Friday, September 08, 2006

The People (of NU) Vs Infotainment

Bulan lalu NU mengeluarkan fatwa (walaupun kemudian Hasyim Muzadi mengatakan itu bukan fatwa melainkan jawaban hukum) haram untuk infotainment. Lalu diperjelas lagi bukan infotainmentnya yang haram tapi isinya yang lebih banyak tentang pergunjingan. Prof Said Aqil Siradj dalam Topik Minggu Ini SCTV (2 Agustus 2006) menggunakan kata gibah untuk merujuk pergunjingan ini. Di pihak NU, tv diidealisasikan tidak saja sebagai madia hiburan tapi juga selayaknya media edukasi. Disamping itu, moralitas agama pun dipakai sebagai batasan untuk menilai halal-haramnya sebuah acara tv.

Walaupun niatnya baik, yaitu memperbaiki mutu siaran tv (dengan catatan: sesuai selera NU), tapi tentu tidak bisa begitu saja menggunakan batasan haram dan halal di ruang publik yang sebelumnya tidak mempunyai konsensus apapun tentang halal dan haramnya sebuah tayangan. Lebih jauh NU mengharapkan infotainment hanya menyiarkan yang baik-baik saja, misalnya artis yang pergi umroh, atau beramal. Saya sendiri sebenarnya sering berkernyit dahi kalau melihat tayangan infotainment (saking ngerinya melihat perilaku beberapa (oknum) artis yang membeberkan rahasia rumah tangga dan menggunakan bahasa-bahasa 'vulgar' di depan kamera), namun saya tidak pernah membayangkan jika infotainment hanya boleh menyiarkan berita-berita seperti yang disebutkan NU tersebut. Setidaknya saya percaya bahwa sesungguhnya para wartawan infotainment pun sudah terikat dengan kode etik jurnalisme Indonesia, yang tanpa menggunakan parameter halal-haram pun, jika ditaati maka akan menghasilkan representasi yang layak untuk publik.

Kebetulan saya baru saja menonton film lawas The People vs. Larry Flynt (1996). Film ini (mau) bercerita tentang revolusi majalah porno di AS dan cukup populer serta menerima pujian di kalangan pelaku film. Pada waktu saya menonton film ini saya mengira pengalaman Larry Flynt, bos majalah porno Hustler, cukup revolusioner, walaupun tidak berarti saya menyetujui ekspansi majalah pornografi. Tapi kemudian saya menemukan berita-berita bahwa ada banyak hal yang tidak diungkapkan oleh film ini, hal yang pada akhirnya menguntungkan pihak Flynt sehingga membangun imej dia sebagai pahlawan kebebasan media di AS.

Menurut Diana Russel, bersama dengan kelompok feminis yang bersuara lantang mendemo film ini, kenyataan bahwa Flynt adalah seorang fedofil (bahkan mencambuli anaknya sendiri), misoginis, rasis, dan homofobik tidak diungkapkan, bahkan cuma disiratkan pun tidak. Padahal nilai-nilai ini tidak hanya dipraktekkan dalam kehidupan pribadinya sendiri tapi bahkan dituangkan juga dengan cukup vulgar di foto dan kartun yang ada di majalah tersebut. Disayangkan oleh para feminis ini bahwa visualisasi-visualisasi di majalah yang menggambarkan perilaku-perilaku ini tidak ditampilkan dalam film. Yang terjadi justru di film tersebut Flynt digambarkan sebagai sosok suami yang baik dan pejuang kebebasan media yang gigih. Dengan kata lain, para feminis ini mengkritik film tersebut telah mendistorsi kenyataan demi kepentingan Flynt khususnya dan industri pornografi umumnya. Yang seharusnya dianggap kriminal malah ditampilkan selayaknya pahlawan (untuk membaca protes para feminis ini anda bisa klik disini ).

Bagi para feminis ini, film The People vs. Larry Flynt sudah mendistorsi realitas dengan kebohongan dan penggelapan sejumlah fakta. Kalau kegigihan Flynt menentang pemerintah yang akan membreidel majalahnya digambarkan dalam film tersebut dengan gamblang, maka perilaku dan ide-ide dia tentang fedofilia, misogini, dsb tersebut, juga harus ditampilkan. Karena dengan representasi yang terdistorsi, dengan penggelapan kenyataan bahwa Flynt melakukan tindak kriminalitas seksual, maka penonton yang tidak mengenalnya akan menilainya tidak sesuai kenyataan. Jadi, kalau pada akhirnya banyak penonton suka dengan film ini dan memuji Flynt, itu dikarenakan muslihat pembuat film. Kalau saja representasi tentang Flynt dan majalah Hustler lebih mendekati ke realitas sesungguhnya, pasti tidak banyak orang memuji film ini. Artinya, jika tayangannya seimbang maka penonton akan lebih bisa menilai sendiri apakah Flynt itu bajingan atau pahlawan.

Penonton infotainment pun harusnya jangan dianggap terlalu naif dan bodoh sehingga dikhawatirkan akan terjerumus dengan realitas 'haram' yang disiarkan oleh tayangan infotainment tersebut. Penonton infotainment bukanlah publik yang hanya bisa mencontek habis-habisan apa yang ditampilkan tv. Kalau semua artis ditampilkan pergi umroh dan beramal, maka penontonnya pun akan ikut-ikutan pergi umroh dan beramal. Kalau semuanya ditampilkan kawin cerai dan ribut sama keluarganya, maka semua penontonnya pun akan ikut-ikutan kawin cerai dan ribut dengan sesama keluarga. Justru dengan tayangan yang tidak secara ekstrim disanitasi dari segala yang dianggap berbau 'haram' maka penonton akan lebih bisa melihat realitas lebih seimbang. Lagian, does such a sanitized world ever exist?

0 comments: