Thursday, December 21, 2006

Hidup, Mati, dan Cinta

Minggu lalu saya menonton sebuah film dokumenter yang diputar dalam acara seminar untuk ulang tahun ke-50 Faculteit der Sociale Wetenchappen (atau fakultas sosial) di Universitas Leiden. Dokumenter ini dibikin oleh seorang dosen visual antropologi di fakultas ini yang juga pembuat film dan sedang menulis disertasinya bernama Steef Meyknecht. Dokumenter ini berjudul A Hospice in Amsterdam (hospice adalah rumah sakit khusus bagi mereka yang sakit parah atau yang sudah divonis tidak berumur panjang lagi). Rumah sakit ini tidak besar mungkin hanya bisa menampung sekitar enam orang dan untuk bisa tinggal disana mengikuti sistem daftar tunggu. Ada beberapa orang yang bekerja untuk merawat dengan sistem shift pagi, siang dan malam. Semua yang digambarkan di dokumenter ini adalah orang-orang yang sudah berusia lanjut. Seperti halnya gambaran umum tentang rumah sakit, gambaran tentang hospice ini pun sangat mengharubiru perasaan. Tapi ada banyak hal saya pelajari dari film ini, terutama bagaimana orang Belanda (yang digambarkan disini) melihat hidup, mati, dan cinta.

Pertama adalah tentang hidup. Hidup adalah pilihan. Seorang laki-laki setengah umur datang diantar oleh pacarnya dengan kursi roda. Saat diwawancara, dengan tenang dia bilang dia senang akhirnya keluar dari daftar tunggu karena seorang pasien barusaja meninggal. Dia berujar: “kehilangan seseorang bisa menjadi berkah untuk orang lain.” Itulah hidup. Dan rupanya dia seorang penggila Internet yang menghabiskan banyak waktunya, ketika sudah sakit, di depan komputer. Dari Internet juga dia menemukan informasi mengenai beberapa hospice dan akhirnya memilih untuk mendaftar di tempat ini. Keesokan harinya dia bernegosiasi dengan seorang petugas untuk memasang Internet di kamarnya tentang siapa yang harus bertanggung jawab terhadap kontraknya (di sini berlangganan Internet biasanya minimum untuk satu tahun). Dia merasa waktunya tidak akan lama lagi dan jika diatasnamakan pihak hospice maka setelah kepergiannya Internet bisa dipakai siapapun di tempat tersebut. Lalu hari berikutnya datanglah seorang kurir yang membawakan satu set komputer dengan layar 17 inch dilengkapi loud speakers dan printer (beberapa penghuni hospice sempat mengeluhkan hiruk-pikuk ini). Laki-laki ini juga memilih-milih sendiri guci yang dia mau untuk menyimpan abunya setelah dikremasi. Tidak berapa lama tinggal di hospice, dia meninggal.Ya, selagi masih hidup, seberapapun batas hidup mungkin sudah dibatasi oleh sakit, kita masih punya pilihan-pilihan.

Lalu tentang mati. Yang dijadikan pilihan. Seorang bapak tua yang digambarkan di awal film ini datang diantar seorang putrinya dengan ambulans dan tempat tidur dorong. Di kamar yang sudah disiapkan untuknya, foto-foto isteri dan anak-anaknya serta sebuah gambar dirinya sudah dipasang dengan rapi. Setelah bapak ini dipindahkan di tempat tidurnya, masih ditunggui oleh puterinya, seorang perawat/petugas datang dan menanyakan beberapa detil mengenai latar belakangnya. Salah satu pertanyaan, yang bagi telinga Indonesia saya masih sangat asing, adalah: “do you consider euthanasia?” Lalu bapak itu menjawab dengan susah payah, “ya, saya pernah memikirkannya tapi belum memutuskannya.” Tidak ada yang berteriak histeris mendengar pertanyaan atau jawaban ini. Pilihan untuk meneruskan hidup atau tidak diperlakukan sama saja seperti halnya pilihan bapak ini untuk memutuskan tinggal di hospice karena tidak ingin membebani keluarganya. Tapi bapak ini hanya sempat tinggal di sana selama satu hari saja. Karena hari berikutnya dia meninggal.

Tentang cinta. Yang membebaskan. Seorang laki-laki penderita kanker stadium akhir (yang sayangnya tidak jelas kanker apa) memutuskan untuk tinggal di hospice dan menghentikan semua obat yang diminumnya. Bapak yang satu ini nampak sangat emosional, selalu menangis ketika diwawancara dan bercerita tentang dirinya. Dia berujar bahwa keputusan untuk tinggal di hospice adalah keputusan yang sangat berat karena dia akan berjauhan dengan isteri yang dicintainya dan tidak bisa lagi tidur di sampingnya. Tetapi pilihan ini adalah yang terbaik karena dia tidak ingin membebani isterinya dan agar isterinya tetap bisa menjalani kehidupannya sendiri dan tetap menjadi bagian dari dunia luar. Dia tidak ingin mengikat isterinya dengan penyakitnya atau keadaan sakitnya.

Masih tentang cinta. Ekspresi cinta. Seorang ibu lanjut usia dan sudah agak pikun tinggal di hospice sudah lebih lama dari ketiga laki-laki yang disebut di atas. Yang sangat menyentuh adalah tiap kali suaminya datang menjenguk, dia akan memanggilnya “lief” (love) atau “meisje” (sweetheart), mencium bibirnya dan menatapnya dengan penuh cinta. Tangan keriput mereka saling mengelus, atau bertautan. Ketika si ibu sudah semakin sakit, anak dan suami menemaninya disekitar tempat tidurnya. Sang suami memandangnya sambil mengusap airmata di pipinya. Si anak mengelus-elus punggung tangannya. Mungkin di bagian ini ibu itu akhirnya meninggal. Cinta adalah ekspresi; ekspresi cinta. Dan ekspresi cinta tidak seharusnya dibatasi oleh umur atau penyakit. Apalagi oleh undang-undang.

Lalu pasien baru akan datang dan pergi lagi. Tapi cerita tentang hidup, mati, dan cinta akan terus bisa disaksikan di tempat seperti ini. Jika di awal film saya merasa dokumenter seperti ini akan cenderung eksploitatif, pada akhir film saya bersyukur sudah pernah melihatnya karena ternyata ada banyak hal indah bisa dipelajari dari sana. Ada hal-hal baru yang selama ini tidak biasa saya lihat di tempat saya dibesarkan, tentang pilihan-pilihan dalam hidup, tentang mati yang menjadi pilihan, dan, ini yang paling saya suka, tentang cinta. Cinta yang membebaskan dan ekspresif.

2 comments:

peregrin said...

jadi terharu waktu baca posting yg ini mbak...

sushartami said...

Iya, waktu nontonnya aku juga udah hampir nangis...
Thanks oleh-oleh bookmark-nya ya, very nice.