Saturday, September 19, 2009

Lebaran 1430H

Bulan puasa kali ini banyak greget: terutama karena ada teroris paling diburu yang dilumpuhkan pada masa puasa, juga karena adanya berita penangkapan anggota KPK (serta isu penggembosan institusi yang paling digadang2 oleh masyarakat ini) dan gambar di TV mengenai anggota DPR yang saling berantem pas puasa-puasa. Tapi toh Ramadhan terus berjalan hingga berujung di Hari Idul Fitri.

Maaf kalo tiga tahun terakhir saya jarang ngumbar kata-kata di blog ini. Tapi justru karena itu saya agak percaya diri bahwa saya tidak banyak bikin dosa, hehe.

Resolusi lebaran kali ini adalah saya akan mencoba lebih sering lagi menulis di sini...semoga segera terwujud.

Tapi sebelumnya, maaf lahir batin dulu ya...

Thursday, September 18, 2008

Profesionalisme?

Anda menemukan iklan di koran mengenai program pasang telepon kabel gratis untuk memperingati hari kemerdekaan RI yang ditawarkan oleh perusahaan telekomunikasi milik negara. Anda lalu bergegas mendaftar. Sampai minggu ke-tiga tidak ada kabar berita. Tiba-tiba anda ditelpon oleh seorang “oknum” yang mengaku sebagai surveyor di perusahaan negara tersebut. Pertama tentu senang kan, mengira bahwa ada kabar baik tentang pendaftaran anda. Ternyata sebaliknya. Si “oknum” berpanjang lebar menjelaskan bahwa jalur telepon di sekitar rumah anda sudah habis dan kalau memang masih berminat untuk memasang telepon kabel anda harus menarik kabel sendiri dan biayanya “satu setengah juta, bu”. Sebelnya lagi, sehari setelah menerima telepon dari “oknum” tersebut anda mendengar bahwa dua orang tetangga yang rumahnya persis di belakang anda malah sudah mendapat sambungan tanpa uang “satu setengah juta”.

Bagaimana caranya melampiaskan kedongkolan anda? Saya sih langsung mutung (patah arang), ngapain juga ikut permainan mereka, penyedia jasa telkom yang lain masih banyak. Tapi suami saya lebih strategis dalam mengelola tekanan darahnya yang tinggi. Dia balik “meneror” pihak BUMN tersebut dengan terus menelpon dan sedikit bluffing mau menulis kasus ‘percobaan penipuan’ ini di surat pembaca sebuah koran lokal. Hasilnya: seminggu kemudian telepon sudah terpasang di rumah kami hanya dengan membayar sembilan-puluh-sembilan-ribu-rupiah instead of “satu setengah juta”. Who’s the pro, bro?

Monday, January 21, 2008

Negeri Perempuan

Kepenatan kadang membuat saya melamun....

Tentang sebuah kisah imajiner: negeri yang dikuasai perempuan. Baru seratus tahun sebelumnya nenek-nenek dari perempuan-perempuan yang sekarang berkuasa ini adalah warga negara yang selalu dipinggirkan dan diberangus hak-hak ekonomi, politis, sosial, budaya, spiritual, dan seksualnya. Hingga muncullah seorang heroine—jangan dibayangkan serupa Xena atau Joan d’Arc yang gagah berani untuk berperang—melainkan seorang perempuan lemah yang sudah berulang kali ditipu dan dipukuli suaminya. Baginya dunia adalah perang tak henti antara dirinya dan suaminya. Sampai akhirnya dia tahu dia tidak sendiri sehingga dunia baginya berubah menjadi perang tak henti antara laki-laki dan perempuan.

Mereka, perempuan-perempuan itu, lantas berkumpul dan berpendapat secara sembunyi-sembunyi—karena seratus tahun sebelumnya hak-hak untuk berkumpul dan berpendapat hanya diberikan kepada para laki-laki. Mereka pun menyusun siasat perang. Perlawanan yang dirundingkan secara gerilya oleh para perempuan pejuang ini pun tidak kalah subtil; di dapur, di kasur dan di sumur—tempat-tempat dimana seratus tahun sebelumnya merupakan dunia yang diciptakan untuk mereka, hanya untuk mereka. Mereka mogok seks, mogok masak, dan mogok mencuci baju. Sehingga para laki-laki yang biasanya bisa tenang bekerja dan bermain menjadi gelisah karena bajunya kotor semua, pusing karena berhari-hari tidak dapat jatah di tempat tidur (jangan lupa: para perempuan pekerja seks komersial juga mogok), dan tentu saja kelaparan. Dalam kelemahan itulah, dan ketidaktahuan akan apa yang terjadi, perempuan muncul merebut kekuasaan.

Lalu apa yang sebaiknya kita lakukan kepada mereka? Tanya sebagian perempuan. Sebagian langsung menjawab: hukum cambuk! Diarak bugil! Denda 100 juta kali 100 (seratus tahun sebelumnya angka seratus juta ini sungguh besar)! Tapi seseorang berpikir hukuman seperti yang disebutkan itu hanya bersifat reaksioner dan tidak akan dapat membuat kekuasaan mereka menjadi lebih kuat. Kita rubah undang-undang dan peraturannya saja! Karena itulah alat kekuasaan kita yang akan berumur panjang! Ya! Ya! Undang-undang Perkawinan saja! Undang-undang anti Pornografi! Undang-undang anti kekerasan domestik direvisi juga: tambahkan hukuman bagi laki-laki pemerkosa! Peraturan daerah anti pelacuran juga!

Penjara dengan segera menjadi penuh karena perempuan-perempuan yang dulunya dipukuli, diperkosa, diperas keringatnya segera mengadukan kasus mereka pada persidangan yang juga dipimpin oleh perempuan.

Jika imajinasi meliar, siapa yang bisa melarang? hehehe.....

Tuesday, August 28, 2007

enz., enz.,

"Asap PG Madukismo, penyiksaan TKI, penculikan anak, gono-gini 27 trilyun, gelombang cinta versus harga minyak goreng, permen import berformalin, sinetron, iklan pemutih kulit, extravaganza, kolesterol tinggi, pameran pembangunan di JEC, oseng-oseng ceker, enz."

Itu tadi sebagian dari isu-isu (atau gosip-gosip??) yang sebetulnya sangat ingin saya tulis di blog yang udah lama tidak saya up date ini. Tapi kok ya ga jadi tertulis?

Ternyata butuh persiapan juga untuk menulis di blog ya??

Tuesday, April 24, 2007

Kotaku

Sudah seminggu tinggal di Yogya lagi. Seneng sekali karena kembali dikelilingi ibu dan saudara-saudara. Kepanasan sampai sakit, mungkin karena dehidrasi atau mungkin karena berhari-hari tidur kepanasan. Terkaget-kaget dengan sepeda motor yang semakin memenuhi jalanan dibandingkan tiga tahun lalu (apalagi setelah lebih dari tiga tahun dikelilingi sepeda onthel di Leiden), harga barang-barang yang tidak jauh beda dengan di Belanda, dan tentu saja iklan pemutih kulit di televisi yang tiada hentinya (yang tidak pernah saya lihat di televisi Belanda).

Begitu tiba langsung menyantap bakso pedas, pecel madiun yang juga pedas, mihun goreng sorwaru, dengan cabe dan acar, di Bantul, gudeg dengan kreceknya yang pedes, dan jajanan pasar. Hasilnya: gantian perut yang terkaget-kaget, hehe..... Tapi saya tidak menyerah dan sedang berencana makan empek-empek di belakang Ramai yang enak dengan kuah super pedas.

Tapi saya senang sekali, Yogya memang asyik.... :).

"Ijinkan aku untuk selalu kembali ke kota(ku)".....

Monday, April 02, 2007

Komplein? Bayar!

Karena sudah mau pulang, ada begitu banyak urusan administrasi yang berhubungan dengan urusan rumah, kantor, bank, dsb, dsb. Sebetulnya sejak pindah ke rumah baru sebulan lalu saya sudah menyelesaikan banyak urusan administrasi dengan perusahaan air, listrik, dan telekomunikasi. Jika dari dua perusahaan yang pertama saya sebut di atas saya tidak lagi dapat tagihan, dari perusahaan telekomunikasi mereka masih "keenakan" ngambil duit secara otomatis dari rekening saya. Waktu melihat bulan ini saya masih ditagih, saya jadi sebel sekali.

Ini bukan pertama kali saya ada masalah dengan Casema, perusahaan telekomunikasi yang menyediakan pelayanan televisi kabel, telepon dan Internet di rumah lama saya. Dan rupanya saya telat tahu tentang buruknya pelayanan mereka karena ketika saya sempat ngeluh dengan beberapa teman, mereka malahan menertawakan saya.

Waktu pertama kali mendaftar jadi pelanggan saya hanya mengambil pelayanan televisi dan radio saja. Sebenarnya 'keanehan' sudah muncul dari awal. Bulan pertama mereka langsung menagih saya padahal televisi di rumah saja sama sekali belum tersambung. Saya terpaksa membuat komplein. Baru mereka menyadari, lalu saya disuruh menunggu pemasangan. Bulan berikutnya saya tidak harus membayar iuran.

Lalu setahun berikutnya saya pindah alamat. Saya sudah bikin laporan tertulis dan petugas mereka juga sudah menelepon saya untuk memastikan kepindahan alamat ini. Tapi beberapa bulan kemudian, ketika saya mencoba menambah langganan service dengan Internet dan digital telefon, ternyata mereka (bagian administrasi) mengirim petugas intalasi ke rumah lama saya. Inipun setelah melalui prosedur yang berbelit: beberapa kali saya mengirim formulir pendaftaran dan beberapa kali pula mereka membuat janji pemasangan dan mengingkarinya. Waktu itu saya sampai harus meminta bantuan seorang teman lokal supaya bisa komplein dalam bahasa lokal pula :).

Lalu tiba-tiba suatu hari semua service di rumah mati: tidak ada televisi, telefon mati, Internet putus. Saya tunggu dua hari masih sama saja. Lalu terpaksa saya telepon. Dengan berat hati karena saya terpaksa harus menelepon jalur costumer service mereka yang sama sekali tidak ramah pelanggan karena ratenya mahal sekali, apalagi jika lewat HP. Akhirnya saya bisa tersambung dengan bagian customer service dan mendapatkan informasi bahwa bagian administrasi menerima 'wrong message' untuk memutuskan sambungan saya dan terlanjur sudah mengirim pesan ini kepada instalator sebelum akhirnya menyadari bahwa ini adalah kesalahan.

Lho, lha ngerti salah kok ya tetap saja tidak berinisiatif langsung diperbaiki sendiri tapi mesti menunggu pelanggan komplein dulu. Saya harus mengeluarkan 12euro (untuk pembicaraan sekitar 15 menit) untuk menyelesaikan masalah ini (dengan uang yang sama saya bisa menelepon ibu saya di Yogya lewat yahoo messenger selama tiga jam!).

Lalu yang terakhir ini adalah ketika saya mau menutup semua langganan saya karena mau pindah alamat. Pertama saya menulis surat pemberitahuan. Tidak ada respon. Lalu, sebulan berikutnya, atau dua minggu sebelum saya pindah, saya terpaksa menelepon untuk menanyakan prosedur ini. Dari petugas administrasi saya mendapatkan jawaban bahwa semua sudah dicatat, kapan saya akan berhenti dan bahwa hak otomatis inkasonya juga dicabut.

Ternyata sebulan berikutnya, setelah selama sebulan saya pindah rumah dan tidak mendapatkan service mereka lagi, uang saya masih ditariknya. Saya jengkel sekali karena tidak ada pilihan lain kecuali harus menelepon mereka dan harus memakai HP lagi karena di rumah baru tidak ada telepon. Saya menelepon dan petugas administrasi mengatakan ada kesalahan pada pihak mereka. Mereka berjanji akan mengembalikan kredit yang sudah ditarik dari rekening saya. Tapi saya sudah mengeluarkan 10 euro hanya untuk bicara 10 menit. Lalu siapa yang akan mengembalikan ongkos telpon ini?

Wednesday, March 28, 2007

Pulang

Sebentar lagi saya harus pulang, mungkin bukan harus, tapi lebih memilih untuk pulang.

Permohonan perpanjangan visa yang saya kirim ke IND (pernah saya posting) delapan bulan lalu baru seminggu ini ditolak. Konsekuensinya: saya harus pulang dalam waktu 'vier weken' (empat minggu) plus '28 dagen' (28 hari) atau saya mengajukan banding. Tapi pilihan kedua bukan favorit saya karena saya harus menyiapkan energi dan waktu yang tidak tahu sampai kapan untuk itu. Even to think about it is already exhausting.

Setidaknya saya belajar banyak bagaimana kantor imigrasi Belanda bekerja: mereka membutuhkan waktu delapan bulan untuk 'mendepak' seseorang dan hanya memberikan empat minggu pada orang tersebut untuk mempersiapkan bahan appeal, atau selanjutnya 28 hari untuk berkemas dan pergi. Berapa banyak hak dan privilege dari seseorang yang hilang karena proses menunggu keputusan itu, sama sekali mereka tidak pikirkan. Bayangkan, hampir separuh waktu yang sebetulnya menjadi hak saya untuk memiliki ijin tinggal hilang begitu saja, berarti juga begitu banyak privilege saya ikut hilang.

Saya sedang menyusun surat keberatan, walaupun sebetulnya saya tidak peduli lagi dengan hasilnya dan mau cepat-cepat pergi saja. Mungkin anda bisa memberikan masukan apa yang harus saya tulis disitu?