Wednesday, July 05, 2006

Dari Mata turun ke Hati

Hati-hati dengan mata anda. Maksudku, hati-hati dengan apa yang anda lihat dengan mata anda. Suatu malam bulan lalu BBC 1 menanyangkan feature tentang "possitive psychology" yang intinya bahwa dengan semua pikiran positif maka kehidupan akan jadi lebih baik. Dan, pikiran positif ini sangat berhubungan dengan apa yang anda lihat. Melalui sebuah tes dengan dua grup yang ditunjukkan rangkaian gambar-gambar ditemukan bahwa pikiran positif ini tergantung dari apa yang kita lihat. Jadi, dua kelompok ini dipisah dan diberi input foto-foto melalui projector yang sama sekali berbeda, yang satu disuguhi gambar-gambar korban perang, kecelakaan, orang menangis, dll, sedangkan kelompok satunya ditunjukkan dengan gambar-gambar tentang keluarga yang berkumpul makan bersama, tertawa, berangkulan, dll. Setelah eksposisi foto-foto ini, seorang instruktur membawa sebuah batu bata dan meminta masing-masing kelompok untuk membayangkan apa saja yang bisa berkaitan dengan batu bata tersebut. Dan hasilnya ternyata kelompok yang disuguhi gambar-gambar yang gembira bisa secara kreatif memaknai batu bata tersebut (disebutkan mereka bisa menyebutkan aktivitas atau paralelisme dengan benda lain sampai dengan 47 poin sedangkan yang diekspos dengan gambar-gambar sedih hanya 35 poin). Jadi gambar yang depresif membuat kita jadi kurang kreatif.

Lalu bagaimana nasib kita di Indonesia, nasib anak-anak kita yang setiap hari disuguhi tayangan kekerasan dari koran, majalah, televisi? Juga film horor dan sinetron yang susah masuk akal? Mungkin kita membayangkan nasib anak-anak kita akan jadi sangat tidak kreatif karena selalu disuguhi acara TV dengan tema-tema di atas (ingat juga: kebanyakan anak-anak yang ditinggal kedua orangtuanya untuk bekerja di siang hari maka TV bisa jadi teman paling setia mereka untuk menghabiskan siang). Kita bayangkan anak-anak ini nantinya akan jadi remaja dan orang dewasa yang tidak kreatif dan membosankan.

Tapi bisa jadi bayangan kita salah, nyatanya VP kita, JK, tetap saja sangat kreatif walaupun TV kita penuh dengan tayangan-tayangan bertema kekerasan dan horor. Tempo hari (29 Juni 2006) JK dikabarkan telah mengeluarkan pernyataan 'sangat kreatif' untuk memanfaatkan 'janda-janda' di Puncak, Jawa Barat sebagai bunga penarik kumbang (turis) Arab (baca: the Jakarta Post 29 Juni 2006). Menurutnya (yang kemudian diralat di koran yang sama edisi 1 Juli 2006 setelah tekanan para aktivis feminis), dari sisi ekonomi 'transaksi' ini bisa menguntungkan para janda miskin itu, inilah kutipannya:

"If there are a lot of Middle East tourists traveling to Puncak to seek janda, I think that it's OK," he added, referring to the West Java mountain resort and using the Indonesian term denoting either widows or divorcees.

Disamping perbaikan ekonomi, "perkawinan" (apapaun bunyi kontraknya) dengan para turis Timur Tengah ini diharapkan menghasilkan keturunan yang bermuka 'indo', dus memperbaiki keturunan generasi muda Indonesia di masa depan. Dan, nantinya, Indonesia akan dibanjiri lebih banyak lagi dengan artis-artis televisi bertampang 'pretty'. Demikian ini kata-kata JK:

"If the janda get modest homes even if the tourists later leave them, then it's OK. The children resulting from these relationships will have good genes. There will be more television actors and actresses from these pretty boys and girls," he said.

Hhhmmm....kalau begitu bisa jadi justru tayangan-tayangan tersebut di atas membantu kretivitas orang Indonesia (baca: kreativitas yang dihasilkan oleh logika-logika program kriminalitas, film-film horor dan sinetron-siteron tentang perempuan-perempuan yang berebut laki-laki). Saking kreatifnya seperti bapak JK tersebut (bayangkan kata kunci ini: perdagangan perempuan--untuk tidak menyebut prostitusi, janda kembang, dan sinetron, tidakkah mereka sangat dekat bersumber dari tayangan TV kita?).

Jadi, mungkin tidak benar 'dari mata turun ke hati', melainkan 'dari mata naik ke otak'.

2 comments:

Nona Lena said...

hihihihi... JK emang selalu gitu Mbak... Yah, pepatah yang tepat untuk JK tuh "Tong Kosong Nyaring Bunyinya" hehehe... asal cuap mlulu sih...

sushartami said...

sayang sekali emang public space kita sekarang diisi oleh orang-orang yang bisa dapat akses untuk ngomong seenaknya. lihat aja kasus Shinta Nuriyah dengan FBR. gimana dong nona lena, sebagai seorang akademisi dan praktisi komunikasi?