......kalau anda laki-laki, no hard feelings, ya. I'm just bitching being a broken hearted teenage girl. Dan selayaknya gadis yang patah hati, saya putuskan untuk (sementara waktu) tidak berhubungan dengan laki-laki, eh sepak bola lagi.
(foto dari www.detik.com)
Saturday, July 08, 2006
Saya Mengaku .....
Di tiap misa hari Minggu saya selalu mengaku dosa, doa yang diawali dengan kata-kata ini: "saya mengaku kepada Allah yang maha kuasa dan kepada saudara sekalian bahwa saya telah berdosa ...". Doa ini dibaca keras dan bersama-sama seluruh umat yang ada. Intinya, saya mengaku berdosa dan pengakuan ini tidak melulu saya tujukan pada Tuhan tapi juga pada yang ada di sekitar saya dengan tujuan mereka akan ikut mendoakan saya. Tapi tentu saja dengan mengaku saya tidak langsung mendapat hukuman (bahkan kadang saya tidak merasa punya dosa waktu mengucapkannya) dan mungkin tidak ada akibat yang langsung saya rasakan.
Tapi ceritanya jadi berbeda jika pengakuan tersebut berkenaan sebuah kasus kriminal. Alkisah, seorang anak muda bernama Budi Harjono dituduh telah membunuh ayahnya sendiri, seorang pemilik toko material di Bekasi. Dia tidak mengaku sebagai pembunuhnya, dan bukti-bukti pun dikatakannya sebagai palsu. Tapi tetap saja pihak penyidik (Polres Bekasi) menempatkannya sebagai tersangka. Budi, ibu dan pembantunya dipaksa mengakui skenario yang sudah dibuat. Dibawalah dia ke meja hijau. Setelah enam bulan mencicipi kehidupan penjara, Budi dibebaskan dengan putusan tidak terbukti bersalah. Ini kisah nyata yang penceritaan ulangnya saya buat ala kadarnya (bisa cek dan ikuti kisahnya di SCTV.com, Liputan 6, 5 Juli 2006). Yang ingin saya garis bawahi di cerita di atas adalah: kata-kata pengakuan dianggap sebagai bukti kejahatan yang terpenting, no matter bagaimana caranya pengakuan tersebut didapat. Itu adalah cara kerja (oknum) polisi di Indonesia.
Apakah anda penggemar serial CSI (termasuk CSI Miami atau CSI New York) seperti saya? Film tersebut menarik buat saya, bahkan sempat memberikan inspirasi untuk berubah profesi menjadi seorang ahli forensik. Menonton film ini membuat saya bertanya-tanya: apa betul begitu cara kerja polisi di US sana? Tapi pertanyaan itu tidak penting. Yang lebih penting adalah bagaimana film ini menyiratkan bahwa sebuah kejahatan bisa dibuktikan dengan menempatkan pengakuan tersangka pada urutan paling akhir. Bukti material benar-benar diperlakukan dan diperiksa dengan sangat hati-hati dan menjadi alat pembuktian utama atas sebuah kejadian kriminal.
Hal yang sebaliknya terjadi di Indonesia, seperti kisah saya di atas. Tetapi ada hal lain yang menarik untuk diamati mengenai bagaimana bukti material alat kejahatan dan TKP diperlakukan di Indonesia. Di Derap Hukum (SCTV, 15 April 2006) beberapa waktu lalu saya bergidik sendiri melihat bagaimana tim penyidik kepolisian di Surabaya memperlakukan TKP dan bukti-bukti material dalam kasus kekerasan domestik. Kisahnya adalah: seorang suami "memahat"--bisa dibaca letterlijk karena sebuah obeng dan palu digunakan untuk memangkas--gigi dua isterinya dan melukai alat kelamin mereka dengan gunting. Pada saat penyelamatan korban pun begitu banyak orang menyerbu masuk ke TKP dan dengan bebas pegang apapun yang ada di tempat tersebut. Kalau saja korban tidak berinisiatif menutupi tubuhnya sendiri dengan sarung, maka saya yakin pemirsa acara ini pun akan bisa melihat wajahnya karena kamera menyoroti mereka (yang sama sekali menjadi tidak etis jika dilihat dengan etika jurnalisme). Dalam liputan tim Derap Hukum ke kantor kepolisian, alat kejahatan gunting (masih ada sisa darah kering), palu, obeng dan bukti kejahatan potongan gigi dijajar di sebuah meja yang dikerumuni beberapa orang dari petugas, reporter, dan yang beberapa yang lain tidak jelas posisinya (catatan: semua laki-laki). Benda-benda itu akhirnya beredar ke semua tangan yang ada di sekitarnya tersebut (anda tidak perlu bertanya apa mereka menggunakan sarung tangan atau tidak). Seseorang dari mereka, mungkin dari pihak kepolisian, dengan percaya diri dan gamblang, sambil mengedarkan benda-benda tersebut mengatakan: "gunting ini yang dipakai untuk .... palunya dipakai seperti ini (memperagakannya) ..." Lalu si pelaku diwawancarai dan mengaku melakukan penyiksaan tersebut (alasan kenapa dia melakukannya perlu dibahas di posting yang lain lagi: bahwa dia ingin mendidik isteri-isterinya). Kesimpulannya, bukti-bukti tersebut tidak lagi penting untuk membuktikan suatu kejahatan tetapi hanya untuk memeragakan (menceritakan kembali) sebuah kejahatan yang "dianggap" sudah diakui pelakunya. Tidak penting lagi sidik jari siapa saja ada di benda-benda tersebut.
Di serial CSI seorang tersangka akan tergiring mengakui perbuatannya setelah ditunjukkan bukti-bukti yang kuat. Dengan begini, pengakuan tersangka menjadi bukan yang terpenting. Sebaliknya di kasus-kasus kriminal di Indonesia, seorang tersangka dipukuli dulu untuk mengaku baru buktinya "diadakan". Atau bukti yang ada bisa ditiadakan jika tersangka sudah berhasil dibuat mengaku (ingat kasus pembunuhan wartawan Yogya, Udin, kan?). Di Indonesia, sebuah kasus kriminal memang tidak bisa dipisahkan dengan dongeng, legenda, dan gosip yang bisa direka ulang sesuai kepentingan suasana dan orang yang terlibat. Membandingkan film CSI dan kasus kriminal di acara seperti Derap Hukum ini, saya jadi bingung, mana yang fiksi, mana yang kejadian nyata? Which one is real and which one is hyperreal?
Satu hal lagi, benar, kan, orang Indonesia itu kreatif-kreatif (bandingkan pak JK di posting sebelumnya). Wong kasus pembunuhan aja bisa dikarang skenarionya, dicasting pelakunya, dan direka-reka alat buktinya. Pokoknya asal ada yang mengaku saja.....
Tapi ceritanya jadi berbeda jika pengakuan tersebut berkenaan sebuah kasus kriminal. Alkisah, seorang anak muda bernama Budi Harjono dituduh telah membunuh ayahnya sendiri, seorang pemilik toko material di Bekasi. Dia tidak mengaku sebagai pembunuhnya, dan bukti-bukti pun dikatakannya sebagai palsu. Tapi tetap saja pihak penyidik (Polres Bekasi) menempatkannya sebagai tersangka. Budi, ibu dan pembantunya dipaksa mengakui skenario yang sudah dibuat. Dibawalah dia ke meja hijau. Setelah enam bulan mencicipi kehidupan penjara, Budi dibebaskan dengan putusan tidak terbukti bersalah. Ini kisah nyata yang penceritaan ulangnya saya buat ala kadarnya (bisa cek dan ikuti kisahnya di SCTV.com, Liputan 6, 5 Juli 2006). Yang ingin saya garis bawahi di cerita di atas adalah: kata-kata pengakuan dianggap sebagai bukti kejahatan yang terpenting, no matter bagaimana caranya pengakuan tersebut didapat. Itu adalah cara kerja (oknum) polisi di Indonesia.
Apakah anda penggemar serial CSI (termasuk CSI Miami atau CSI New York) seperti saya? Film tersebut menarik buat saya, bahkan sempat memberikan inspirasi untuk berubah profesi menjadi seorang ahli forensik. Menonton film ini membuat saya bertanya-tanya: apa betul begitu cara kerja polisi di US sana? Tapi pertanyaan itu tidak penting. Yang lebih penting adalah bagaimana film ini menyiratkan bahwa sebuah kejahatan bisa dibuktikan dengan menempatkan pengakuan tersangka pada urutan paling akhir. Bukti material benar-benar diperlakukan dan diperiksa dengan sangat hati-hati dan menjadi alat pembuktian utama atas sebuah kejadian kriminal.
Hal yang sebaliknya terjadi di Indonesia, seperti kisah saya di atas. Tetapi ada hal lain yang menarik untuk diamati mengenai bagaimana bukti material alat kejahatan dan TKP diperlakukan di Indonesia. Di Derap Hukum (SCTV, 15 April 2006) beberapa waktu lalu saya bergidik sendiri melihat bagaimana tim penyidik kepolisian di Surabaya memperlakukan TKP dan bukti-bukti material dalam kasus kekerasan domestik. Kisahnya adalah: seorang suami "memahat"--bisa dibaca letterlijk karena sebuah obeng dan palu digunakan untuk memangkas--gigi dua isterinya dan melukai alat kelamin mereka dengan gunting. Pada saat penyelamatan korban pun begitu banyak orang menyerbu masuk ke TKP dan dengan bebas pegang apapun yang ada di tempat tersebut. Kalau saja korban tidak berinisiatif menutupi tubuhnya sendiri dengan sarung, maka saya yakin pemirsa acara ini pun akan bisa melihat wajahnya karena kamera menyoroti mereka (yang sama sekali menjadi tidak etis jika dilihat dengan etika jurnalisme). Dalam liputan tim Derap Hukum ke kantor kepolisian, alat kejahatan gunting (masih ada sisa darah kering), palu, obeng dan bukti kejahatan potongan gigi dijajar di sebuah meja yang dikerumuni beberapa orang dari petugas, reporter, dan yang beberapa yang lain tidak jelas posisinya (catatan: semua laki-laki). Benda-benda itu akhirnya beredar ke semua tangan yang ada di sekitarnya tersebut (anda tidak perlu bertanya apa mereka menggunakan sarung tangan atau tidak). Seseorang dari mereka, mungkin dari pihak kepolisian, dengan percaya diri dan gamblang, sambil mengedarkan benda-benda tersebut mengatakan: "gunting ini yang dipakai untuk .... palunya dipakai seperti ini (memperagakannya) ..." Lalu si pelaku diwawancarai dan mengaku melakukan penyiksaan tersebut (alasan kenapa dia melakukannya perlu dibahas di posting yang lain lagi: bahwa dia ingin mendidik isteri-isterinya). Kesimpulannya, bukti-bukti tersebut tidak lagi penting untuk membuktikan suatu kejahatan tetapi hanya untuk memeragakan (menceritakan kembali) sebuah kejahatan yang "dianggap" sudah diakui pelakunya. Tidak penting lagi sidik jari siapa saja ada di benda-benda tersebut.
Di serial CSI seorang tersangka akan tergiring mengakui perbuatannya setelah ditunjukkan bukti-bukti yang kuat. Dengan begini, pengakuan tersangka menjadi bukan yang terpenting. Sebaliknya di kasus-kasus kriminal di Indonesia, seorang tersangka dipukuli dulu untuk mengaku baru buktinya "diadakan". Atau bukti yang ada bisa ditiadakan jika tersangka sudah berhasil dibuat mengaku (ingat kasus pembunuhan wartawan Yogya, Udin, kan?). Di Indonesia, sebuah kasus kriminal memang tidak bisa dipisahkan dengan dongeng, legenda, dan gosip yang bisa direka ulang sesuai kepentingan suasana dan orang yang terlibat. Membandingkan film CSI dan kasus kriminal di acara seperti Derap Hukum ini, saya jadi bingung, mana yang fiksi, mana yang kejadian nyata? Which one is real and which one is hyperreal?
Satu hal lagi, benar, kan, orang Indonesia itu kreatif-kreatif (bandingkan pak JK di posting sebelumnya). Wong kasus pembunuhan aja bisa dikarang skenarionya, dicasting pelakunya, dan direka-reka alat buktinya. Pokoknya asal ada yang mengaku saja.....
Wednesday, July 05, 2006
Dari Mata turun ke Hati
Hati-hati dengan mata anda. Maksudku, hati-hati dengan apa yang anda lihat dengan mata anda. Suatu malam bulan lalu BBC 1 menanyangkan feature tentang "possitive psychology" yang intinya bahwa dengan semua pikiran positif maka kehidupan akan jadi lebih baik. Dan, pikiran positif ini sangat berhubungan dengan apa yang anda lihat. Melalui sebuah tes dengan dua grup yang ditunjukkan rangkaian gambar-gambar ditemukan bahwa pikiran positif ini tergantung dari apa yang kita lihat. Jadi, dua kelompok ini dipisah dan diberi input foto-foto melalui projector yang sama sekali berbeda, yang satu disuguhi gambar-gambar korban perang, kecelakaan, orang menangis, dll, sedangkan kelompok satunya ditunjukkan dengan gambar-gambar tentang keluarga yang berkumpul makan bersama, tertawa, berangkulan, dll. Setelah eksposisi foto-foto ini, seorang instruktur membawa sebuah batu bata dan meminta masing-masing kelompok untuk membayangkan apa saja yang bisa berkaitan dengan batu bata tersebut. Dan hasilnya ternyata kelompok yang disuguhi gambar-gambar yang gembira bisa secara kreatif memaknai batu bata tersebut (disebutkan mereka bisa menyebutkan aktivitas atau paralelisme dengan benda lain sampai dengan 47 poin sedangkan yang diekspos dengan gambar-gambar sedih hanya 35 poin). Jadi gambar yang depresif membuat kita jadi kurang kreatif.
Lalu bagaimana nasib kita di Indonesia, nasib anak-anak kita yang setiap hari disuguhi tayangan kekerasan dari koran, majalah, televisi? Juga film horor dan sinetron yang susah masuk akal? Mungkin kita membayangkan nasib anak-anak kita akan jadi sangat tidak kreatif karena selalu disuguhi acara TV dengan tema-tema di atas (ingat juga: kebanyakan anak-anak yang ditinggal kedua orangtuanya untuk bekerja di siang hari maka TV bisa jadi teman paling setia mereka untuk menghabiskan siang). Kita bayangkan anak-anak ini nantinya akan jadi remaja dan orang dewasa yang tidak kreatif dan membosankan.
Tapi bisa jadi bayangan kita salah, nyatanya VP kita, JK, tetap saja sangat kreatif walaupun TV kita penuh dengan tayangan-tayangan bertema kekerasan dan horor. Tempo hari (29 Juni 2006) JK dikabarkan telah mengeluarkan pernyataan 'sangat kreatif' untuk memanfaatkan 'janda-janda' di Puncak, Jawa Barat sebagai bunga penarik kumbang (turis) Arab (baca: the Jakarta Post 29 Juni 2006). Menurutnya (yang kemudian diralat di koran yang sama edisi 1 Juli 2006 setelah tekanan para aktivis feminis), dari sisi ekonomi 'transaksi' ini bisa menguntungkan para janda miskin itu, inilah kutipannya:
"If there are a lot of Middle East tourists traveling to Puncak to seek janda, I think that it's OK," he added, referring to the West Java mountain resort and using the Indonesian term denoting either widows or divorcees.
Disamping perbaikan ekonomi, "perkawinan" (apapaun bunyi kontraknya) dengan para turis Timur Tengah ini diharapkan menghasilkan keturunan yang bermuka 'indo', dus memperbaiki keturunan generasi muda Indonesia di masa depan. Dan, nantinya, Indonesia akan dibanjiri lebih banyak lagi dengan artis-artis televisi bertampang 'pretty'. Demikian ini kata-kata JK:
"If the janda get modest homes even if the tourists later leave them, then it's OK. The children resulting from these relationships will have good genes. There will be more television actors and actresses from these pretty boys and girls," he said.
Hhhmmm....kalau begitu bisa jadi justru tayangan-tayangan tersebut di atas membantu kretivitas orang Indonesia (baca: kreativitas yang dihasilkan oleh logika-logika program kriminalitas, film-film horor dan sinetron-siteron tentang perempuan-perempuan yang berebut laki-laki). Saking kreatifnya seperti bapak JK tersebut (bayangkan kata kunci ini: perdagangan perempuan--untuk tidak menyebut prostitusi, janda kembang, dan sinetron, tidakkah mereka sangat dekat bersumber dari tayangan TV kita?).
Jadi, mungkin tidak benar 'dari mata turun ke hati', melainkan 'dari mata naik ke otak'.
Lalu bagaimana nasib kita di Indonesia, nasib anak-anak kita yang setiap hari disuguhi tayangan kekerasan dari koran, majalah, televisi? Juga film horor dan sinetron yang susah masuk akal? Mungkin kita membayangkan nasib anak-anak kita akan jadi sangat tidak kreatif karena selalu disuguhi acara TV dengan tema-tema di atas (ingat juga: kebanyakan anak-anak yang ditinggal kedua orangtuanya untuk bekerja di siang hari maka TV bisa jadi teman paling setia mereka untuk menghabiskan siang). Kita bayangkan anak-anak ini nantinya akan jadi remaja dan orang dewasa yang tidak kreatif dan membosankan.
Tapi bisa jadi bayangan kita salah, nyatanya VP kita, JK, tetap saja sangat kreatif walaupun TV kita penuh dengan tayangan-tayangan bertema kekerasan dan horor. Tempo hari (29 Juni 2006) JK dikabarkan telah mengeluarkan pernyataan 'sangat kreatif' untuk memanfaatkan 'janda-janda' di Puncak, Jawa Barat sebagai bunga penarik kumbang (turis) Arab (baca: the Jakarta Post 29 Juni 2006). Menurutnya (yang kemudian diralat di koran yang sama edisi 1 Juli 2006 setelah tekanan para aktivis feminis), dari sisi ekonomi 'transaksi' ini bisa menguntungkan para janda miskin itu, inilah kutipannya:
"If there are a lot of Middle East tourists traveling to Puncak to seek janda, I think that it's OK," he added, referring to the West Java mountain resort and using the Indonesian term denoting either widows or divorcees.
Disamping perbaikan ekonomi, "perkawinan" (apapaun bunyi kontraknya) dengan para turis Timur Tengah ini diharapkan menghasilkan keturunan yang bermuka 'indo', dus memperbaiki keturunan generasi muda Indonesia di masa depan. Dan, nantinya, Indonesia akan dibanjiri lebih banyak lagi dengan artis-artis televisi bertampang 'pretty'. Demikian ini kata-kata JK:
"If the janda get modest homes even if the tourists later leave them, then it's OK. The children resulting from these relationships will have good genes. There will be more television actors and actresses from these pretty boys and girls," he said.
Hhhmmm....kalau begitu bisa jadi justru tayangan-tayangan tersebut di atas membantu kretivitas orang Indonesia (baca: kreativitas yang dihasilkan oleh logika-logika program kriminalitas, film-film horor dan sinetron-siteron tentang perempuan-perempuan yang berebut laki-laki). Saking kreatifnya seperti bapak JK tersebut (bayangkan kata kunci ini: perdagangan perempuan--untuk tidak menyebut prostitusi, janda kembang, dan sinetron, tidakkah mereka sangat dekat bersumber dari tayangan TV kita?).
Jadi, mungkin tidak benar 'dari mata turun ke hati', melainkan 'dari mata naik ke otak'.
Saturday, July 01, 2006
Sebelum Kekalahan
Seperti yang saya janjikan di posting sebelumnya, di bawah adalah foto-foto festivity WK di Belanda, khususnya Leiden. Kasihan juga kalau memperhatikan para GIBOL Belanda yang harus menelan pil pahit kekalahannya melawan Portugal tempo hari yang sekaligus mengunci peluangnya masuk ke final. Bagaimanapun, tetep aja asyik melihat maraknya pesta WK ini.
Bagi yang tim andalannya masih bertarung, selamat berdoa. Bagi saya, aduh, sial bener ... Argentina kalah dari Jerman! (untung tidak ada yang menanggapi taruhan saya, hehe....)

Toko Kado Take it Easy di Haarlemmerstraat dengan bendera "Hup Holland"!

Salah satu cafe di Noordeinde memasang rangkaian balon oranye berbentuk singa lambang kerajaan Belanda. Paginya (dari waktu foto ini dibikin) balonnya udah pada pecah. Isyarat mau kalah kali ya, hehe....

Display di salah satu toko sport di Haarlemmerstraat.

Sticker bola yang banyak nempel di kaca mobil atau jendela rumah.
Bagi yang tim andalannya masih bertarung, selamat berdoa. Bagi saya, aduh, sial bener ... Argentina kalah dari Jerman! (untung tidak ada yang menanggapi taruhan saya, hehe....)

Toko Kado Take it Easy di Haarlemmerstraat dengan bendera "Hup Holland"!

Salah satu cafe di Noordeinde memasang rangkaian balon oranye berbentuk singa lambang kerajaan Belanda. Paginya (dari waktu foto ini dibikin) balonnya udah pada pecah. Isyarat mau kalah kali ya, hehe....

Display di salah satu toko sport di Haarlemmerstraat.

Sticker bola yang banyak nempel di kaca mobil atau jendela rumah.
Subscribe to:
Posts (Atom)

