Di bawah adalah kolom glenyengan (ngomong sendiri) yang ditulis Darmanto Jatman yang mengingatkanku akan sejatinya orang Jawa itu. Merasa selalu beruntung dalam kondisi apapun dan pasrah dalam situasi apapun tidak selalu bisa dianggap sebagai sikap pasif. Bisa jadi itu adalah perwujudan kemampuannya memahami bencana sebagai bagian dari lakunya yang adalah juga bagian dari usaha melihat diri menyatu dengan alam kehidupannya. Glenyengan adalah wujud wadag dari pemikiran kontemplatifnya. Dan satu lagi, plesetannya itu sungguh maha dahsyat.... Sering aku tidak mampu memahaminya.
Lik Towi Telah Tiada
Oleh : Darmanto Jatman
MASIH ingat Towikromo? Lelaki sederhana asal dusun Tambran, Pundong, Bantul itu telah tiada ketika gempa menimpa Djokja 27 Mei 2006 yang lalu. Local Genius Jawa yang telah mejang “Isteri mesti digemateni/ia sumber berkah dan rejeki” seperti yang disabet Beine Klobot dalam sajaknya “Isteri” itu telah tiada. Inalillahi wa inalillahi rojiun! Ia memang tidak sekondang mbah Marijan juru kunci Gunung Merapi itu, atau mbah Dargo dari Gunung Merbabu yang mejang “Seni itu buruk tak bisa dicacat, indah tak bisa ditiru”, tetapi Lik Towi itulah yang berkata dengan “enak aja”. Hormatilah isterimu/ seperti kamu menghormati Dewi Sri/sumber hidupmu/ Makanlah/karena demikianlah suratannya”. Sudah maktub. Itulah kodratnya. “destiny” nya kalau mau pakai ungkapan Stephen Covey, karena “destiny” itulah akhir dari kebiasaan manusia yang telah melahirkan karakter baginya!
Ternyata Gempa Yogya - yang begitu “girisa” dalam suluk para dalang itu - betul-betul telah memporakporandakan Yogya (Bantul utamanya) - tak ada duka seduka Yogya yang kehilangan begitu banyak putra dan putrinya. Dalam bahasanya Yu Darmas Timoho yang ‘mrojol selaning garu’ itu; “Suksma Sejati yang bisa merasakan getering rasa ini”. Dalam bahasa Chairil Anwar “Dan duka maha tuan bertakhta”.
Beine bertelut dan sesambat: “Gusti!”.
Memang sih, bangun tidur, Nyibei limbung kayak naik perahu digoyang ombak menjelang jam 06.00 pagi itu. Tersengal-sengal dia berkata: “Jangan-jangan yang di semarang hanya terasa ombak itu di Merapi bumi gonjang-ganjing”. Cepat dia nghape (meng HP) kerabat-kerabatnya di Yogya sana. Tidak nyambung. Dia kontak Ario yang di Jakarta dan segera dapat info: Bukan gempa vulkanik, gempa tektonik. “Tapi Bantul hancur! Masyaalah”.
Beine segera masang tivi, radio...” Gusti kadospundi. Sudah tuan bebaskan kami dari amuk Merapi, kok tuan hancurkan kami lewat samudra! Gusti nyuwun ngapura”. Yu Jum dremimil: “Gusti Allah kan hanya satu. Semua kehendakMulah”. Cuma omongan selanjutnya itulah yang “debatable”. “Lha iya. Semua mata tertuju pada danyangnya Merapi, Petruk Kantong Bolong, lha kok yang marah Nyi Lara Kidul?”.
Mulo to mulo: Aja kendhat enggonmu ndedongo lan saos sokur!
Cepat sekali Beine ingat sobat-sobatnya di Bantul: “Mas Djoko Pekik priye? Genthong? Semoga Butet lagi keliling seribu kota, tapi isterinya, anaknya, jadug? “Lha ponakanmu sendiri: Nuri?”. Jangan diingat satu-satu. Ini rasa yang mentransenden. Duka kosmos. Transpersonal, universal, seperti tutur yu Darmas. Roh suci yang menangkap pesan Tuhan ini: “Kamu jangan kumpul kebo. Kamu jangan siya-siya pada sesamamu... O. Yogya, Yogyaku!”
Ngarso Dalem kok tidak ngendika lebih dulu?!
Ngarso Dalem tu ya manusia biasa. Kalau tidak ada dawuh dari sana ya mana “aku” tahu?! Tapi bukankah beliau sudah bersabda menenangkan rakyatnya: Tsunami itu (hanya) isyu. Ia tidak akan datang...
Presiden SBY malah memutuskan untuk berkantor (sementara) di gedung agung, istana negara puji Tuhan, Yogya selalu melekat di hati presiden kita. Beliau ingin rakyat Yogya (dan sekitarnya pasti) selamat, aman sejahtera! Rahayu-Rahayu-Rahayu!
Kenapa bencana demi bencana terjadi di negeri kami ya Allah?
Paduka sedang ngendika punopo? Karuniailah kami pengertian!
Adakah hubungannya ini dengan cekcok kami perihal nasib Pak Harto yang sudah uzur atau “pengusiran” Gus Dur dari dialo antar agama di Purwakarta?!
Nenek moyang kami memang sudah pernah memberi peringatan: “Yen kali ilang kedhungnya/Pasar ilang kumandhangnya...”, “Amenangi zaman edan/ewuh aya ing pambudi/melu edan nora tahan/ning yen tan melu/boya keduman melik/ kaliren wekasanipun/sabeja-bejaning kang lali/ luwih beja kang eling lawan waspada...” “Eling/Percaya/Mituhu” -e
Gusti!.
Rabu, 31 Mei 2006,
Kolom Glenyengan, Kedaulatan Rakyat,
http://222.124.164.132/article.php?sid=55911
Wednesday, May 31, 2006
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 comments:
Post a Comment