Wednesday, May 31, 2006

Glenyengan Jawa

Di bawah adalah kolom glenyengan (ngomong sendiri) yang ditulis Darmanto Jatman yang mengingatkanku akan sejatinya orang Jawa itu. Merasa selalu beruntung dalam kondisi apapun dan pasrah dalam situasi apapun tidak selalu bisa dianggap sebagai sikap pasif. Bisa jadi itu adalah perwujudan kemampuannya memahami bencana sebagai bagian dari lakunya yang adalah juga bagian dari usaha melihat diri menyatu dengan alam kehidupannya. Glenyengan adalah wujud wadag dari pemikiran kontemplatifnya. Dan satu lagi, plesetannya itu sungguh maha dahsyat.... Sering aku tidak mampu memahaminya.


Lik Towi Telah Tiada
Oleh : Darmanto Jatman

MASIH ingat Towikromo? Lelaki sederhana asal dusun Tambran, Pundong, Bantul itu telah tiada ketika gempa menimpa Djokja 27 Mei 2006 yang lalu. Local Genius Jawa yang telah mejang “Isteri mesti digemateni/ia sumber berkah dan rejeki” seperti yang disabet Beine Klobot dalam sajaknya “Isteri” itu telah tiada. Inalillahi wa inalillahi rojiun! Ia memang tidak sekondang mbah Marijan juru kunci Gunung Merapi itu, atau mbah Dargo dari Gunung Merbabu yang mejang “Seni itu buruk tak bisa dicacat, indah tak bisa ditiru”, tetapi Lik Towi itulah yang berkata dengan “enak aja”. Hormatilah isterimu/ seperti kamu menghormati Dewi Sri/sumber hidupmu/ Makanlah/karena demikianlah suratannya”. Sudah maktub. Itulah kodratnya. “destiny” nya kalau mau pakai ungkapan Stephen Covey, karena “destiny” itulah akhir dari kebiasaan manusia yang telah melahirkan karakter baginya!

Ternyata Gempa Yogya - yang begitu “girisa” dalam suluk para dalang itu - betul-betul telah memporakporandakan Yogya (Bantul utamanya) - tak ada duka seduka Yogya yang kehilangan begitu banyak putra dan putrinya. Dalam bahasanya Yu Darmas Timoho yang ‘mrojol selaning garu’ itu; “Suksma Sejati yang bisa merasakan getering rasa ini”. Dalam bahasa Chairil Anwar “Dan duka maha tuan bertakhta”.

Beine bertelut dan sesambat: “Gusti!”.

Memang sih, bangun tidur, Nyibei limbung kayak naik perahu digoyang ombak menjelang jam 06.00 pagi itu. Tersengal-sengal dia berkata: “Jangan-jangan yang di semarang hanya terasa ombak itu di Merapi bumi gonjang-ganjing”. Cepat dia nghape (meng HP) kerabat-kerabatnya di Yogya sana. Tidak nyambung. Dia kontak Ario yang di Jakarta dan segera dapat info: Bukan gempa vulkanik, gempa tektonik. “Tapi Bantul hancur! Masyaalah”.

Beine segera masang tivi, radio...” Gusti kadospundi. Sudah tuan bebaskan kami dari amuk Merapi, kok tuan hancurkan kami lewat samudra! Gusti nyuwun ngapura”. Yu Jum dremimil: “Gusti Allah kan hanya satu. Semua kehendakMulah”. Cuma omongan selanjutnya itulah yang “debatable”. “Lha iya. Semua mata tertuju pada danyangnya Merapi, Petruk Kantong Bolong, lha kok yang marah Nyi Lara Kidul?”.

Mulo to mulo: Aja kendhat enggonmu ndedongo lan saos sokur!

Cepat sekali Beine ingat sobat-sobatnya di Bantul: “Mas Djoko Pekik priye? Genthong? Semoga Butet lagi keliling seribu kota, tapi isterinya, anaknya, jadug? “Lha ponakanmu sendiri: Nuri?”. Jangan diingat satu-satu. Ini rasa yang mentransenden. Duka kosmos. Transpersonal, universal, seperti tutur yu Darmas. Roh suci yang menangkap pesan Tuhan ini: “Kamu jangan kumpul kebo. Kamu jangan siya-siya pada sesamamu... O. Yogya, Yogyaku!”

Ngarso Dalem kok tidak ngendika lebih dulu?!

Ngarso Dalem tu ya manusia biasa. Kalau tidak ada dawuh dari sana ya mana “aku” tahu?! Tapi bukankah beliau sudah bersabda menenangkan rakyatnya: Tsunami itu (hanya) isyu. Ia tidak akan datang...

Presiden SBY malah memutuskan untuk berkantor (sementara) di gedung agung, istana negara puji Tuhan, Yogya selalu melekat di hati presiden kita. Beliau ingin rakyat Yogya (dan sekitarnya pasti) selamat, aman sejahtera! Rahayu-Rahayu-Rahayu!

Kenapa bencana demi bencana terjadi di negeri kami ya Allah?

Paduka sedang ngendika punopo? Karuniailah kami pengertian!

Adakah hubungannya ini dengan cekcok kami perihal nasib Pak Harto yang sudah uzur atau “pengusiran” Gus Dur dari dialo antar agama di Purwakarta?!

Nenek moyang kami memang sudah pernah memberi peringatan: “Yen kali ilang kedhungnya/Pasar ilang kumandhangnya...”, “Amenangi zaman edan/ewuh aya ing pambudi/melu edan nora tahan/ning yen tan melu/boya keduman melik/ kaliren wekasanipun/sabeja-bejaning kang lali/ luwih beja kang eling lawan waspada...” “Eling/Percaya/Mituhu” -e

Gusti!.

Rabu, 31 Mei 2006,
Kolom Glenyengan, Kedaulatan Rakyat,
http://222.124.164.132/article.php?sid=55911

Sunday, May 28, 2006

Gempa Hatiku

Info terakhir yang kudapat dari liputan6.com barusan (28 Mei 2006 jam 18.00 waktu Belanda) korban tewas dalam bencana gempa bumi di DIY dan Jateng sudah hampir mencapai angka 4.000. Ribuan lainnya masih terluka dan membutuhkan bantuan kesehatan yang masih susah dan puluhan ribu lainnya masih tidur di alun-alun, di tenda terpal, di emperan rumah, dsb.

Puji Tuhan, keluarga besarku, yang hampir semuanya tinggal di perbatasan Bantul-Yogyakarta, selamat dan sampai saat ini masih aman secara logistik. Sampai pukul 14.00 WIB hari ini, pada saat akhirnya aku bisa komunikasi sama ibu, listrik masih mati di Yogyakarta selatan sampai ke Bantul. Gempa susulan juga masih ada, bahkan ibu sempat meninggalkan telpon dariku karena harus lari keluar rumah (saat itu hatiku berdebar keras). Dua keluarga mbakyu terpaksa harus mengungsi ke rumah salah satu mbakyu yang lain yang kerusakan rumahnya tidak begitu parah dan masih ada halaman luas untuk bisa mendirikan tenda. Rumah mereka rubuh dan tidak bisa ditempati. Ibuku mengungsi disana juga karena takut tinggal sendirian di rumahnya.

Aku, di tempat yang jauh ini, bingung dan kuatir. Juga merasa bersalah, lebih-lebih karena aku jadi tidak bisa berfungsi secara normal. Ajakan teman-teman untuk menggalang bantuan seperti yang pernah kami kerjakan untuk Aceh dan untuk solidaritas Munir jadi tidak kuasa kutanggapi. Maafkan, semoga aku tidak butuh waktu terlalu lama untuk menenangkan gempa di hatiku sendiri.

Terima kasih untuk perhatian teman-teman yang sudah kirim sms, email, dan menelepon untuk menanyakan keadaan keluargaku. We thank you.

Aku kehabisan kata-kata...

Monday, May 22, 2006

the politics of the (first) wife

Pagi tadi begitu membuka portal berita detik.com, kasus penyerbuan Halimah Trihatmodjo menjadi berita yang terpampang paling atas di deretan index beritanya. Di situ, dan beberapa potong berita sebelumnya, disebutkan bahwa isteri pertama Bambang Trihatmodjo ini, ditemani dua anaknya dan empat pengawal pribadinya, Minggu malam lalu menyerbu kediaman penyanyi Mayangsari yang sebelumnya ramai dikabarkan telah melahirkan puteri dari hubungannya dengan salah satu putera Eyang Kakung tersebut. Ga main-main, gerbang depan ditubruk pakai bemper belakang mobil BMW seri 5 (yang harga perbijinya bisa untuk membangun sebuah gedung sekolah di desa pinggiran Merapi sana) sampai rubuh. Kaca depan rumah mewah itu dilempari sampai berantakan. Kamar Mayang diobrak-abrik. Dikabarkan pula putera Bambang dengan Halimah sempat berkelahi dengan bapaknya dan dua perempuan tersebut, isteri tua dan isteri muda, saling jambak-jambakan rambut. Belum jelas apa yang menyebabkan penyerbuan ini. Tapi ini mengejutkan. Sekaligus memalukan.

Dari yang aku baca, menurut Puspo Wardoyo, seorang poligamor sejati, yang tidak hanya tidak malu mengakui kesukaannya beristeri empat tapi bahkan secara aktif mengkampanyekan poligami, persaingan antar isteri memang harus sengaja ditumbuhkan. Alasannya, dengan persaingan untuk mendapatkan cinta suami yang seperempat ini maka mereka akan terus melayaninya secara first class. Mulai dari cara dandan, cara masak, dan cara melayani yang lain (ntar blog-ku kena RUU APP kalau aku sebut disini). Kalau ga gitu, maka porsi cinta yang cuma seperempat itu bisa-bisa jadi tinggal seperdelapan. Itu politik dari sisi seorang laki-laki beristeri empat.

Politik dari seorang perempuan yang menjadi isteri pertama, kedua dan seterusnya tentu lain lagi. Masih menurut yang kubaca tentang kehidupan poligamor paling 'populer' ini, isteri pertama juga berpolitik dengan berlaku bijaksana, tidak menunjukkan kecemburuan dan justru memberikan kasihnya pada isteri-isteri muda suaminya. Bahkan mencarikan isteri muda untuk suaminya. Bagaimana bisa? Ya jangan tanya aku. Begitu juga dengan isteri kedua dan seterusnya. Mereka harus menghormati isteri pertama karena sudah bermurah hati merelakan seperempat cinta suaminya untuk masing-masing mereka. Kok mau? Lagi-lagi, jangan tanya aku. Tapi artinya, hierarki kekuasaan dalam rumah tangga poligami harus jelas dan tertib dan melibatkan penerapan "politik tiap hari" (baca: politics of everyday life).

Lalu kenapa dalam kasus diatas tadi, bisa-bisanya isteri pertama ngamuk dan merusak rumah isteri kedua? Nampaknya Bambang tidak berguru pada Puspo Wardoyo. Hubungan hierarki antara isteri pertama dan kedua nampaknya kacau. Justru karena Bambang diam-diam 'menyimpan' isteri baru, maka hierarki antara isteri-isterinya jadi tidak jelas dan oleh karenanya jadi tidak bisa dibuatkan rambu-rambu politiknya, seperti halnya keluarga Puspo Wardoyo. Masing-masing isteri jadi tidak tahu bagaimana berpolitik sebagai isteri tua dan isteri muda. Yang ada jadinya bukan lagi berbagi suami tapi berebut suami. Hal seperti ini bisa terjadi pada setiap pasangan yang melakukan hal sejenis.

Tapi kalau yang bisa melibatkan rumah seharga 5 milyar, mobil seharga 1 milyar, pengawal pribadi empat orang, dan sorotan puluhan kamera infotainment tentu tidak sembarang orang. Sebaliknya, perilaku penyerangan properti orang lain atas nama rebutan suami juga seharusnya tidak dilakukan oleh orang bukan sembarangan. Sayang sekali, politik isteri pertama yang seharusnya bisa dilakukan dengan lebih "elegan" (versi keluarga Puspo dan bukan versiku karena bagiku tidak ada yang elegan dalam keluarga poligami) ternyata diwujudkan dengan sangat vulgar. Kok kayak preman bae.

Thursday, May 18, 2006

Maaf Lahir dan Batin


Orang-orang di republik-ku sangat senang dengan kata 'maaf'. Ada orang-orang yang ga pernah ketemu, tiap tahun tiba-tiba ketemu langsung minta maaf. Ada yang saking getolnya dimintai maaf sampai maksa, bahkan mengancam, orang lain untuk minta maaf. Ada juga yang tidak minta maaf tapi diberi maaf bahkan sampai proses legal pun dikangkangi oleh kata 'maaf' ini. Ada juga yang sudah minta maaf masih juga disuruh minta maaf. Pokoknya, kata maaf itu bisa jadi sangat ampuh.

Beberapa malam lalu, karena badanku meriang dan kepala pusing, tiba-tiba aku merasa harus minta maaf sama suamiku, "Mas, maaf lahir batin ya". Tanya dia: "Kenapa?" "Siapa tahu nanti malam aku mati, aku kan udah minta maaf". Suamiku pun memaafkan aku.

Tapi paginya ternyata aku masih hidup. Malahan masih bisa mengeluarkan sumpah serapah karena Eyang Kakung, rame gosipnya, setelah mendapatkan SKP3 bahkan diusulkan untuk mendapatkan rehabilitasi (atas apa? ya ga tahu, hasil sidang kasusnya aja ga pernah jelas).

Kalau aku minta maaf sama suami paling karena sering ngeyel. Tapi aku ga pernah korupsi uang belanja, setidaknya walaupun laporan telat tapi selalu ngaku kalau ada penyelewengan dana, hehe.. Lagian paling korupsi cuma untuk beli cappuccino di La Place. Lha ini, katanya ada 1,7 trilyun rupiah plus beberapa ratus juta dolar amerika milik negara yang sekarang ga jelas rimbanya. Coba aja dihitung, berapa sekolah bisa dibangun dengan itu, berapa anak kurang gizi bisa dapat pelayanan kesehatan, berapa rumah susun bisa dibangun untuk orang miskin kota, berapa ... berapa .... Belum lagi ada berapa nyawa yang hilang, dihilangkan, dan dianggap hilang karena mengancam ketenangan kerajaan Eyang Kakung selama 32 tahun.

Bandingkan: disangka pelacur aja bisa masuk bui (dan kalau salah tangkap, yang nangkap ga perlu minta maaf), bergoyang ngebor make rok mini bisa masuk bui, korupsi tinta pemilu udah masuk bui. Lha ini, kejahatan, yang...yang.... sampai ga tahu lagi kata sifat yang tepat untuk mengungkapkannya, kok ga ada hukumannya?

Sorry mek, tak ada maaf bagimu ...

Sunday, May 07, 2006

Musim Semi di Rumah


Sering kudengar bunga yang berwarna indah belum tentu harum dicium. Musim bunga di sini juga luar biasa indah. Warna-warni. Tapi belum tentu kita bisa mencium bau yang wangi. Dan kalau kau alergi terhadap serbuk bunga yang beterbangan karena ditiup angin, seperti aku, maka musim bunga yang indah ini bisa jadi bencana: yang enak dilihat bisa jadi berbahaya untuk dicium. Jadi, untuk tetap bisa menikmati indahnya bunga, paling aman "menjinakkannya" di rumah. Setelah dipotong di bawah air kran, ditaruh di vas, dan dijauhkan dari angin, bahaya serbuk bunga yang beterbangan bisa diminimalisir.

Binatang pun bisa dijinakkan kalau dipelihara di rumah (atau domesticated). Dan perempuan pun katanya juga harus dirumahkan supaya jinak. Jangan dibiarkan keluar rumah, karena angin akan menebarkan aroma keperempuanannya. Orang bisa alergi terhadap aroma perempuan karena menciumnya sebagai aroma subversif, seolah-olah mewakili jiwa perlawanan perempuan; atau sebagai aroma alam sehingga dikonotasikan liar, tidak berbudaya; tapi ada juga yang menciumnya sebagai aroma sexualitas yang terlalu tajam sehingga mengancam virilitas laki-laki. Seperti halnya orang yang alergi terhadap serbuk bunga, mereka yang alergi terhadap aroma perempuan pun akan kehilangan daya begitu menghirupnya. Oleh karena itu mereka buru-buru ingin "membasmi" apa yang dianggapnya sebagai sumber alergi, lupa bahwa justru dari beterbangannya aroma tersebut kehidupan akan terus berputar.

Jadi jangan egois, jangan potong semua bunga yang ada di jalan karena menyebabkanmu alergi. Semprotkan saja Flixonase ke hidungmu kalau kau alergi. Dan untuk mereka yang alergi dengan aroma perempuan, jaga saja hidung sendiri, jangan rumahkan perempuan. Sebab, sebagaimana halnya bunga yang dipotong dan ditaruh di vas, perempuan yang dirumahkan juga hanya akan berfungsi untuk memperindah rumah itu tapi tidak untuk sebaik-baiknya kehidupan di luar rumah itu.

Monday, May 01, 2006

Kort maar Krachtig

Sore tadi waktu belanja ke Digross sama suami, aku ambil edisi baru Ditjes & Datjes (‘secuil tentang ini dan itu’), free-magz bulanan dari jaringan supermarket lokal Dirk van den Broek. Isi yang selalu aku baca duluan adalah gosip tentang celebrities lokal dan inter-lokal, disamping juga menu masakan (kali ini tentang asparagus, ya, ibu-ibu). Di sampul muka terpampang pasangan celebrities Inggris yang paling terkenal suka kehidupan glamour, David dan Victoria Beckham (seingatku celebrities lokal malah ga pernah nongol di cover, atau jarang banget).


Di halaman 4 foto-foto beberapa celebrities dengan rok (super)mini mereka memberi ilustrasi artikel berjudul ‘Supersexy: Kort maar Krachtig’ (suexy sekali: pendek tapi ampuh). Apa maksud dari ‘pendek tapi ampuh ini’? Pada intro artikel ditulis:


'De minirok werd in 1962 geintroduceerd. De korte rok gaf vrouwen een machtig wapen. Met het juiste figuur en mooie benen is een minirok het ultieme verleidingsmiddel...’

(Rok mini mulai dikenal tahun 1962 (di beberapa sumber ada yang menyebut ’65, ’69; jadi mungkin 60-an). Rok mini memberi perempuan senjata yang ampuh. Dikombinasikan dengan tubuh yang ideal dan kaki yang indah rok mini adalah senjata penggoda yang paling top...).


Jadi apanya yang ampuh? Rok mininya? Tubuh ideal dan kaki indah? Atau kemauan/kemampuan perempuan mengkombinasikan hal tersebut dan menggunakannya sebagai ‘senjata penggoda yang paling top’? Ini adalah pertanyaan dilematis (untuk sebagian orang). Kalau seorang perempuan menggunakan seksualitasnya untuk mendapatkan kekuasaan (dalam bentuk uang, popularitas, atau suami kaya), hal ini menunjukkan bentuk emansipasi atau malah eksploitasi? Sebetulnya dia sedang mewujudkan spirit pembebasannya sendiri atau
melayani kepentingan kapital lebih besar di luar dirinya? Dan kalau pada akhirnya memakai rok mini adalah senjata untuk mendapatkan ‘perhatian’ laki-laki, apakah ini membongkar atau justru menekankan stereotipi perempuan sebagai makhluk seksual, irasional, dan materialistis? (ideologi gender dalam bungkusan tiga stereotipi di atas juga dikenal dan dihayati kebenarannya oleh sebagian masyarakat Indonesia, loh).


Itu tadi masalah pertama. Yang berikutnya menyangkut peminggiran perempuan atas perempuan yang lain sebagai konsekuensi logis atas sifat eksklusif rok mini ini yang hanya ‘pantas’ dipakai oleh mereka yang ‘bertubuh ideal dan berkaki indah’ (plus putih mulus kalau di Indonesia). Padahal, seperti slogan The Body Shop tahun 2000-an yang lalu ‘There are 3 billion women who don’t look like supermodels and only 8 who do’. Tapi disinilah kekuatan menjual dari rok mini, yaitu kemampuannya untuk membangkitkan envy antar perempuan. Envy inilah yang digarap secara sadar dan eksploitatif oleh para cultural producers, atau mereka yang bekerja di advertising agency. Sedangkan bagi para penggiat kesadaran gender, envy antar perempuan sama sekali tidak bermanfaat dalam kampanye penggalangan semangat sisterhood.


Masalah berikutnya, dan yang paling aktual sekarang di Indonesia adalah, memamerkan (sebagian pun) paha dan pusar akan segera dianggap sebagai sebuah kejahatan (silahkan baca draft RUU-APP penjelasan pasal 4) jika rancangan undang-undang anti pornografi dan pornoaksi disahkan tanpa revisi apapun.


Jadi, rok mini itu ‘pendek tapi ampuh’ bagi perempuan pemakainya (setidaknya) untuk: dilirik laki-laki, dimaki perempuan lain, dan (siap-siap khususnya untuk perempuan Indonesia) dimasukkan ke bui.

Bisa jadi rok mini: 'kort maar gevaarlijk' (pendek tapi berbahaya).