Anda suka lagu cinta? Saya suka mendengarnya. Tapi kadang suka sebel juga kalau liriknya terdengar gombal. Tapi apa bener lagu cinta (atau cinta yang diwakilkan dalam lagu cinta) itu gombal? Kenapa (kata-kata) cinta kedengaran gombal jika itu, bagi sebagian orang, mampu membuat mereka meneruskan hidup?
Dulu sekali, waktu pertama-tamanya saya baca buku-buku feminisme, kebetulan saya patah hati. Jiwa saya terbelah. Saya memaki orang yang sudah semena-mena mematahkan hati saya atas nama para feminis itu tapi di sisi lain saya juga memaki para feminis itu atas nama cinta.
Beberapa hari yang lalu, seorang teman mengeluhkan pada saya mengenai suaminya yang (barusan) tergoda perempuan lain. Dia sakit hati. Tapi, ajaibnya (ini kata yang dia pakai), cintanya pada suami tidak luntur. Cintanya, katanya berfilosofis, sudah bertransformasi menjadi sebuah kasih. Apa bedanya? Rupanya dia menganggap cinta tidak mampu lagi membuatnya memaafkan kesalahan suaminya dan berdamai dengan hatinya sendiri. Sedangkan kasih, katanya kontemplatif, akan melampaui ini semua. Tentu saya bisa saja menanyakan lebih lanjut apa dasar pembedaan terminologi ini padanya. Tapi apa ya pantas saya tanyakan padanya saat itu juga?
Pada awalnya saya cukup keras ‘menasehatinya’: stop bullshitting yourself! Dan saya mulai berpretensi sebagai seorang feminis (barat) dengan mengatakan padanya untuk: ‘adillah pada dirimu sendiri’ (ini benar-benar kata-kata yang saya pakai), tapi secara implisit bisa saja kata-kata itu diartikan sebagai saya mengatainya ‘kamu sadar dong, kamu udah jadi korban laki-laki’. Dia bilang dia harus bisa menyembuhkan sakit hatinya dan melupakan peristiwa tersebut supaya tidak menjadi gila. Dan saya mengartikan ini sebagai sebuah manifestasi hegemoni seksual atas perempuan untuk selalu menerima ‘kenakalan’ suami sebagai hal yang tidak dapat dihindari. Tidak ada jalan lain kecuali menerima jika tidak si perempuan bisa menjadi gila (baca: menjadi yang abnormal dalam tatanan dunia patriarkis).
Tapi kemudian dia bilang: ‘kami akan saling menyembuhkan, wik’. Pada saat itu, pengalaman saya yang di atas, melintas lagi di kepala. Ternyata setelah sekian tahun jiwa saya masih selalu terbelah. Tetapi pada akhirnya dengan sepenuh hati saya puji kemampuan teman saya untuk memaafkan suaminya sambil terus mengingatkannya untuk tidak terlalu kejam pada dirinya sendiri. Dan saya mencoba berucap bijak ketika mengakhiri perbincangan kami: it takes time to heal the wound, but apparently you’re willing to take the chance. Lalu saya pun terdiam dengan satu pertanyaan yang masih belum terjawab: does love count in feminist thinking?
Disclaimer: kalau saya memuji pilihan teman saya seperti di atas, hal ini tidak mewakili pilihan saya pribadi untuk mengambil sikap yang sama jika peristiwa yang serupa menimpa saya. Ini adalah bentuk dukungan saya atas pilihannya.
Sembari anda mungkin mengingat-ingat saat patah hati, kita dengarkan saja Luther Vandross “menggombal”.
I'd Rather
I thought some time alone
was what we really needed
you said this time would hurt more than it helps
but I couldn't see that
I thought it was the end
of a beautiful story
and so I left the one I love at home to be alone (alone)
and I tried and found
out this one thing is true
that I'm nothing without you
I know better now
and I've had a change of heart
I'd rather have bad times with you, than good times with someone else
I'd rather be beside you in a storm, than safe and warm by myself
I'd rather have hard times together, than to have it easy apart
I'd rather have the one who holds my heart
And then I met someone
and thought she could replace you
we got along just fine
but wasted time because she was not you
we had a lot of fun
though we knew we were faking
love was not impressed with our connection built on lies, all lies
so I'm here cause I found this one thing is true
that I'm nothing without you
I know better now
and I've had a change of heart
I'd rather have bad times with you, than good times with someone else
I'd rather be beside you in a storm, than safe and warm by myself
I'd rather have hard times together, than to have it easy apart
I'd rather have the one who holds my heart (who holds my heart)
I can't blame you if you turn away from me like I've done you
I can only prove the things I say with time
Please be mine
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


6 comments:
Heeeyyy...
Kalau dimintai pendapat soal ini, saya juga kerap minta teman saya untuk 'adil pada diri sendiri'... Tapi saya nggak sadar sama sekali kalau ternyata ucapan tersebut bisa dikategorikan pretensi seorang feminis (barat)... Waduh...
seorang perempuan yang sadar akan hak sebagai perempuan, menurutku sih, sudah bisa disebut punya "insting" feminist (dan itulah definisiku pribadi tentang feminist). Ga perlu yang ekstrim-ekstrim. Dan mau tidak mau, kita akui aja kita belajar/menjadi sadar tentang feminisme dari dunia "barat" (walaupun tentu ada pengkontekstualan ketika kita melihat dunia sekitar kiat). Dan tentang "pretensi" itu, sebagai orang-orang yang "jiwanya selalu terbelah" (antara teori dan praktek, antara barat dan timur), tidakkah pertanyaan ini selalu menghantui? Yang paling sering mengganggu adalah ketika kita menyampaikan ide-ide semacam ini, orang balik menuduh kita "kok ga membumi sih?" hehehe.....
aku suka tulisan ini. terutama paragraf pertama. Ya, biarpun gombal kalau memang bisa bikin kita ingin meneruskan hidup, kenapa tidak?
Tentang patah hati.... Si pematah hati itu pastilah just a jerk!
Tentang si Luther: dia memang penggombal. Emang mungkin that "You'd rather have bad times with him, than good times with someone else"? hehehehehe
Si pematah hati = just a jerk = agree, hehe...
Itulah gombalnya Luther, mana ada orang mau menukar good times dengan bad times.....
Post a Comment