Wednesday, December 13, 2006

Prasangka Poligami

"Anda mau jadi partner saya untuk 'berbagi suami'?"

Yang di atas bukan pertanyaan saya, tapi seandainya anda seorang perempuan (tanpa melihat status anda) tiba-tiba mendapatkan pertanyaan seperti yang di atas dari seorang perempuan lain, apa yang akan anda jawab? Atau, untuk menjawab mungkin tidak bisa langsung, cepat, dan tangkas. Mungkin pertanyaannya saya ganti, apa yang menjadi pertimbangan pertama anda untuk menjawab atau tidak menjawab pertanyaan di atas?

Yang sering dibicarakan orang adalah apa kira-kira yang menjadi alasan bagi seorang laki-laki untuk berpoligami( lihat disini ). Tapi saya jadi pingin tahu, kalau seandainya benar-benar ada seorang perempuan yang ikhlas dan rela mencarikan suaminya isteri muda, kira-kira bagaimana tanggapan perempuan yang dia "lamar" tersebut. Saya coba bayangkan 10 kemungkinan reaksi dari 10 perempuan yang berbeda:

1. Seorang perempuan monogamis sejati akan langsung berpikir: "Perempuan ini nggak waras, ngapain juga saya pikirin?"

2. Seorang calon artis yang masih lajang mungkin akan berpikir: "Err... mungkin ada baiknya saya tanya dulu latar belakang dan CV suaminya ... siapa tahu bisa membantu proyek album rekaman saya."

3. Seorang aktivis perempuan pembela HAP (hak asasi perempuan) akan mengerutkan dahi dan berpikir: "Ada yang menarik dari perempuan ini, dia sadar betul esensi keperempuanannya, dia bisa mengelola hak-hak seksual dan ekonominya."

4. Seorang janda miskin dengan anak tiga, dengan senyum penuh syukur mengatakan: "Anda sungguh mulia."

5. Seorang psikolog perempuan mungkin akan berpikir: "Jangan-jangan suaminya suka nyiksa isteri?"

6. Seorang isteri muda dari seorang pengusaha obat kuat khusus laki-laki mungkin akan tersenyum sambil bertanya: "Udah kewalahan ya, Jeng?"

7. Seorang isteri tua dari seorang pengusaha ayam potong mungkin akan mencibir: "Yee, telat...."

8. Seorang tetangga perempuan yang suka usil akan mulai menggosip: "Psst....psst, si Tante itu punya PIL, makanya dia nyariin WIL untuk suaminya..."

9. Seorang perempuan muda yang ditemuinya di sebuah nightclub mungkin tersenyum kecut: "Jangan-jangan dia tahu affairku sama suaminya?"

10. Seorang perempuan pengusaha yang tidak punya waktu untuk mengurus suami tapi kadang masih perlu "relasi" dengan laki-laki mungkin akan menjawab: "Kebetulan...."

Poligami memang selalu diliputi prasangka. Mungkin tidak berbeda dengan perkawinan monogami, kalau rutinitasnya dikelola dengan baik, bisa jadi tidak akan menimbulkan masalah. Tapi sebatas mana "pengelolaan rumah tangga poligami" dianggap baik? Sebatas masing-masing isteri dapat rumah, mobil, dan uang belanja yang sama? Bagaimana mengelola perasaan cemburu jika ternyata yang menjadi isteri-isteri itu bukan perempuan-perempuan "kembar identik" yang mana bisa meminimalisir kemungkinan sang suami lebih cinta pada yang satu dan bukan yang lainnya? Sebatas mana seorang isteri bisa dikatakan ikhlas, atau jangan-jangan dikondisikan untuk ikhlas? Sebatas mana isteri dikatakan sudah "terpuaskan" baik dari segi finansial, seksual, maupun emosional sehingga si suami merasa sudah pantas mengembangkan sayapnya untuk mencari perempuan lain untuk "dipuaskan"?

Namanya juga prasangka jadi ya sah-sah saja kan.....

4 comments:

Merlyna said...

tulisan bagus & bikin aku senyum2 :) kalo aku sih jawabannya: hayuk, siapa takut? tapi apa mbak yakin? ntar kalo mbak kebagian jatah gimana?

tapi itu cuma jawaban angan2 aja .. berani-nya cuma mimpi :p

p.s. aku dah link juga lho sama si nulzes :)

sushartami said...

hihi...tapi mungkin solusi untuk bu prop yang sibuk, kan? joking....
thanks, namaku udah di paling atas lagi.

gogol said...

Seingatku, aku pernah denger istriku nyaranin aku kawin lagi. maksudku, cari istri juga selain doi, gitu loh. Ga tau kenapa doi baik sekali sama aku. tapi aku ga ingat kalo aku pernah siap bersitri lebih dari satu.Secara fisik aku siap, tapi secara mental? Hahaha Kumaha atuh?

sushartami said...

Waduh pak, gimana kalo kemampuan fisik dan mungkin ekonomi itu disalurkan untuk yang lain aja, misalnya, bikin panti asuhan atau sekolah gratis untuk saudara yang masih kurang beruntung. Tapi ya emang mungkin "ga balik modal" sih, hehe...